Rukun Islam dan Pancasila, Sebuah Kesamaan Makna

Pancasila Dan Rukun Islam

Gagasan berbentuk lima butir point yang mengandung hakikat ke–identitasan dan tata kehidupan dunia, terdapat dalam dua statuta yang hampir seluruh umat manusia mengetahuinya, yaitu Pancasila dan rukun Islam. Pancasila merupakan golden values yang di wariskan dari masa pembangunan bangsa serta usaha kemerdekaan oleh para founding father Indonesia adalah suatu azas nilai dan azas hukum bernegara, di dalamnya terkandung moral force, nation ideologi, sociality, theoligisme, political values, humanisme dan democrasi values. Nilai–nilai yang terkandung dalam pancasila merupakan pengajewantahan daripada cara dan pandangan  hidup ber–Indonesia.

Sama halnya dengan konsepsi rukun Islam, lima butir poin yang terkandung dalam rukun islam merupakan pengajewantahan dari pada tata hidup, tata hukum, dan tata budaya dalam sudut pandang ber–Islam. Rukun islam yang juga merupan syarat manusia ber–Islam jika di kuak makna hakikatnya juga mengandung unsur yang hampir sama dengan pancasila.

Jika kita maknai per butir baik pancasila maupun rukun islam memiliki persamaan makna secara hakikat. Makna yang terkandung dari mulai butir pertama hingga butir ke lima memiliki kesamaan maksud baik secara harfiah maupun secara epistemologi bahkan sampai aksiologinya.

Dalam butir pertama Pancasila  Ke-Tuhanan Yang maha esa,  memiliki kesamaan makna secara harfiah dengan butir pertama rukun Islam yaitu Syahadat,  yang memiliki arti “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bhwa Muhammad adalah utusan Allah”, jika di lihat dari segi bahasa maka butir ini memiliki maksud yang sama yaitu mengakui eksistensi dan ke-Esaan Tuhan. Kemudian jika dilihat secara hakikat butir pertama dari Pancasila dan Rukun islam ini, mencoba menyampaikan nilai kepercayaan keagamaan sebagai salah satu yang fundamental dalam pembangunan sebuah bangsa.

Butir kedua dalam pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, dalam butir ini terkandung nilai moralitas, bahwa dalam menuju sebuah bangsa yang maju di perlukan rasa kemanusiaan, rasa kemanusiaan akan lahir manakala ada laku keadilan, dan laku keadilan hanya mungkin terwujud manakala manusia dalam sebuah bangsa hidup dalam sikap yang beradab, dan kemanusiaan, keadilan, serta perilaku beradab merupakan hasil daripada tempaan dari lingkar pendidikan kehidupan.

Hakikat maknawi dari sila kedua pancasila ini sejatinya singkron dengan butir rukun iman yang ke dua yaitu Shalat, karena shalat merupakan cara Tuhan mendidik manusia agar senantiasa ingat kepada Penciptanya dan agar manusia senantiasa menempatkan hati pada sisi kebenaran, maka firman Allah SWT dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an “inna shalati nganil fahsya i wal munkar” sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, jika dalam kehidupan perbuatan keji dan mungkar itu tidak mungkin terjadi apabila manusia memiliki rasa kemanusiaan, keadilan  dan perilaku yang beradab. Maka sesungguhnya antara sila kedua Pancasila dan Shalat sama–sama merupakan moral force.

Lalu sila ke tiga dari Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia, butir pancasila ketiga merupakan simpul daripada kemerdekaan bangsa Indonesia, karena dengan wilayahnya yang begitu luas, alamnya yang begitu kaya, dan kebudayaan yang begitu beragam, kemudian di satukan dalam satu titik pusat peradaban berbangsa yang sama yaitu Indonesia. Ikatan kebangsaan di manifestasikan dengan rasa persatuan dan kesatuan, kemudian persatuan dan kesatuan di manifestasikan dengan cinta tanah air, maka barulah terwujud Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sama halnya dengan butir rukun iman yang ke lima yaitu  Haji, ibadah haji jika dinilai dari segi ritual maka kita akan menemukan sebuah makna reflektif di dalamnya. Dimana dalam satu waktu jutaan umat muslim dari latar belakang, budaya, bahasa dan warna kulit yang berbeda di persatukan dalam satu dimensi ruang dan waktu yang sama, serta dengan kepentingan yang sama yaitu ibadah, niat yang sama untuk ibadah. Mereka semua di persatukan dalam satu titik peradaban yang sama dan melakukan ritual ibadah dengan cara yang sama. Maka sejatinya ada kesamaan nilai yang terkandung dalam butir pancasila sila ke tiga dan butir rukun islam yang ke lima yaitu sama–sama mengandung unsur nilai persatuan sebagai maksud.

Kemudian pancasila sila ke empat, yaitu Kerakyatan Yang Di pimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan, Dalam Permusyawaratan Perwakilan, jadi setelah ber–Tuhan, kemudian di didik untuk menjadi manusia yang adil dan baik, kemudian di persatukan, maka setelah itu di harapkan sebuah tatanan kehidupan rakyat yang stabil dan sejahtera, untuk sampai kepada kesejahteraan rakyat di perlukan kesadaran Ke–Rakyatan dan Kepemimpinan bangsa yang Bijaksana, dan kepemimpinan yang bijaksana hanya akan dapat di lakukan dengan sebuah Permusyawaratan. Jadi nilai yang terkandung dalam sila ke empat ini adalah nilai keadilan demokrasi, dan goal dari pada itu adalah kesejahteraan rakyat. Sila ke empat pancasila ini jika di singkronkan denga Rukun Islam yang ke tiga yaitu puasa, terdapat kesamaan nilai di dalamnya.

Puasa merupakan laku diri bagi seorang muslim untuk menempa diri dengan menahan diri dari segala kesenangan duniawiyah. Selain itu puasa juga merupakan proses penebalan kepekaan manusia, daalm hal ini maksudnya bahwa dengan puasa kita akan tau bagaimana kondisi orang lain yang kurang beruntung yang bahkan tidak bisa makan 3 kali sehari, proses ituah yang kemudian menimbulkan kepekaan manusia sehingga manusia akan lebih dapat memanusiakan manusia lainnya karena merasakan ke susahan manusia lain yang kurang beruntuk, proses memanusiakan manusia hakikatbya adalah makna dari kerakyatan, itulah kenapa bahasa kerakyatan sering di pakai dalam teori–teori yang mengandung nilai sosial dan kesejahteraan.

Puasa juga merupakan proses menahan, karena dalam puasa manusia di anjurkan menahan hawa nafsu, baik nafsu marah, nafsu birahi , nafsu makan, atau nafsu kepentingan, dengan menahan inilah akan timbul fikiran yang bijak dan dari fikiran yang bijak, maka dalam memutuskan perkara-perkara hidup akan lebih mempertimbangkan banyak hal, termasuk pertimbangan kesepakatan dari orang di sekelilingnya, maka munculah azas permusyawaratan dari batin orang yang berpuasa, karna hakikatnya musyawarah adalah mempertimbangkan pendapat orang lain dari setiap laku manusia.

Dalam menjalankan ibadah puasa manusia juga di tuntut untuk menjalankannya dengan penuh ke hikmatan atau khusyuk, kenapa harus hikmat?? Karena apabila diri kita hikmat lah nafsu akan dapat terkontrol, maka dalam puasa ke khusukan di perlukan sebagai sesuatu yang memandu manusia agar berbuat baik.

Dan tujuan daripada puasa itu sendiri adalah taqwa, secara agama taqwa di artikan dengan menjalankan perintah Allah dn menjauhi larangan Allah, namun dalam kehidupaan dapat kita sederhanakan dengan menjalankan kebaikan dan meninggalkan hal–hal buruk.

Sebuah bangsa akan menjadi baik apabila di pimpin oleh pemimpin yang baik, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bijaksana, pemimpin yang bijaksana adalah dia yang dalam kepemimpinannya memperhatikan dan mempertimbangkan suara orang banyak sebagai pertimbangan sebelum mengambil keputusan, dan pemimpin yang bijak juga yang ikut serta merasakan derita ketika rakyatnya menderita atau bisa kita sebut merakyat atau kerakyatan.

Maka antara Kerakyatan Yang Di pimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan, Dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Puasa merupakan sama–sama proses ke tawadlu’an manusia dalam usahanya membangun kebaikan diri dan membangun kebaikan bangsa.

Kemudian Pancasila sila ke lima Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia, sila terakhir dari pancasila ini merupakan point inti dari pancasila, karena keadilan sosial merupakan tujuan daripada sebuah bangsa. Keadilan sosial memiliki makna yang sangat mendalam, karena di dalam terdapat berbagai aspek manusia dalam kehidupan berbangsa. Utamanya adalah aspek kesejahteraan rakyat. Indonesia hari ini belum sama sekali menjalakan keadilan sosial, karna terbukti dimana–mana masih dapat kita lihat ketimpangan kesejahteraan, dimana–mana kita lihat ketidak adilan, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Amanah pancasila yang tertuang dalam sila ke lima pancasila ini merupakan satu azas utama dalam menjalankan bangsa, keadilan sosial berarti menghapus ketimpangan kesejahteraan, karna sejatinya semua rakyat berhak sejahtera.

Dalam islam ajaran ke adilan sosial termaktub dalam rukun islam yang ke empat, yaitu zakat, dalam implementasinya zakat merupakan ajaran bagaimana menyejahterakan rakyat, melalui konsep si kaya memberi si miskin konsep zakat memberi kritik terhadap ketimpangan kesejahteraan yang terjadi di masyarakat. Maka para kaum kaya di ingatkan untuk menyisihkan sebagian hartanya untuk di zakatnya kepada si miskin, agar si kaya tau bahwa di sekitarnya ada orang yang belum sejahtera, dan ketika masih ada rakyat yang belum sejhtera, maka keadilan sosial belumlah tercapai.

Spirit nilai yang terkandung dalam zakan dan keadilan sosial dalah suatu kritik sekaligus jawan terhadap realita berbangsa, bahwa sebuah bangs akan di katan besar ketika didalamnya rakyat mendapatkan kesejahteraan, sebuah bangsa akan di katakan makmur makala di dalamnya tidak terjadi ketimpangan kesejahteraan.

Kesamaan makna yang terkandung dari Pancasila dan Rukun Islam merupakan suatu jawaban, bahwa sejatinya pancasila merupakan bentuk pengajewantahan nilai – nilai Islam dalam ranah pembangunan bangsa. Bahwa bangsa akan benar – benar menjadi sebuah bangsa manakala bangsa itu menjunjung tinggi nilai ke – Tuhanan, dan setelah sebuah bangsa menyadari nilai ke – Tuhanan maka didiklah bangsa itu agar memilik moral force berupa kemanusiaan, keadilan dan beradab, setelah sebuah bangsa dididik maka tinggal di persatukan sebagai sebuah kesatuan, dari tempaan dan penyatuan itulah akan lahir kepemimpinan yang mejunjung tinggi kebijaksanaan dan nilai kerakyatan melalui permusyawaratan, dan apabila empat langkah tersebut dapat di laksanankan barulah akan dapat tercipta sebuah tatanan bangsa yang ber–keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Dan hakikat daripada rukun islam maupun rukun islam adalah proses proses pembentukan dan pembangunan diri bangsa. Maka menjalankan pancasila merupakan bentuk kesalehan sosial dan menjalankan rukun islam adalah bentuk kesalehan individual, karena bangsa akan maju jika memiliki kesalehan sosial dan kesalehan individual.

Pancasila tetaplah menjadi garuda!!!!!

Comments(3)

  1. 02/10/2016
    • 05/10/2016
      • 06/10/2016

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga