Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga

Pustaka Warga

Diskusi awal Pustaka Warga

Komunitas literasi hingga saat ini masih menjadi instrumen penting dalam misi besar: menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia. Konsep yang lebih fleksibel, dan jangkauannya yang mencapai pelosok membuat komunitas membantu betul kerja-kerja literasi. Peran tersebut makin nyata, setelah perpustakaan besutan pemerintah yang lumrah dibangun di sekolah, pusat kota, ataupun kampus-kampus, gagal menampilkan wajah perpustakaan yang menyenangkan. Ke perpustakaan orang jadi tegang, alih-alih senang.

Perpustakaan yang dikesankan demikian, membuat banyak orang ogah-ogahan datang membaca buku. Perpusda lantas mirip sanggar yoga yang sunyi. Perpustakan kampus juga bernasib serupa. Paling hanya anak skripsian yang mendatangi perpustakaan. Itupun karena menjelang wisuda harus mengurus kartu bebas (pinjam buku) perpus.

Kondisi perpustakaan di sekolah-sekolah tak kalah mencemaskan. Selain koleksi bukunya yang itu-itu saja, minimnya sosialisasi membuat ke perpus sama dengan ke WC belakang sekolah. Takut.

Kegagalan pemerintah—dengan jejaring perpustakaannya—itu, terabadikan dengan prestasi Indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei minat bacanya. Tentu saja dalam kait kelindan permasalahan literasi Indonesia, tanggungjawab tidak hanya ditujukan pada pemerintah semata. Ada begitu rupa stakeholder dengan dosanya masing-masing yang perlu segera berbenah.

Dosa masyarakat, misalanya, terlalu tinggi menempatkan baju dalam daftar beli ketimbang buku. Rata-rata dari kita memang enggan membaca buku. Sehingga praktis hanya ada satu buku yang dirindukan orang Indonesia: buku nikah.

Minat baca yang sedemikian jeblok memang membuat beberapa instansi tergerak. Mulai dari POS Indonesia yang menggratiskan pengiriman buku di tanggal-tanggal tertentu, PNRI yang menyalurkan donasi buku, tumbuhnya sanggar baca bak jerawat di musim nikah, hingga program desa binaan ala-ala BEM di kampus-kampus pun menyasar program pengadaan perpustakaan desa. Dalam hal ini, KKN termasuk, tentu saja.

Semuanya bergerak. Itu bagus. Tapi tetap saja, pertanyaan tentang bagaimana cara menumbuhkan minat baca masih menjadi PR bersama. Hanya saja, sialnya, PR bersama itu selalu dicoba selesaikan dengan sendiri-sendiri sehingga tak kunjung selesai. Pemerintah bikin program sendiri, komunitas bikin acara sendiri, yang jomblo jalan sendiri. Yaiyalah.

Pustaka Warga sebagai platform kolaborasi

Mulanya, Pustaka Warga dirintis dari kegelisahan akan buku yang seolah menjadi perabot langit. Hanya dipakai orang-orang berkadar intelektual tinggi saja, begitu. Membaca buku seolah adalah kemewahan, dan oleh karenanya, masyarakat miskin, apalagi yang di desa-desa, tak boleh menikmatinya.

Kondisi yang demikian makin diperkuat dengan fragmentasi pegiat literasi. Akhirnya mereka tetap kecil-kecil, cenderung parsial dan sporadis. Walhasil, tugas berat menempatkan Das Kapital di laci para buruh, buku-buku politik pertanian tertata di lemari para petani, juga pekebun, kian jauh panggang dari api.

Ke depan, Pustaka Warga, juga komunitas lain, juga pemerintah, harus mampu menyederhanakan arti penting baca buku. Sehingga membaca menjadi sama menyenangkannya dengan stalking media sosial. Orang kemudian tidak malu ketika membaca buku di tempat umum. Pula stigma pembaca buku itu orang culun bisa dihilangkan. Dan rasanya, untuk tugas seberat itu, mustahil jika ego masih bercokol kuat.

Singkatnya, komunitas literasi butuh wadah untuk berkolaborasi.

Sejak awal doktrin yang ditanam kuat-kuat dalam kerangka merintis Pustaka Warga adalah kolaborasi. Sinergi adalah energi, begitu kredonya. Ia tidak dihadirkan kecuali agar dimiliki bersama-sama. Para founder hanya bertugas mengkonsep di awal, setelah itu Pustaka Warga hendaklah dijadikan barang milik publik. Tidak ada eksklusifitas di sana.

Pustaka Warga sebagai platform literasi tidak hanya akan mewujud dalam bentuk ruangan dan rak-rak buku, tetapi juga aplikasi media sosial. Dengan begitu, berdiskusi, lebih-lebih soal buku, akan menjadi semakin mudah dan masif. Mudah-mudahan.

Baca artikel-artikel terkait di esensiana;

1. Membaca Kegoblokkan Kita
2. Tips Belajar Efektif Kekinian
3. Yang Harus Kamu Tahu dari Pengetahuan

esensiana quotes"

Pustaka Warga sebagai platform literasi tidak hanya akan mewujud dalam bentuk ruangan dan rak-rak buku, tetapi juga aplikasi media sosial. Dengan begitu, berdiskusi, lebih-lebih soal buku, akan menjadi semakin mudah dan masif. Mudah-mudahan.

Sending
User Rating 5 (2 votes)

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Perbedaan Islam
Islam Nabi, Islamku, Islammu, dan Islam Kita
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Terkuaknya Saracen
Terkuaknya Saracen dan Perintah Islam dalam Berhati-hati Menyikapi Berita
Kisah Rumi
Pelajaran dari Guru Jalaluddin Rumi: Membeli Ciu dan Ajaran Tauhid
Hadratusyeikh
Hadratusyeikh Bukan Gelar Pesanan