KKN dan Upaya Merawat Kesadaran Kelas

Serba serbi KKN

kalopun ada yang lebih sulit daripada mikiran program, itu pasti adalah mikiran sinyal susah.

Sebenarnya bingung mau nulis apa, tepatnya bingung cari angle yang cocok. Tapi karena ditagih terus sama redaktur nih situs buat nulis pengalaman KKN, mau tidak mau ya nulis juga. Padahal kalau cuma pengalaman dan kenangan, kenapa ndak minta tolong Catur Pamungkas saja. Eh, tapi dia tidak pandai menyimpan kenangan sih kayaknya?
Tapi tak apa-apalah, tawaran baik pamali ditolak.

Baik saya akan mulai cerita. Pada zaman dahulu kalaSaya KKN 6 bulan yang lalu, belum lama. Ibarat tai ayam, masih ada anget-angetnya dikit. Meski bagi saya, KKN itu cuma pindah kosan karena isinya kebanyakan gabut dan tura- turu tok. Ya tetap ada kerja sih, meski faedahnya untuk masyarakat tidak seberapa. Tapi itu KKN-nya saya, semoga kaliyan lebih bagus.

Meskipun begitu, bagi saya KKN itu tetap penting. KKN harus tetap diadakan. Apalagi di zaman sekarang, di mana khittah pendidikan benar-benar telah miring, semiring-miringnya. Pendidikan tidak lagi berfungsi untuk menaikan harkat dan martabat manusia, tapi sudah turun sebatas fungsi ekonomi belaka.

Maksudnya, banyak orang sekolah hari ini tujuannya untuk cari kerja. Tidak salah sih, manusiawi kok, tapi kalau itu menjadi tujuan utama ya gak mashook. Yang lebih parah sekolah tidak lagi ditempatkan sebagai tempat mendidik orang, melainkan tempat nyari duit dengan cara mendidik orang. Perbedaan ini keliatan sepele, tapi mendalam secara filosofis.

Oke kita tidak membahas yang filosofis-filosofis ini, takut botak. Lanjuttt…

Yang dicari dari pendidikan sekarang, meminjam istilah Cak Nun, adalah cangkul, bukan pedang apalagi keris. Cangkul itu simbol alat ekonomi, pedang adalah simbol kekuasaan. Sementara keris adalah simbol harkat dan martabat manusia. Orang yang punya pedang, mustahil tidak punya cangkul. Orang yang punya keris, sudah pasti punya pedang dan cangkul sekaligus. Begitu mestinya.

Karena pendidikan hanya untuk fungsi ekonomi, banyak orang yang tidak peduli dengan urusan martabat, apalagi kehormatan. Yang penting punya duit, meski didapat dengan cara tidak bermartabat. Itulah kenapa doktor sekalipun banyak yang korupsi di negeri ini.

Nah, dengan KKN barangkali bisa muhasabah. Yang pegang cangkul, cukuplah orang marjinal. Karena mereka tidak mampu sekolah setinggi kamu. Tugas kamu minim-minimnya cari pedang, cari kekuatan untuk melindungi mereka. Kalau tujuanmu sama-sama cari cangkul, kamu dzolim. Kamu ngrecokin lahan mereka namanya.

Jadi, ambilah yang menjadi bagianmu saja.

Pendidikan hari ini, mulai sejak TK sampai perguruan tinggi, punya sistem yang bikin orang makin terasing. Semakin tinggi pendidikan seseorang, makin tercerabut ia dari lingkungan, sejarah dan akar budayanya.

Meskipun kamu aktivis yang paling vokal menyuarakan kemerdekaan Palestina atas Israel, tapi bisa jadi tidak tahu sejarah dan masalah yang dialami penduduk desamu sendiri. Itulah realita pendidikan hari ini, yang selalu berjarak dari realitas. Mahasiswanya di mana, masyarakatnya di mana.

Jargon- jargon heroik semacam agent of change atau social control, praktis hanya bagian seremonial saat OSPEK belaka. Ketika kuliah dimulai, mahasiswa pertanian misalnya, waktu dan energinya keburu habis di laboratorium, lahan, dan menyublim bersama hawa AC ruang kuliah. Mereka tidak tau kalau disana-sini tanah petani dirampas. Kalau petani diperalat untuk nyari untung besar sementara dirinya dibiarkan tetap miskin.

Tidak cuma pertanian sih, hampir semua jurusan sekarang memang kayak begitu. Karena pendidikan tidak lagi untuk membangun nalar dan kesadaran kritis, tapi sekadar mencetak buruh untuk ambil bagian dalam sistem produksi kapitalisme.

Karena pendidikan minus kesadaran, sekalipun sudah sekolah belum tentu ngeh kalau di sekitar ada banyak masalah. Bahkan ironinya, ada yang tidak sadar di kelas sosial mana dirinya berada. Kamu sering lihat bukan, anak desa yang bergaya borjouis-ngelitis? Nahitu contoh orang tidak sadar kelas.

Di tengah sistem pendidikan yang seperti ini, tinggal di desa selama 35 hari adalah pilihan bagus. Barangkali itu cukup agar kamu sadar, kalau orang miskin dan melarat itu benar-benar ada. Bukan mitos. Kamu tidak perlu sampai punya kesadaran revolusi segala, sadar kalau orang ditindas itu ada saja sudah bagus.

Syukur punya solusi yang lebih canggih ketimbang sekedar membikin proyek pengadaan tampah. []

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga