kartel

Kartel dan Orang Ketiga yang Oportunis

30/03/2017 204 0 0

Kartel. Berbuat jahat adalah ketrampilan manusia, yang bahkan muncul tanpa perlu dilatih. Meskipun Mensius telah jauh-jauh hari mengklaim bahwa kodrat manusia pada dasarnya baik. Hanya saja lingkungan, pendidikan, dan budaya bisa merusaknya.

Memang sih, pendapat tersebut belum final, karena Hsun Tzu berpendapat sebaliknya; Manusia itu pada dasarnya jahat, makanya dia harus masuk ke UMP supaya jadi baik.

Tapi gini, kita tak perlu terjebak pada perdebatan klasik semacam itu lagi. Berdebat manusia pada dasarnya baik atau buruk itu seperti menebak MU atau Arsenal yang akan juara Liga Inggris musim ini. Sia-sia. Intinya hari ini kejahatan itu ada. Maka dengan seperangkat nilai yang kita miliki, kita patut menghalaunya.

Dan sebelum kita menghalau segala bentuk kejahatan itu, saya mengajak kita semua melihat hasil kejahatan kontemporer; persekongkolan korporasi. Ya sapa tau situ tertarik, kan? Tentu itu nanti kalo sudah punya modal buat jadi kapitalis.

Beberapa bulan lalu, kita dikagetkan dengan temuan Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau sering disebut KPPU. Komisi yang dikepalai oleh Om Syarkawi tersebut menemukan indikasi persengkongkolan jahat antara dua raksasa produsen motor: Honda dan Yamaha.

Honda dan Yamaha didakwa melakukan sindikasi kartel dengan menyepakati harga jual motor metik. Dari yang seharusnya di angka 9-10 juta menjadi 15 hingga 17 juta. Edyaan.

Kecurigaan bermula dari kompaknya duo pabrikan tersebut dalam menaikkan harga matik buatannya. Kemudian sejak 2014 lalu dilakukan penyidikan yang berakhir denda masing masing 22,5 dan 25 milyar untuk Honda dan Yamaha.

Sanksi telah diketok palu. Keadilan seolah telah menang. Dan ditengah kengotoan duo Honda-Yamaha yang sibuk meyakinkan publik bahwa mereka tidak curang, kita, para konsumen, juga telah merasa menang.

Laopo lagi, mereka telah dijatuhi hukuman denda yang jumlahnya cukup untuk mentlaktir seluruh mahasiswa UMP selama 7 bulan penuh di warung Bi Tum je.

Sebenarnya angka itu tak seberapa dibanding untung yang mereka teguk. Hitung hitunganya sederhana. Pada 2015 lalu Honda mencetak penjualan fantastis dengan 3.750.816 unit matic terjual.

Sementara Yamaha membuntuti dengan 815.984 motor matic. Kalo angka angka itu dikalikan selisih harga semestinya dengan harga kartel, umpamanya 5 juta saja, itu cukup untuk membuat kalkulator di telpon pintarmu jadi ngaku goblok.

Yah, nilainya mencapai triliunan rupiah.

Kartel memang menjadi salah satu resiko dari liberasi ekonomi yang menyandarkan semua pada kekuatan uang. Di negara kita, negara hanya jadi orang ketiga di antara produsen dan konsumen. Oleh karenanya perlu diminimalisir kehadirannya.

Negara yang cuma orang ketiga ini, justru mencoba mengeruk keuntungan dari dua pihak. Membiarkan rakyat miskin atau pengusaha kecil berhadapan langsung dengan korporat besar. Bertarung memperebutkan beras hingga gas. Sambil memperhatikan siapa yang bisa diminta hartanya.

Soal motor metik umpamanya, setelah pajak dari konsumen dan produsen didapat, negara ini tampil sebagai seperti pahlawan yang membongkar jaringan kartel. Selepas itu, mendendanya dengan jumlah ala kadarnya. Jika sudah, harga tak turun tak jadi soal. Semacam jika sudah dipenjara, nyolong ayam lagi tak masalah tanpa perlu takut akan ditangkap lagi. Syeempak!

Comments

comments

Tags: Featured, harga motor honda, harga motor yamaha, harga sepeda motor, honda, kartel, motor matic, yamaha Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.