Ada Apa dengan Make Up?

Siswi ber-Make up

Dandan, boleh jadi, sebagian dari iman

Hampir setiap hari dalam seminggu, jalanan selalu dipenuhi oleh beragam rombongan anak-anak yang berangkat sekolah sesuai dengan usia dan kelasnya. Ada kelas unyu-unyu yang didandani sang ibu hanya dengan bedak tabur. Wajah khas melayu yang kecoklatan itu, harus cemong dengan bedak warna putih yang ditempel asal, tidak rata. Belum lagi, ada yang blepotan minyak di sekitar mulutnya karena habis makan gorengan.

Kelas lain dengan gaya khas anak baru gede mencoba tampil keren meski masih malu-malu memakai seragam biru putih. Pakaiannya sudah rapi sehabis disetrika dengan sepatu yang kalau bukan warna hitam akan kena razia di sekolah. Mereka sudah cukup mahir untuk memoles bedak tabur ke wajah mereka. Beberapa di antaranya juga sudah memakai lips gloss yang membuat bibir terlihat bling-bling ala polesan minyak jelantah.

Tipe terakhir adalah kelas paling tinggi. Kelas yang satu ini memiliki banyak kumpulan. Yang  merupakan kumpulan anak baik, misalnya, biasanya berpakaian rapi dengan dandanan biasa saja. Sementara kelompok lainnya, sengaja memakai seragam yang tidak sesuai aturan. Masyarakat bilang, gaya anak sekolahan yang urakan.

Di kelas ini, remaja putri sudah banyak yang mengenal beragam tata rias. Poles pipi, poles bibir, poles alis, poles bulu mata dan sebagainya. Sebab saat ini, tampil cantik sudah menjadi hal wajib. Ada standar yang telah ditetapkan oleh masyarakat tentang itu.

Juga pengaruh iklan kecantikan yang sudah seperti polusi udara. Ada dimana-mana. Tidak peduli jika nantinya akan menimbulkan kesenjangan di antara sesama perempuan. Cantik, setidaknya menurut seorang pendidik sekaligus seniman, Guruh Ramdani, adalah perpaduan yang pas antara alis, mata, hidung, dan mulut.

Kemudian hari ini, kecantikan dipersempit lagi hanya tinggal warna kulit, alis, dan pilihan baju. Pandangan cantik yang tersebar di masyarakat inilah yang menjadi patokan kebanyakan remaja perempuan. Mereka berusaha tampil cantik dengan beragam alasan yang melatarbelakangi.

Hanya saja, sangat disayangkan. Tampil cantik diusia mereka, di wilayah yang disebut sebagai lembaga pendidikan, menjadikan remaja perempuan sangat mudah sekali untuk dipandang negatif. Tidak perlu jauh-jauh. Teman sendiri bisa membicarakannya di belakang.

Orang-orang di lingkup pendidikan, beberapa menganggap bahwa sebenarnya menggunakan riasan di sekolah boleh saja, asal tidak berlebihan. Namun, ada kekhawatiran terhadap timbulnya dampak buruk ketika siswa di tingkat sekolah menengah atas sudah mengenal riasan wajah. Apalagi perlengkapan make up menambah beban pengeluaran orang tua mengingat para siswi belum memiliki penghasilan sendiri.

Kekhawatiran tersebut membuat beberapa pengajar terkadang memperbincangkan pemakaian make up oleh para pelajar perempuan. Apalagi perbedaan siswi yang memakai riasan dengan yang tidak sangat terlihat jelas. Sampai terkadang, pihak sekolah juga mengadakan razia perlengkapan make up.

Oleh karena itu, sebagian sekolah membuat peraturan tertulis dengan tujuan tertentu. Misalnya, untuk persiapan akreditasi sekolah dan menghindari persaingan atau kesenjangan di lingkungan sekolah sehingga para siswa diharapkan berpenampilan seragam dan sesuai dengan usia: kompak.

Definisi cantik telah distandardisasi oleh pihak-pihak tertentu. Standar tersebut menimbulkan dampak yang cukup signifikan. Perempuan berperan sebagai subjek utama, pun menjadi objek yang tidak boleh bebas mengekspresikan diri. Terlebih melihat pandangan yang menganggap siswi dengan make up berlebih akan menyebarkan dampak buruk. Padahal, standarisasi yang sudah mewabah ini tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Jika melihat lembaga pendidikan, terutama di sekolah menengah kejuruan yang lulusannya diharapkan dapat langsung bekerja, ( apabila tidak melanjutkan kuliah) ber-make up bisa jadi baik. Paling tidak, pelajar perempuan yang ber-make up dapat dianggap sedang melakukan persiapan sebelum memasuki dunia kerja yang sering kali menyaratkan berpenampilan menarik.

Peran guru kembali diuji sebagai pihak pendidik dan sekolah sebagai lembaga yang memayunginya. Keduanya diharapkan dapat membuat aturan yang tepat untuk menyiapkan anak didiknya. Setidaknya agar para siswi dapat melakukan sesuatu –dalam hal ini ber-make up– dengan maksud dan fungsi yang sifatnya membangun.

Comments(3)

  1. 10/08/2017
  2. Kangtoer
    12/08/2017

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga