Kelinci Manis

Akhirnya aku melihatnya lagi. Setelah beberapa lama gadis itu seperti hilang ditelan bumi. Kini aku melihatnya lagi. Saat ini dia sedang berjalan pelan sambil sedikit terseok-seok. Tidak terlihat di mataku wajah kesedihan atau kerepotan mengingat jalannya harus dibantu tongkat.

“Aisah, mau aku bantu?” dia menengok ke arahku. Raut wajahnya seperti kaget dan seperti memikirkan sesuatu. Mungkinkah dia berfikir aku mengasihaninya?

“Hai, kak Gabriel. Senang bertemu denganmu lagi.” Gadis itu seperti memaksakan seulas senyumnya. Namun sama sekali tidak terlihat sedih.

“Mau aku bantu Aisah?”

“Tidak terima kasih kak.”

“Kenapa?”

“Hanya wanita saja yang aku izinkan untuk membantuku berjalan.”

“Alasannya?”

“Kak Riel gak akan ngerti sekalipun aku jelaskan. Tapi terima kasih untuk kepedulianmu.” Dia tersenyum lagi, tapi kali ini benar-benar terlihat tulus. “Bagaimana kuliahmu?”

“Aku?” aku menggaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal, “aku sedang menunggu sidang. Puji tuhan aku telah diberikan kemudahan selama aku kuliah disini. Sebentar lagi aku akan lulus.”

“Baguslah kalau begitu.”

“Doakan  ya?”

“Buat apa? Aku rasa kakak tidak akan kesulitan. Bagiku kak Riel cukup pintar.”

“Biar aku berhasil menjadi lulusan terbaik fakultasku.”

“Amin.” Dia terlihat berbeda saat ini. Penampilannya masih sama muslimah bergaya kasual dengan jilbab warna-warni. Tidak ada yang berubah dari penampilannya. Hanya dirinya terlihat semakin strong dan entah bagaimana seperti ada suatu aura baru yang dapat kulihat dari dirinya. Mungkinkah itu yang dinamakan inear beauty? “Aku duluan dulu ya kak?” dengan jalannya yang seperti itu tidak akan mungkin dia bisa mendahului langkahku. Tapi ku hormati keinginannya. Aku mengangguk lalu berhenti membiarkannya berjalan jauh duluan seolah dia berhasil mendahuluiku.

“Gabriel,” aku lalu menoleh kearah kiriku. Disana berdiri kawanku sewaktu SMA yang beda fakultas denganku saat ini bernama Azam. “Kebetulan sekali,” batinku. Aku langsung melangkahkan kakiku ke arahnya. “Azam, apa kabar. Bagaimana skripsimu?”

“Ya, aku tinggal menunggu sidang.”

“Ya, sama. Akan lebih baik kalau kita saling mendoakan ya. Semoga semua lancar.”

“Amin.”

“Azam?”

“Ya?” aku melihat alisnya naik sebelah.

“Bolehkah aku belajar islam?”

“What? Aku tidak salah dengar?”

“Tidak. Selama ini aku hanya membaca kitabku saja. Aku penasaran dengan pegangan kalian. Aku ingin membandingkannya dengan apa yang aku pelajari. Dan…….”

“Adakah seseorang yang mendorongmu Gabriel?”

“Ya. Seseorang membuatku tertarik. Maksudku aku bisa dibuat penasaran olehnya dan entah aku ingin tahu rahasianya bisa selalu kuat menjalani apapun. Aku melihat ketenangan itu, aku penasaran.”

“Kalau kamu bersungguh-sungguh ingin mempelajarinya, aku pasti akan membantu. Nanti akan ku antar kamu dengan ustad pembimbingku. Tapi tetap, untuk saat ini kamu hanya perlu mempelajarinya saja. Untuk masalah kamu akan tetap pada keyakinanmu atau ingin berjalan dijalan islam kami tidak akan memaksa. Dalam islam kita tidak boleh memaksa seseorang untuk memaksakan kepercayaannya. Lakum dinukum waliyyadiin, agamamu agamamu agamaku agamaku.”

“Oke. Kapan kita bisa mulai belajar?”

“Sabtu ini juga bisa kalau kamu sudah siap.”

Azam membawaku pada salah satu ulama ternama. Aku tahu beliau seringkali wara wiri di berbagai chanel televisi nasional. Tak kusangka beliau sama sekali tidak keberatan membagi ilmunya padaku. Beliau begitu ramah, bahkan lebih hangat dari yang aku duga. Itu kali pertama kalinya aku tahu syarat menjadi seorang islam yang pertama adalah  shahadat yang dalam bahasa indonesianya; aku bersaksi tiada tuhan selain Alloh, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rosul utusan Alloh. Dua kalimat yang sederhana, namun saat itu beliau sama sekali tidak menyuruhku mengikuti ucapannya, beliau hanya menyuruhku mendengarkan. Awalnya aku bingung, kenapa aku sama sekali tidak disuruhnya meniraukan tapi aku diam, ku lanjutkan untuk mendengarkan hal lainnya yang mengikuti sebagai rukun islam, setelah shahadat ada sholat atau sembahyang. Seperti pemeluk agama lainnya termasuk aku, semua agama pasti melakukan sembahyang. Tapi kenapa orang islam yang melakukan sembahyang paling sering?

Aku kegereja sekiranya dua kali sembahyang dalam seminggu. Biasanya hari kamis dan hari minggu. Tapi mereka sembahyang setiap hari dan melakukannya lima kali dalam sehari. Mengapa mereka tidak merasa capai? Kemudian berlanjut lagi pada puasa. Seperti yang ku ketahui setiap tahunnya temanku yang muslim puasa wajib bulan ramadhan dan aku sesekali mengikuti puasa beberapa hari untuk menyemangati temanku tapi aku tidak tahu untuk apa gunanya? Setelah puasa kita diwajibkan membayar zakat. Lalu yang terakhir naik haji. Aku pulang dengan banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan, tapi aku ragu untuk menanyakannya. Aku takut Azam atau ustad itu tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaanku. Sepertihalnya contoh seseorang yang sedang punya masalah terlalu dikepoin oleh orang lain maka orang itu bisa marah.

Aku berjalan sambil memikirkan lima hal yang disebutkan tadi. “Taksiiiii,” aku menoleh kearah suara itu. Aisah terlihat kesulitan ketika hendak masuk ke taksi yang dia berhentikan. Aku menghentikan langkahku ketika aku hendak berniat menolongnya. Aku teringat katanya beberapa hari lalu. Dia tidak ingin dibantu oleh laki-laki siapapun termasuk aku. Aku diam membiarkan gadis itu terlihat akhirnya bisa masuk ke taksi lalu menutup pintu dan taksi itu pun pergi. Kenapa dia terlihat tidak pernah dekat dengan laki-laki siapapun? Kenapa juga dia tidak pernah ingin ditolong oleh laki-laki? Aku mencepatkan langkahku menuju halte busway harmoni. “Apa Aisah membenci laki-laki? Apa Aisah membenciku?” batinku.

“Gabriel…..riel??????” aku hampir tersedak ketika tangan Azam memukul pundakku. Dia kemudian tertawa, “maaf, maaf….” Katanya kemudian. “Kamu melamun apa?” katanya lagi.

“Kejadian kemaren setelah aku pulang bertemu ustad bersamamu.”

“Kenapa? Ada masalah?”

“Bukan, tapi aku jadi ingin bertemu beliau lagi. Aku ingin menanyakan banyak hal.”

“Tentu. Akhir pekan ini beliau ceramah di yayasan yatim piatu di depok. Kamu bisa ikut denganku mengaji kalau kamu mau. Nanti selesainya beliau ceramah kamu bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaanmu.”

“Baiklah Azam, nanti aku kabari lagi ya.” Aku meneguk es jeruk ku lagi. Lalu Aisah muncul lagi. Bukan di hadapanku, tapi di fikiranku. Sejak kemarin, sejak aku melihatnya lagi. Entah bagaimana aku jadi sering memikirkannya. Mungkin karena aku masih penasaran tentang ketenangannya.

Azam menepati janjinya membawaku lagi pada ulama itu. Aku jadi tahu tahu kenapa beliau tidak menyuruhku menirukan shahadat, pertama karena kalau aku membaca kalimat itu pertama aku tanpa sengaja masuk islam dan aku mengakui tiada tuhan selain Alloh yang berarti aku mengakui kalau Yesus bukan tuhan, sementara dalam ajaran agamaku kami mengakui Yesus itu adalah tuhan kami, anak Alloh. Dan hanya lewat pada bapa kami akan sampai pada rahmat allah. Tentu kalau aku membacanya aku telah mendustakan agamaku sendiri.

Kedua kenapa orang harus sholat, pertama setelah itu adalah sebuah ketentuan dari tuhan dan justru lima kali sholat yang tadinya kupikir terlalu capai dilakukan namun ternyata itu adalah jumlah yang sudah ringan. Dan aku mendengar desas desus kalau secara ilmiah tuhan menetapkan sholat adalah suatu ketentuan karena ada gunanya. Karena secara ilmiah ketika umat islam berhenti sholat menghadap ka’bah maka bumi akan berhenti berputar. Aku terkejut dengan pernyataann itu, ku putuskan akan ku selidiki dengan googling untuk membuktikan pernyataan itu melalui riset atau tidak setelah pulang nanti. Lalu puasa itu ternyata tujuannya yang pertama agar kita merasakan rasanya menahan lapar dan dahaga serta hawa nafsu. Gunanya menahan lapar dan dahaga agar kita bisa merasakan penderitaan rakyat miskin dan gelandangan yang seringkali tidak makan seharian karena tidak punya uang. Dengan puasa tentu kita tahu bagaimana rasanya kelaparan dan akan lebih menghargai sesama serta makna uang itu sendiri. Sementara menahan hawa nafsu bertujuan agar kita lebih menekan tingginya emosional kita kepada sesama supaya kita tidak gampang saling bertengkar dan berkelahi. Juga sebagai perantara agar kita bisa menurunkan fikiran kotor serta tingkat criminal seks yang tidak terkendali.

Mengenai zakat bertujuan untuk membersihkan diri kita dan membuat kita terlahir kembali. Zakat berupa uang atau pangan pokok yang kita bayar nantinya akan dibagikan untuk fakir miskin dan beberapa golongan lain yang berhak. Dengan berbuat baik begitu tentunya pahala yang kita dapat akan membersihkan dosa-dosa kita sehingga kita terlahir kembali seperti bayi yang tanpa dosa. Lalu naik haji, memang yang satu ini tidak wajib apabila tidak mampu membayar perjalanannya. Tapi gunanya untuk mengenal Allah lebih dekat dengan sembahyang di tempat dimana islam mulai disebarkan di bumi. Dan tentunya di mekkah, tempat ka’bah berdiri. Aku mengangguk-angguk sedikit demi sedikit mulai mengerti alasan-alasan yang dijelaskan tersebut.

“Lalu, kalau misal saya mencintai seorang muslimah. Apa saya boleh menikahinya?”

“Boleh.” Aku tergegun, alisku terangkat satu, “setelah kamu menjadi mualaf, atau menjadi islam.” Katanya lagi.

“Riel kenapa tiba-tiba tanya itu? Gak nyambung sama yang dijelaskan tadi.” Kata Azam.

“Jadi kamu sedang mencintai seorang muslimah, makanya kamu tiba-tiba tertarik untuk belajar islam? Karena kamu ingin mengenalnya lebih dekat tanpa dia tahu bukan?” aku mematung mencoba mencerna pelan-pelan tuduhan yang beliau katakan. Aku berfikir, mencoba mengingat lagi  sejak kapan aku ingin belajar islam tapi tidak berhasil kuingat persisnya. Yang terus terbayang wajah Aisah berulang-ulang.

“Saya hanya merasa penasaran pada ketenangan seorang muslmah yang saya kenal. Dia mempunyai masalah atau bisa dikatakan tidak sempurna namun dia justru terlihat semakin strong dan cantik. Saya hanya penasaran.”

“Coba dipikirkan lagi nak Gabriel, kenapa kamu bisa penasaran? Bukankah penasaran semacam itu adalah ketertarikan untuk mengenal lebih jauh dan memahami sebab karakternya?”

“Maksudnya tertarik?”

“Ya, kamu tertarik, kamu penasaran untuk tahu rahasia tentangnya. Rahasia dibalik ketenangannya. Simplenya kalau secara bahasa gaul kepo itu bukankah tertarik untuk tahu? Jadi kenapa nak Gabriel kepo dengan gadis itu?”

“Mungkin cuma simpati saja pak.”

“Kalau simpati baiknya disampaikan langsung. Kalau dipendam sendiri seperti itu mungkin namanya…. Ya nak Gabriel sudah dewasa harusnya bisa sadar sendiri.” Aku menelan ludah. Aku rasa yang beliau maksud adalah cinta. Tapi apakah benar kalau aku mencintai Aisah dan bukan sekedar simpati saja?

“Siapa gadis itu Gabriel? Apa teman SMA kita?”

“Bukan Adam, tapi juniorku di kampus. Orang yang ku kenal dua tahun lalu sejak ospek. Namanya Aisah. Kamu mungkin tidak mengenalnya.”

“Aisah Madinah Utami?”

“Kamu kenal Azam?”

“Sangat kenal. Dia sahabat Khasanah gadis yang baru sebulan lalu aku lamar.”

“Lamaran? Kapan pacarannya?”

“Ah tidak pacaran, kami bersahabat sejak kecil. Kami bertiga, aku Khasanah dan Aisah.” Azam terlihat menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum sumringah penuh semangat. “Aku tahu mereka gadis istimewa. Tapi Aisah sudah kuanggap seperti adik sendiri, sementara Khasanah,” lagi-lagi Azam tersenyum sendiri, “dia galak, suka marah marah kalau nilaiku jelek. Aku selalu dapat semangat baru kalau habis dimarahinya. Jadi tanpa pikir apakah aku cinta atau tidak aku mantap untuk menikahi gadis baik itu.”

“Lalu Aisah apakah sudah ada yang melamar?”

“Belum. Tapi tentu dia tidak akan menikah denganmu.”

“Kenapa?”

“Kalian beda agama. Dan aku sepertinya tidak rela memberikan gadis kecil baikku sama kamu.” Aku terkekeh, seulas senyum menyungging di bibirku hingga gingsul kananku terlihat. Aku menoleh kearah ustad lagi, beliau sudah tidak ada. Aku dan Azam bahkan tidak sadar saat beliau meninggalkan tempat, mungkin karena terlalu antusias membahas Aisah dan Khasanah. Lima menit kemudian beliau kembali dan aku berpamitan. Seperti biasa Azam tetap tinggal disana untuk curhat.

Ku pikirkan lagi sepanjang jalan ketika aku sedang di busway pertanyaan pertanyaan beliau tentang rasa penasaranku pada Aisah. Aku tersenyum geli sendirian membayangkan aku mencintai Aisah. Yang aku ingat, sejak gadis itu menghilang hampir setengah tahun, aku memang merindukannya. Rindu melihat gadis semangat dan lincah itu. Gadis pencinta alam yang hobinya naik gunung dan tidak takut bahaya. Dan ketika melihatnya kembali beberapa hari lalu, aku juga merasa sangat senang. Tapi  bisakah hal sederhana itu dikatakan cinta?

Pesan singkat masuk.

 

From : Azam SMA

Kalo udah bener bener yakin cinta sama Aisah bilang ya. Nanti aku sama pak Ustad bantu kamu untuk jadi islam. Tapi jangan jadi islam karena Aisah. Lupain penasaranmu sama Aisah kalo kamu tetap yakin sama jalanmu sendiri.

 

Petugas busway mengaba-abakan bus akan berhenti beberapa saat untuk penumpang yang akan transit. Aku ikut turun batal pulang. Aku langsung transit menuju kediaman omku yang menjadi seorang mualaf.

“Jadi kamu jadi seperti ini karena wanita?”

“Maksud om?”

“Mencoba belajar islam.”

“Tidak.”

“Lalu?”

Aku diam. Tidak bisa menjawab. “Bukankah om yang jadi mualaf karena wanita?”

“Bukan karena tantemu om masuk islam. Tapi tantemu perantara Alloh memanggil om untuk mantap ke jalan ini.”

“Ya sama aja om.”

“Enggak lah. Tantemu dateng disaat om sudah banyak belajar islam. Disaat om galau dengan keyakinan om yang lalu. Ketika om sudah mulai membanding bandingkan injil dan al-Quran. Ketika om mulai merasa kalau om mungkin tidak salah, tapi perlu menaati Al-Quran yang datang sebagai jawaban dari apa yang kita gak dapatkan di injil. Tantemu menguatkan tekad om, bukan alasan utama.”

“Terus kenapa bilang Gabriel begitu? Kan Riel juga cuma cerita. Cerita kan bukan berarti cinta.”

“Kalo kamu gak tertarik kenapa kamu malah ngebahasnya sama om? Gak cukup dibahas ustad tadi?” aku cemberut karena omku memang dari dulu cara ngomongnya suka bikin kesel orang. “Om rasa kamu cuma belum yakin sama perasaanmu sama gadis itu. Jadi gini aja deh,” aku menaikan satu alisku, antusias tapi pura-puara biasa saja, “kamu tetap belajar islam yang bener sambil selesein kuliahmu yang tinggal seujung kuku. Selesein skripsimu, lalukan yang terbaik untuk sidangmu, kamu harus jadi lulusan terbaik dulu, saat kamu sudah banyak tahu tentang islam dan faham betul, kalo kamu gak merasakan terpanggil kamu langsung cari pacar yang seiman jangan sampe ketertarikanmu ke Aisah meningkat, tapi kalo kamu terpanggil untuk masuk islam dan mengalami apa yang om ceritain tadi, om seratus persen dukung kamu nikahin gadis itu.”

“Tapi om………..”

“Lakuin aja yang om bilang. Om udah gak mau bahas lagi. Om gak mau ketertarikanmu meningkat pesat padahal keyakinanmu sama dia berbeda.” Om meninggalkanku di ruang tamu untuk berfikir. Lalu setengah jam sesudahnya tante Ida memanggilku untuk makan malam bertiga bersama om Lukas.

Kujalankan apa yang dikatakan omku. Tapi dia salah tentang rasa penasaran itu. Walaupun aku sudah tidak pernah membahasnya lagi pada siapapun, rasa penasaran itu sama sekali tidak hilang. Justru aku menjadi canggung tiap kali bertemu Aisah. Aku tidak berani menyapanya, hanya menyunggingkan senyum lalu pergi berlalu tanpa mengobrol lama seperti biasa. Aku hanya berani memandangnya lekat-lekat dari kejauhan sambil terus memikirkan rasa penasaran yang tidak bisa kupecahkan itu. Aku terus belajar islam sambil merampungkan kuliahku. Semakin aku tahu tentang islam aku semakin bimbang dengan hidupku selama ini. Setiap harinya selalu ada banyak pertanyaan tentang yang aku jalani sehari-hari. Aku mulai ragu apakah aku sudah benar atau aku sebenarnya ada di jalan yang salah? Semakin hari aku semakin gelisah merasakan apa yang om ku ceritakan tentangnya dimasa lalu sebelum menjadi seorang mualaf.

Aku kehilangan sedikit fokusku. Aku lulus menjadi sarjana Ekonomi dengan ipk tinggi tapi aku gagal menjadi lulusan terbaik. Aku sedih, tapi aku lega karena sudah berusaha semaksimalku. Selesainya disarjana seperti mahasiswa lainnya kami semua tentu berfoto-foto bersama keluarga teman yang ada disana. Setelah mengambil foto dengan orang tua aku menelpon sopir untuk menjemput orang tuaku untuk pulang duluan karena aku tidak ingin mereka yang sudah lansia kecapean. Aku kembali narsis dengan tongsis bersama teman temanku.

“Kak Gabriel,” aku langsung menoleh begitu mendengar suara itu. Aku melihatnya berjalan pelan dengan susah payah ke arahku. Lalu kutinggalkan teman-temanku lalu berlari ke arahnya. “Hai,”

“Selamat ya kak,” Aisah memberikan kado yang dibungkus dalam kotak tidak terlalu besar kepadaku.

“Selamat?” aku meninggikan satu alisku yang tebal, “aku gagal jadi lulusan terbaik.”

“Yang penting kan kakak udah usaha, aku gak ngeraguin kemampuan kakak.” Aku tersenyum lebar hingga gingsulku terlihat mendengar ucapan Aisah yang memulihkan semangatku. “Terima kasih,” kataku. Aisah tersenyum lebar, sangat manis. Gigi kelincinya selalu membuatku ingin tersenyum tiap melihatnya. Alisnya kecoklatan, matanya besar berbanding terbalik denganku, hidungnya tidak pesek tapi tidak mancung sepertiku. Kulitnya sudah putih jadi dia tidak perlu merias wajah tebal-tebal. Bibirnya sama tipisnya denganku, hanya dia jauh lebih pink dari pada aku. Hari ini dia memakai long drees anggun warna ungu muda dan jilbab warna pink. Ini pertama kalinya kami mengobrol lagi setelah beberapa waktu lalu aku selalu menghindarinya. “Ini apa Aisah?”

“Hadiah untuk kakak, buka aja.” Aku membuka kotak itu. Isinya dasi biru bercorak loreng hitam dengan penjepit perak di sebelahnya. Aku tersenyum sekali lagi, “terima kasih Aisah.”

“Sama-sama kak.” Terdengar ringtune ponsel berbunyi pendek. Aisah langsung merogoh-rogoh tasnya membaca sebuah pesan. “Kak, aku dicari temanku di sana. Aku sebenernya dateng nemenin dia ketemu calonnya. Kakak aku tinggal ya?”

“Apa itu Khasanah sama Azam?” Mata Aisah yang besar semakin melebar, alisnya berkerut. “Loh kakak kenal Khasanah atau kak Azam?”

“Azam teman kakak sejak SMA. Dia pernah bercerita tentang Nur Khasanah dan kamu.”

“Oh begitu? Kebetulan banget ya. Berarti kakak dateng kan ke pernikahan mereka tiga bulan lagi? Wah kakak jadi bisa nemenin aku deh.”

“Aisah datang sendiri? Gak bareng pacar tunangan atau calon?”

Gadis itu tersenyum lagi. “Aku gak punya siapa-siapa dan datang sendirian.”

“Oke, kakak pastikan dateng nemenin kamu.” Sekali lagi Aisah tersenyum lalu memingkupkan kedua tangannya menempelkan ke mulut seolah-olah dia memberi salam akan pergi. Aku mengangguk, membiarkannya perlahan hilang di jangkauan mataku. “Aku pasti datang Aisah.”

Empat hari berikutnya aku langsung mendapatkan penawaran dari kampus untuk datang tes kerja untuk bea cukai. Sambil mengejar bea cukai aku terus mempelajari islam. Menanyakan setiap pertanyaan-pertanyaan yang membuatku gelisah. Membaca perjanjian lama serta Qur’an terjemahan untuk membandingkan. Aku lulus masuk bea cukai.

Makin kesini aku makin nyaman dengan islam. Ku putuskan untuk datang menemui Azam untuk berbicara serius berdua. Ku katakan padanya aku ingin islam karena aku merasa terpanggil. Azam tidak mengatakan apapun, dia tersenyum dan langsung menelpon pak ustad untuk janjian mengislamkanku. Orangtuaku sempat tidak setuju, tapi karena omku yang pengacara mualaf itu membantuku bicara dan mengatasnamakan aku sudah diatas 18 tahun dan berhak menentukan pilihan sendiri dan menjalankan hak asasi, orang tuaku menyerah.

Tiga hari setelah aku berbicara pada Azam, aku di islamkan di depan jamaah jumatan masjid di daerah depok. Tapi aku meminta pada ustad agar aku tidak perlu mengganti namaku menjadi nama islam sebagai bentuk baktiku atas nama yang diberikan orang tuaku. Pak ustad setuju, namaku tetap Gabriel Miami. Gabriel adalah malaikat pembawa berita/wahyu dalam ajaran khatolik yang artinya sendiri tuhan adalah kekuatanku. Sementara Miami adalah kota kelahirannya kota Miami, Amerika serikat.

Dua hari lagi aku mulai kerja. Aku bersyukur diberi nilai bagus saat lulus, lalu mendapatkan pekerjaan bagus, satu lagi aku mendapat mobil hadiah dari orang tuaku karena mereka puas dengan nilaiku, anak tunggalnya. “Bagaimana? Puas dengan keadaan sekarang?”

“Ya Om, puji tuhan aku bahagia banget.”

“Eit, tuh kebiasaan lama masih dibawa. Kamu sekarang sudah islam, ganti puji tuhanmu dengan Alhamdulillah.”

“Tapi artinya sama kan om?”

“Ya kurang lebih. Tepatnya segala puji bagi Alloh, tuhan semesta alam.”

“Baik om, Alhamdulillah.” Aku pelan-pelan mengejanya.

“Begitu lebih baik. Belajarlah yang giat, pelan-pelan saja agar kamu enggak pusing.”

“Siap 86 om.”

“Oh ya bagaimana dengan gadis itu?” Aku menaikan satu alisku. Lagi-lagi gadis itu. Rasa penasaran yang belum terpecahkan. “Apa kamu sudah yakin kalau kamu mencintainya?”

“Aku tidak tahu om. Selama ini aku tidak pernah dekat dengan wanita.”

“Kecuali dia?”

“Ya hanya sebatas itu. Tidak bisa dibilang cukup dekat.”

“Nikahilah dia.”

“Tapi om…..”

“Kenapa?”

“Papi mami tidak akan setuju. Dia tidak sempurna.”

“Sekali lagi ini hidupmu, bukan hidup mereka. Tidak perlu fisik sempurna untuk bisa dapat kisah sempurna.”

“Apa mungkin Aisah mau menerimaku? Apa mungkin Aisah menyukaiku?”

“Apa dia terlihat dekat dengan laki-laki?”

“Sama sekali tidak.”

“Kalau begitu mungkin dia mencintai seseorang tapi dia memang berniat tidak pacaran. Ini kesempatanmu. Rebutlah dia dari laki-laki yang ditunggunya itu. Selagi dia belum dilamar siapapun, kamu punya kesempatan sama. Dia bisa saja berubah pikiran meninggalkan cintanya dan menerimamu yang mualaf, yang lebih dulu melamarnya.”

Aku langsung merogoh ponselku di saku, hendak menulis pesan.

“Kamu ngapain lagi dibilangin malah main hape?”

“Lah kata om aku suruh bergerak cepat. Ini aku sms Aisah.” Om ku geleng-geleng sambil tersenyum tanpa kata membiarkanku melanjutkan sms.

 

To : Kelinci Manis

Aisah, ba’da ashar aku tunggu di kafe kefa deket kampus. Pokoknya harus dateng. Aku mau traktir kamu, gaji pertamaku. Hehe.

 

“Gimana?”

“Sabar om, baru terkirim. Bentar juga dibales kalo dia lagi gak sibuk.”

Pesan baru masuk

 

From : Kelinci Manis

Traktiran???? Asyikkkkkkk. Kebetulan aku juga selese jam 3 nanti. Oke sekitar jam empat aku sampe sana kak. See you.

 

Yes! Aku menyunggingkan senyumku.

“Gimana?”

“Aku pergi dulu ya om. Nanti aku ashar deket kampus.”

“Yaudah hati-hati. Om doakan yang terbaik buat kamu. Masalah orang tua nanti om bantu.”

“Makasih om, aku pamit dulu.” Aku pamit pada om ku lalu mencium tangannya, “Asalamualaikum om,”

“Walaikumsalam Riel.”

Aku memencet tombol kunci mobilku hingga berbunyi begitu aku keluar dari pintu om Lukas. Aku berlari menuju mobil sport hitamku. Sepanjang jalan menuju jalan kampus aku berfikir menyiapkan kata-kata manis yang pantas aku katakan pada Aisah ketika melamarnya nanti. Aku mampir ke masjid pinggir jalan untuk ashar lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju kafe kefa. Aku telat dua puluh menit. Seperti dugaanku Aisah telah duduk sendirian sambil celingukan mencari aku.

“Aisah?” aku melambaikan tanganku begitu gadis itu melihatku. Dia tersenyum. Lalu buru-buru aku lari dan langsung duduk.”

“Wah kakak telat banyak.”

“Maaf ya, tadi kak Riel mampis ashar dulu.”

“Hah????? Ashar?????????”

“Loh iya kenapa?”

“Kak Riel kok ashar sih? Maaf nih ya kak sebelumnya. Kak Riel kan……..”

“Aku udah jadi mualaf Aisah.” Aku melihat mata gadis itu langsung melebar dan alisnya mengkerut, bibisnya sampai menganga sedikit. “Dua bulan lalu, terakhir kita bertemu saat aku diwisuda memang aku masih khatolik. Tapi udah sekitar hampir tiga minggu ini aku jadi mualaf.”

“Serius??? Gak bohong kak?”

“Ngapain kakak bohong, nih kakak perlu baca kalimat shahadat di depan kamu?” Mata Sinta melebar lagi, kemudian aku mengucapkan dua kalimat shahadat. Sinta tersenyum. “Sudah lihat kan?”

“Apa alasan kakak masuk islam?”

“Nanti deh ya Ai, makan dulu aja deh ya, kakak laper banget.”

“Yaudah deh.”  Aku dan Aisah memesan makanan yang sama, steak daging domba. Aisah memesan Avocado float sementara aku memesan lemon tea. Aku ceritakan pengalamanku bekerja sebulan dan Aisah begitu antusias mendengarnya. Begitupun Aisah menceritakan kuliahnya dan menanyakan beberapa materi yang kurang dia mengerti padaku. Setelah selesai makan gadis itu kembali menanyakan hal yang sama.

“Kakak apa alasannya masuk islam?”

“Mau tau jawabannya?”

“Iya.”

“Penasaran banget?”

“Iya.”

“Kakak mau cerita setelah……..” aku memberikan jawaban ngambang pada Aisah. Sengaja agar gadis itu penasaran.

“Setelah apa?”

“Setelah kamu jadi istri aku.”

“What???????”

“Iya. Kakak janji mau cerita kalo kamu udah jadi istri kakak.”

“Kak Riel serius ih jangan bercanda mulu.”

“Kak Riel serius Aisah.” Gadis itu diam seperti menunggu kata-kataku selanjutnya, “Aisah, mau kan jadi istri kak Riel?” Gadis itu masih diam. Entah kaget entah sebel. “Aisah mau kan mendampingi kak Riel dikala senang dan susah?”

“Kak Riel?”

“Iya?”

“Kakak ngomong begitu karena apa?”

“Kakak fikir kamu satu-satunya gadis yang bikin kakak penasaran. Kakak belum bisa bilang yakin itu cinta. Tapi waktu kamu menghilang kak Riel khawatir, kakak kangen liat kamu dikampus, kamu yang riang.”

“Kalo kak Riel gak yakin kenapa kakak bilang kaya tadi?”

“Kak Riel emang butuh waktu buat yakinin tentang perasaan kakak ke kamu. Tapi kalo buat nikahin gadis baik kaya kamu, kakak seratus persen yakin.”

“Kak………….” Aisah seperti ingin mengatakan sesuatu tapi mengurungkannya lagi.

“Kenapa Aisah?”

“Kakak tau kan gimana keadaanku? Kakak bisa dapat yang lebih baik dari aku.”

“Kalo dapet yang lebih cantik iya bisa. Tapi kalo lebih baik kak Riel gak yakin.” Aku menyunggingkan senyumku hingga gingsulku terlihat. “Kakak terima kamu apa adanya, begitupun kakak pengen Aisah terima kakak apa adanya. Kak Riel pengen Aisah bantu kakak, ilmu kakak tentang islam masih sedikit.”

“Tapi kaki aku cuma sebelah kak, kaki aku yang sebelah cuma sampe lutut, diamputasi.” Gadis itu terlihat berkaca-kaca menahan laju air matanya agar tidak pecah.

“Aku sering curhat tentang kamu sama om ku. Dan aku setuju kata-kata beliau yang beliau dapat dari kutipan karya Asma Nadia yang berjudul Asalamualaikum Beijing, tidak perlu fisik sempurna untuk memulai kisah yang sempurna.” Aisah diam. Terlihat bingung dan shock. “Kak Riel boleh tahu kenapa kamu bisa kecelakaan lalu diamputasi Aisah?” Aisah menunduk, diam. “Kalo kakak gak boleh tau gak papa. tapi kakak harap kamu mau terima lamaran kakak ini. Nanti kalo kita sudah menikah, kamu boleh menceritakannya.”

Aisah diam beberapa detik. “Sebenarnya aku udah tau kalau kak Riel berteman sama kak Azam,” alisku terangkat satu, “waktu itu aku sedang di rumah sakit sama Nur Khasanah mau jengukin kak Azam yang kecelakaan motor. Nur Khasanah ngomong sesuatu yang bikin aku langsung ngebingkem mulutnya begitu aku gak sengaja dengar suara kakak yang turun dari tangga sambil telephone kemungkinan habis jenguk kak Azam. Aku pernah liat foto kakak sama kak Azam di rumah kak Azam tapi aku gak komentar apa-apa. Aku shock liat kakak, takut kakak ngedenger kata-katanya Nur Khasanah. Aku langsung lari ninggalin Nur Khasanah, nyelonong lift yang udah mau nutup. Badanku udah masuk tapi kaki kiriku terjepit lift. Entah gimana kakiku pas aku bangun kakiku udah di amputasi. Aku shock sempet gak terima sama keadaanku.” Aku melihat Aisah akhirnya menumpahkan air matanya, “aku menghilang menenangkan diri. Aku gak yakin bisa menghadapi orang diluar terutama di kampus.”

“Terus apa yang bikin kamu pengen balik ke kampus?”

“Aku………..” Aisah seperti menahan nahan katanya lagi. “Aku kangen liat kakak.”

Aku tersenyum. “Apa yang Nur Khasanah bilang berhubungan sama aku sehingga kamu langsung kabur begitu liat aku? Mungkin kalian lagi memuji aku atau ngejelekin aku gitu?”

“Iya.”

“Nur Khasanah bilang apa?”

“Dia bilang…………….” Aisah menahan katanya lagi.

“Aisah, Nur Khasanah bilang apa?”

“Dia tanya apa aku mencintai kak Gabriel.”

“Lalu?????” Aisah menunduk dan diam. “Aisah?????” Aisah menoleh, “apa Aisah mencintai kak Riel?”

Aisah diam beberapa detik. “Iya.” Aku tersenyum. “Lalu kenapa kamu begitu takut aku denger itu?”

“Kita beda agama. Aku gak mau deket sama kakak kalau kakak punya perasaan yang sama. Aku juga takut canggung kalo ketemu kakak.”

“Semua yang lalu lupain aja Aisah. Sekarang kita udah punya keyakinan yang sama. Terus apa lagi yang kamu pikirin? Kenapa masih enggak mau terima aku?”

“Karena fisikku gak sempurna kak Riel.”

Aku menyunggingkan senyumku hingga gingsulku terlihat lagi, “Aisah maukah kamu menerimaku untuk menyempurnakanmu begitupun sebaliknya?”

Aisah diam.

“Aisah, maukah kamu menerimaku?”

Aisah diam.

“Aisah, maukah kamu menikah denganku?”

Aisah diam beberapa detik. “Iya, insha Alloh aku bersedia menikah dengan kak Riel.”

Comments(2)

    • maria marisca sutikno
      15/06/2016

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah