Lambang_PKI

Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita

20/09/2017 324 0 1

Lambang_PKI

Pisang ketusuk juga bisa jadi ideolohi

Prajurit yang hidup di daerah konflik, akan menghabiskan hari dengan penuh rasa takut. Takut kena peluru, ledakan mortar hingga takut jadi target bidikan rudal. Kombatan yang bertempur di Yaman, Palestina, Irak dan Suriah pasti merasakan itu. Karena musuh jelas wujudnya, ada dimana-mana jadi harus selalu siaga.

Tapi kita tidak harus membuat perang untuk menciptakan rasa takut. Juga tidak perlu mengundang teroris dari timur tengah untuk memelihara rasa ketakutan. Kita cukup membayangkan punya musuh yang selalu mengancam sehingga kita selalu siap siaga. Lalu akan mudah bereaksi jika ada sesuatu yang dianggap ancaman.

Orang-orang yang membubarkan paksa diskusi di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Jakarta, adalah contoh mereka yang berimajinasi memiliki musuh. Mereka berimajinasi musuh mereka adalah kegiatan diskusi atau agenda seni budaya seperti yang dilakukan LBH. Yang paling repot tentu saat mereka mulai memusuhi ilmu pengetahuan dan menyerang orang-orang yang mencoba berpikir mendapat ilmu.

Musuh imajiner memang bisa dalam bentuk apa saja. Mulai dari hantu jeruk purut, arwah jangkrik, undangan pernikahan mantan, hingga kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Jika Anda takut pada hantu, mungkin Anda akan segan keluar malam dan mulai menghafal ayat kursi jika terpaksa melakukannya. Hanya saja jika yang Anda takuti adalah PKI, Anda akan semakin berani keluar malam. Untuk membubarkan orang diskusi tentu saja.

Seorang mantan jenderal, Kivlan Zein, pernah mengklaim  anggota PKI kini sudah berjumlah 15 juta orang. Ormas nganu juga telah melakukan deteksi dini kebangkitan komunisme yang menyamar dalam gerakan pro rakyat jelata atau munculnya gambar palu arit di kepala ikan. Soal klaim mereka, Anda tidak perlu minta bukti. Karena imajinasi memang sulit dibuktikan.

Masuk di bulan September isu kebangkitan PKI kembali menghangat. Karena bulan ini, bangsa Indonesia punya babak sejarah yang getir. Sebagian orang menuduh PKI sebagai dalang pemberontakan, sebagian lagi menuding PKI hanyalah kambing hitam. Akal-akalan elit orde baru untuk naik berkuasa. Kita tidak tahu versi mana yang benar, ini memang masih misteri.

Jenderal Gatot Nurmantyo memerintahkan serdadu untuk menonton film penghiatan G30/S PKI. Para pemuda juga dianjurkan menonton film yang sama, agar bisa memahami sejarah dengan benar. Ini tentu boleh-boleh saja. Kita juga tidak perlu protes, asal menonton film “Buru tanah air beta”, “The act of killing”, “Senyap” juga diperbolehkan. Syukur-syukur dianjurkan. Sehingga versi sejarah tidak tunggal.

Sejarah yang dominan saat ini adalah sejarah versi penguasa. Rezim selalu menghalangi hadirnya wacana sejarah alternatif. Bahkan menjadikannya sebagai musuh imajiner, yang mengancam keutuhan bangsa hingga iman anak manusia. Pembubaran kegiatan diskusi di LBH tentu hanya salah satu contoh saja, dan belum tentu yang terakhir. Karena selama masih ada yang mengimani kebangkitan hantu PKI, pembubaran akan terus terjadi.

Musuh imajiner, secara objektif tidak perlu harus benar-benar berbahaya. Kecebong dan curut di loteng kosan, jika mau, juga bisa jadi musuh. Tapi dengan propaganda secara massif, suatu yang sejatinya lemah bisa dianggap berbahaya. Seorang jenderal pernah bilang LGBT lebih berbahaya dari nuklir. Padahal kaum homoseksual tidak akan membunuhi atau mengajak anda berkelahi hanya karena perbedaan cara penggunaan kelamin.

Hal serupa juga dinsibatkan pada sekelompok orang yang mencoba menawarkan sejarah alternatif. Tapi dengan  framing bahaya kebangkitan PKI dan komunisme mereka dianggap berbahaya. Dituding menyebar paham komunisme dan lain-lain. Padahal, kalau dinalar, apa bahayanya kelompok diskusi itu. Memangnya mereka benar-benar menyebarkan paham komunisme? Tidak, bukan?.

Tapi kenapa kok dianggap berbahaya? Saya juga tidak tahu. Silahkan tanya pada para jenderal tua itu.

Strategi musuh imajiner memang jamak digunakan oleh rezim fasis, mulai Falange di Spanyol hingga Nazi di Jerman. Kaki tangan fasis hitler melakukan proganda bahwa orang Yahudi sebagai golongan yang berbahaya. Orang cacat juga kaum homoseksual juga dianggap ancaman kemurnian ras Arya. Maka mereka kemudian dihabisi dengan cara-cara paling bar-bar. Padahal, secara objektif orang Yahudi, kaum homoseksual apalagi orang cacat sejatinya kaum minoritas, yang tidak berbahaya.

Tapi menciptakan musuh imajiner, adalah cara kerja khas orang-orang fasis. Dengan propaganda musuh imajiner dianggap benar-benar ada, sehingga masyarakat hidup dalam ketakutan. Lalu mereka mengeksploitasi ketakutan itu untuk kepentingan mereka sendiri. Dan di Indonesia, salah satu musuh imajiner primadona ya PKI.

Anda mungkin bingung bagaimana caranya PKI bisa kembali bangkit. Dan bagaimana mereka menyusun kekuatan dan menjadi berbahaya. Tapi bagi mereka, menjelaskan bagaimana PKI bangkit itu jauh lebih mudah ketimbang menjelaskan kebangkitan AC Milan. Kebangkitan Liverpool juga Arsenal. Bagi mereka apapun bisa dibangkit, kecuali kecerdasan.

Comments

comments

Tags: G30S, Kebangkitan PKI, Kivlan Zein, LBH Jakarta, Pembubaran Diskusi, Senyap, The Act of Killing Categories: esensiana, Kiri
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aef Nandi Setiawan Aef Nandi Setiawan

Founder & GM Indonesian Creative Coop Researcher at Kopkun Institute Vice Secretary at Natural resources department HMI Badko Jateng - DIY

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.