Kebangkitan Umat Islam : Sebuah Pengantar

Mencermati geliat umat Islam pada beberapa waktu terakhir ini, membuat khawatir sekaligus bangga. Membanggakan, melihat kesadaran umat Islam tercipta dengan semangat ingin memperbaiki, tetapi sekaligus mengkhawatirkan karena kesadaran yang dibangun tidak berdasar pada pemahaman yang utuh. Kerapkali umat muslim yang mencoba melawan penindasan atasnya seperti memukuli bayangan pada ruang kosong; ia justru sibuk berkelahi dengan bayangan musuh yang diciptakan sendiri.

Rangkaian aksi-aksi damai lalu umpanya, gelombang protes atas ucapan Ahok sangat tendensius dan bau anyir politik. Itu terbukti dari lenturnnya tuntutan jaksa hingga kesaksian para saksi yang mudah dipatahkan. Isu haram memilih pemimpin non muslim pun terkesan parsial karena seolah hanya berlaku di Jakarta, sementara ada daerah di mana partai-partai Islam malah mengusung calon kepala daerah non muslim.

Sayangnya, oleh sebagian orang, protes berbau politik itulah yang dianggap sebagai kebangkitan umat Islam. Dengan mobilisasi massa, muslim mencoba menunjukkan semangatnya melawan kelaliman. Tak lupa sebagai penyulut “api jihad”, romantisme masa lalu berupa kemenangan Islam dalam perang melawan salibis dibangkitkan. Seolah yang terjadi bukanlah Pilkada, melainkan peperangan umat Islam yang merasa di dzolimi melawan penguasa kafir nan jahat yang siap merusak akidah umat Islam.

Dari sinilah perjuangan yang dimaknai sebagai kebangkitan umat Islam menjadi bias, SARA dan justru menimbulkan antipati kelompok lain. Karena konsep Islam yang rahmatan lil ‘alamin tereduksi tinggal hanya rahmatan lil muslimin itupun hanya pada kelompok muslim tertentu.

Tentu tidak ada yang salah jika umat Islam memilih terjun dalam dunia politik praktis, tetapi juga tidak dibenarkan jika kepentingan politik praktis tersebut digapai dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang dalam berbangsa. Perlawanan politik yang dilakukan dengan menggoreng isu SARA sangat mahal “ongkosnya” bagi kehidupan bernegara. Sebenarnya jika tokoh muslim yang diajukan memiliki rekam jejak bagus, memiliki integritas, dan visi yang memadai, maka pemilih tak perlu diajari untuk memilih siapa.

Jika dicermati lebih jauh bahkan umat Islam terkesan hanya menjadi bidak politik para elit. Jumlah massa yang banyak tak ubahnya gumpalan awan di langit, terarak ke sana kemari mengikuti arah angin kepentingan.

Menjelaskan fenomena di atas, Anto Sangadji dalam tulisan berjudul Kontradiksi Kapitalisme dan Rasisme menuliskan begini “kendati mayoritas kelas pekerja merasakan keterpurukan, mereka tidak memahami kapitalisme sebagai akar penyebab. Sebagian bahkan mungkin menerimanya sebagai takdir. Ketidak-tahuan tentang akar masalah menjadi kian dalam karena berbagai institusi di dalam masyarakat kapitalis – partai politik, pendidikan – dengan satu dan lain cara mereproduksi kesadaran naif. Yang paling manjur adalah kesadaran identitas agama dan suku. Para politisi borjuis mengeksploitasi identitas sebagai ideologi politik untuk perebutan kekuasaan…

Kelas pekerja di sini berarti masyarakat kelas bawah yang pada praktik ekonomi cenderung diperas oleh sistem ekonomi dan kekuasaan. Mereka yang selama ini tertindas oleh arogansi penguasa—yang telah berselingkuh dengan pemodal—dalam, misal, penggusuran serta ketidakmampuannya mencukupi kebutuhan ekonomi ini kemudian mencoba melawan. Kesemua perlawanan itu kemudian menemukan pemantiknya pada Pilkada melalui sentimen agama dan ras. Ahok yang Kristen dan China adalah dua alat bukti yang shahih untuk dijadikan musuh.

Anggapan bahwa perlawan pada Ahok merupakan sentiman politik-ekonomi menemukan kebenaranya setelah Pemilu dihelat. Peta dukungan politik menjawab itu secara gamblang. Ahok justru menang di Pulau Seribu tempat kasus dugaan penodaan agama terjadi. Dan di petamburan yang merupakan daerah markas besar FPI. Hal ini karena secara ekonomi masyarakat pulau Seribu merasa sudah terbantu dengan program kerja Ahok di sana. Sementara di wilayah-wilayah yang mengalami penggusuran, minus Kalijodo, suara Ahok tumbang.

Tetapi terelepas dari apapun kepentinganya, wacana persatuan Umat Islam patut diapreasiasi dan mendapat dukungan dari segenap pemeluknya. Islam sebagai agama penutup agama samawi memang memberikan perhatian khusus pada isu-isu ekonomi dan kemanusiaan. Bahkan menurut para Fuqaha, relasi manusia dengan Tuhannya dalam Islam mendasarkan pada prinsip kemahamurah-hatian (Allah), sedangkan relasi manusia dengan makhluk lain berdiri dalam prinsip penegakkan keadilan yang ketat serta perlindungan.

Sejarah membuktikan bahwa kehancuran umat manusia lebih disebabkan pada dosa sosial yang mereka buat. Umat Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, dan Nabi Syu’ayb dibinasakan, sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an, karena mereka dzalim pada manusia dan menyakiti makhluk Allah. Untuk itu menjaga martabat semua makhluk Allah adalah sesuatu yang harus disegerakan. Karena memang untuk itulah manusia diturunkan ke bumi; khalifatul ard.

Hingga hari ini, jutaan penduduk Indonesia yang bergama Islam seolah terserak dan tersekat dalam ruang-ruang organisasi keislaman. Banyak yang lainya bahkan terasingkan dalam pergumulan kehidupan berbangsa. Maka jika alumni Aksi Bela Islam, begitu mereka menamai dirinya sendiri, hendak membentuk suatu lembaga ekonomi-bisnis lintas organisasi dan madzhab tentu adalah hal yang visioner dan waijb didukung.

Hanya saja, sebagaimana telah disinggung di atas, perlawanan umat Islam pada kapitalisme jangan sampai hanya mengganti kapitalis lama dengan kapitalis baru. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kapitalisme mampu merasuki agama apa saja. Mengingat selama ini juga sudah banyak bertebaran konglomerat muslim di negeri ini.

Tokoh seperti Abu Rizal Bakrie, Erick Tohir, bahkan Sandiaga Uno yang namanya sempat terseret dalam kasus Panama Papers adalah sederet nama muslim yang kaya raya. Tetapi signifikansinya pada kekuatan ekonomi umat Islam amat sedikit. Apa pasal? Filosofi ekonomi yang mereka anut sama dengan yang non muslim sekalipun; menumpuk kekayaan pribadi.

Wacana pendirian berbagai centrum bisnis umat Islam jangan sampai hanya menggeser dominasi kapitalis non muslim kepada kapitalis muslim, minus pemerataan. Jika sudah begini maka tentu nasib jutaan umat Islam yang selama ini kalah dalam perebutan sumber-sumber ekonomi akan sama saja. Mereka seolah berjuang menghindari terkaman buaya dengan menggandeng macan yang suatu saat juga akan memangsanya.

Melawan dominasi ritel waralaba sekelas Indomart dan Alfamart misalnya, tidak cukup dengan hanya menghadirkan toko serupa dengan nama Islami seperti muslim mart, atau barokah mart. Jika hanya dimiliki dan dinikmati oleh segelintir kelompok muslim saja tentu sama saja. Penggunaan dalil dalil ataupun nama-nama Islami justru menjadi psuedo religi yang satu tingkat lebih kejam dari kapitalisme biasa.

Konsep membangun sentra bisnis tadi harus mengedepankan asas pemerataan dan keadilan. Caranya dapat ditempuh dengan melibatkan masyarakat muslim—yang paling miskin sekalipun—memiliki sahamnya. Dengan begitu kakayaan akan terdistribusi merata. Dan kita dapat dikategorikan telah mengimani dengan sebenar-benarnya iman firman Allah pada surat Al Asyr ayat tujuh yang berbunyi “…supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu..”

Sejarah kelahiran Islam sendiri adalah sejarah perlawanan pada kesembronoan relasi antara tuan dan budak pada zaman jahiliyah. Sejak Nabi Muhammad memperkenalkan ajaran Islam kelompok mapan Arab tempo dulu merasa terusik. Terutama pada dogma: Semua manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah, yang membedakan adalah ketakwaanya. Dogma ini merupakan ancaman serius bagi orang-orang kaya dan penguasa Arab yang memanfaatkan kelas-kelas sosial kala itu untuk menumpuk kekayaan dan melanggengkan kekuasaan.

Pada kasus Abu Jahal misalnya, jamak kita ketahui bahwa ia adalah orang terpandang yang juga merupakan penguasa suku Quraisy. Perlawanan keras Abu Jahal pada dakwah Nabi kuat dilatarbelakangi kekhawatiran  akan kehancuran mesin ekonominya serta adanya persaingan antar suku. Bagi Abu Jahal, mengakui kenabian Muhammad berarti melambangkan ketundukan suku Quraisy terhadap Bani Muthalib.

Tetapi memang emas seringkali ditemukan pada hamparan pasir. Ditengah kejahiliyahan umat kala itu, ada nama seperti Abdurrahman bin Awf, Thalhah ibn ‘Ubaydillah, Utsman ibn ‘Affan, dan beberapa tokoh kaya lain yang rela mendermakan hartanya untuk kemajuan dakwah Islam.

Abu Bakar bahkan menyedekahkan seluruh hartanya untuk perjuangan umat muslim kala itu. Jika kaum kaya muslim saat ini susah meniru mereka secara penuh maka paling tidak jangan memeras terlalu kuat. Berikan gaji layak untuk para pekerja terlepas dari apapun keyakinannya. Syukur syukur bisa memberi kesempatan pada para buruh yang bekerja diperusahaan untuk memiliki sedikit sahamnya. Agar para buruh bisa sesekali merasakan piknik dan lantang berteriak; “Jangan di pabrik saja, alam Indonesia ini indah broo..!”

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga