Pustaka Warga

Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga

13/09/2017 92 0 0

Pustaka Warga

Diskusi awal Pustaka Warga

Komunitas literasi hingga saat ini masih menjadi instrumen penting dalam misi besar: menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia. Konsep yang lebih fleksibel, dan jangkauannya yang mencapai pelosok membuat komunitas membantu betul kerja-kerja literasi. Peran tersebut makin nyata, setelah perpustakaan besutan pemerintah yang lumrah dibangun di sekolah, pusat kota, ataupun kampus-kampus, gagal menampilkan wajah perpustakaan yang menyenangkan. Ke perpustakaan orang jadi tegang, alih-alih senang.

Perpustakaan yang dikesankan demikian, membuat banyak orang ogah-ogahan datang membaca buku. Perpusda lantas mirip sanggar yoga yang sunyi. Perpustakan kampus juga bernasib serupa. Paling hanya anak skripsian yang mendatangi perpustakaan. Itupun karena menjelang wisuda harus mengurus kartu bebas (pinjam buku) perpus.

Kondisi perpustakaan di sekolah-sekolah tak kalah mencemaskan. Selain koleksi bukunya yang itu-itu saja, minimnya sosialisasi membuat ke perpus sama dengan ke WC belakang sekolah. Takut.

Kegagalan pemerintah—dengan jejaring perpustakaannya—itu, terabadikan dengan prestasi Indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei minat bacanya. Tentu saja dalam kait kelindan permasalahan literasi Indonesia, tanggungjawab tidak hanya ditujukan pada pemerintah semata. Ada begitu rupa stakeholder dengan dosanya masing-masing yang perlu segera berbenah.

Dosa masyarakat, misalanya, terlalu tinggi menempatkan baju dalam daftar beli ketimbang buku. Rata-rata dari kita memang enggan membaca buku. Sehingga praktis hanya ada satu buku yang dirindukan orang Indonesia: buku nikah.

Minat baca yang sedemikian jeblok memang membuat beberapa instansi tergerak. Mulai dari POS Indonesia yang menggratiskan pengiriman buku di tanggal-tanggal tertentu, PNRI yang menyalurkan donasi buku, tumbuhnya sanggar baca bak jerawat di musim nikah, hingga program desa binaan ala-ala BEM di kampus-kampus pun menyasar program pengadaan perpustakaan desa. Dalam hal ini, KKN termasuk, tentu saja.

Semuanya bergerak. Itu bagus. Tapi tetap saja, pertanyaan tentang bagaimana cara menumbuhkan minat baca masih menjadi PR bersama. Hanya saja, sialnya, PR bersama itu selalu dicoba selesaikan dengan sendiri-sendiri sehingga tak kunjung selesai. Pemerintah bikin program sendiri, komunitas bikin acara sendiri, yang jomblo jalan sendiri. Yaiyalah.

Pustaka Warga sebagai platform kolaborasi

Mulanya, Pustaka Warga dirintis dari kegelisahan akan buku yang seolah menjadi perabot langit. Hanya dipakai orang-orang berkadar intelektual tinggi saja, begitu. Membaca buku seolah adalah kemewahan, dan oleh karenanya, masyarakat miskin, apalagi yang di desa-desa, tak boleh menikmatinya.

Kondisi yang demikian makin diperkuat dengan fragmentasi pegiat literasi. Akhirnya mereka tetap kecil-kecil, cenderung parsial dan sporadis. Walhasil, tugas berat menempatkan Das Kapital di laci para buruh, buku-buku politik pertanian tertata di lemari para petani, juga pekebun, kian jauh panggang dari api.

Ke depan, Pustaka Warga, juga komunitas lain, juga pemerintah, harus mampu menyederhanakan arti penting baca buku. Sehingga membaca menjadi sama menyenangkannya dengan stalking media sosial. Orang kemudian tidak malu ketika membaca buku di tempat umum. Pula stigma pembaca buku itu orang culun bisa dihilangkan. Dan rasanya, untuk tugas seberat itu, mustahil jika ego masih bercokol kuat.

Singkatnya, komunitas literasi butuh wadah untuk berkolaborasi.

Sejak awal doktrin yang ditanam kuat-kuat dalam kerangka merintis Pustaka Warga adalah kolaborasi. Sinergi adalah energi, begitu kredonya. Ia tidak dihadirkan kecuali agar dimiliki bersama-sama. Para founder hanya bertugas mengkonsep di awal, setelah itu Pustaka Warga hendaklah dijadikan barang milik publik. Tidak ada eksklusifitas di sana.

Pustaka Warga sebagai platform literasi tidak hanya akan mewujud dalam bentuk ruangan dan rak-rak buku, tetapi juga aplikasi media sosial. Dengan begitu, berdiskusi, lebih-lebih soal buku, akan menjadi semakin mudah dan masif. Mudah-mudahan.

Baca artikel-artikel terkait di esensiana;

1. Membaca Kegoblokkan Kita
2. Tips Belajar Efektif Kekinian
3. Yang Harus Kamu Tahu dari Pengetahuan

Comments

comments

Tags: anak, cara menumbuhkan minat baca, kominitas literasi, Komunitas, minat baca di indonesia, pustaka warga Categories: Pustaka Warga
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.