Kebumen, Sampah, dan Pemberdayaan Komunitas

Kebumen, Sampah dan Pemberdayaan Komunitas. Sore itu ada pemandangan yang berbeda di pantai Setrojenar Kebumen. Pada 21 Februari lalu tampak ratusan anak muda memadati pantai sambil merunduk memunguti sampah. Mereka juga tampak memilah sampah yang berserak di sepanjang pantai yang terletak di desa Bocor Kebumen tersebut. Tak butuh waktu lama, trash bag yang sudah mereka persiapkan terisi penuh oleh sampah yang “menghiasi” Pantai tersebut.

Rupanya dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada 21 Fabruari lalu, ratusan pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi pecinta alam di Kebumen sedang menggelar aksi Pungut Sampah. Aksi tersebut mereka pilih sebagai upaya meningkatkan keindahan alam Kebumen sekaligus langkah edukasi masyarakat terkait sampah. Hal tersebut mendesak dilakukan mengingat rendahnya kesadaran bersama membuat sampah seolah menjadi musuh utama lingkungan.

Menariknya acara yang digelar di Pantai tersebut justru digagas oleh mereka yang sering mendaki gunung. Yang kita tahu, keduanya, berjauhan.

Saat dihubungi tim esensiana.com, Saryono, selaku ketua aksi, mengatakan bahwa meski dirinya dan tim tidak pernah membatasi semangat melestarikan alam. Meski mereka tergabung dalam komunitas pendaki, kepedulian terhadap pantai sekalipun harus tetap terjaga. Lagipula, menurut mereka, di Kebumen tidak terdapat cukup gunung.

Pendaki Indonesia Korwil Kebumen selaku penggagas acara menganggap persoalan sampah sebagai ancaman bagi berkembangnya potensi wisata pantai di Kabupaten Kebumen.

Mereka mengharapkan agar acara semacam itu bisa terus dilakukan di berbagai tempat oleh berbagai elemen masyarakat guna kelestarian dan keindahan alam. Sementara alasan memilih pantai Setrojenar dikarenakan pantai tersebut masih dikelola warga dan ramai pengunjung. Dengan begitu dapat meningkatkan keindahan pantai yang diharapkan mampu mendongkrak jumlah pengunjung. Selain itu tentu juga agar edukasi semakin efisien dan massif.

Tergabung dalam aksi tersebut adalah PI (Pendaki Indonesia), MAPALA “TRABAS” STIE PUTRA BANGSA, MAPALA “PALASIGO” STIKES GOMBONG, MAPALA IAINU KEBUMEN, MAPALA “MATA JALA” UMNU KEBUMEN, MAPALA “DHARTAPALA” POLITEKNIK DHARMA PATRIA KEBUMEN, MAPALA AMIK PGRI KEBUMEN, UPL (Unit Peduli Lingkungan) UMNU KEBUMEN, SISPALA SMA 2 KEBUMEN , KEPARAT (Kebumen Punya Anak Rantau), BK (Berita Kebumen), Komunitas KSC (Kebumen Sosial Care)  dan masyarakat sekitar.

Di Indonesia, persoalan sampah sendiri bukanlah perkara sepele. Saat ini kita berada di peringkat dua sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Dengan produksi sampah yang mencapai 64 juta ton per tahun kita hanya satu tingkat lebih baik dari China selaku penghasil sampah terbanyak dunia.

Yang lebih mengerikan 14% dari total sampah yang ada adalah sampah plastik. Dengan angka itu maka dalam waktu satu tahun saja, akan ada 9,52 juta ton sampah plastik. Untuk memberi gambaran seberapa banyakkah sampah 9,52 juta ton itu Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) melaporkan dalam setahun akan  mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik. Jumlah tersebut setara dengan 60 kali luas lapangan sepak bola di Stadion Chandradimuko.

Jadi tanpa penanganan serius dalam 10 tahun ke depan kita akan memimiliki 600 lapangan sampah.

Padahal kita tahu untuk membuat sampah platsik terdegradasi tanah, sebagaimana dilansir situs bio.unsoed.ac.id, membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun. Sampah plastik misalnya, memerlukan waktu 10 sampai 20 tahun untuk mengurainya. Sementara botol plastik membutuhkan waktu 50 sampai 100 tahun. Sampah sterofom lebih edyan lagi, ia membutuhkan waktu sampai 500 tahun untuk terdegradasi.

Dengan begitu untuk bisa membuat sampah, umpamanya, kantong plastik terurai tanah saja, kita memerlukan waktu setara dengan  5.082 kali bolak-balik ke bulan dengan menggunakan pesawat New Horizon milik NASA.

Comments(3)

  1. 27/02/2017
    • 27/02/2017
  2. Kangtoer
    01/03/2017

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga