Koperasi Pangan

Tentang Koperasi Pangan dan Pasar Beras Berkeadilan

27/10/2017 148 0 0

Koperasi Pangan

Saya masih terkulai malas di kasur seukuran badan saat pukul sembilan pagi Om Heri mengirim pesan Whatsapp untuk mengajak pergi. Saya pun mengiyakan, lalu sejurus kemudian bergegas mandi–supaya agak manusiawi–lalu menuju rumah Om Heri.

Sesaimpainya di sana, tanpa basa-basi, mobil bak terbuka warna biru kelimis distarter dan kami meluncur. Menyisir jalan sepanjang Pabuwaran-Kebasen.

Usai sekitar satu jam perjalanan, kami berhenti di depan rumah bercat hijau dengan beberapa kolam di sampingnya. Karena agak ragu dengan suasana rumah yang tampak sepi, Om Heri cekatan menekan tombol ponsel: menanyakan keberadaan tuan rumah. Saat telepon ditutup, kami memutar balik, lantaran Pak Sutriyono, orang yang akan kami temui tidak sedang di rumah. Kami menuju sekolah lapang petani yang diadakan sekitar 300 meter dari rumah itu. Di sanalah Pak Tri, begitu ia kerap disapa, dan rekan-rekan petani menggelar sekolah lapang. Sebentuk workshop ala-ala kampung untuk meningkatkan kapasitas petani.

Namun apa lacur, saat kami sampai di sana, para petani, juga orang-orang dinas, lekas-lekas bergegas pergi. Rupanya, sekolah sudah bubar. Tinggal beberapa piring kacang rebus, agar-agar, dan gelas air mineral yang tercecer menggambarkan jumlah peserta yang hadir.

Kami pun memutuskan untuk melanjutkan obrolan di rumah Pak Tri. Tentu usai basa-basi dengan menyalami tuan rumah. Dan tak butuh waktu 3 menit kami sudah sampai di lokasi. Rumah bercat hijau tadi. Obrolan pun berlanjut.

Perihal kegelisahan petani dan pertanian

Kopi tubruk disuguhkan, lanting hangat, penanda ia buatan sendiri, disuguhkan, obrolan mulai kembali mengalir. Pak Tri bercerita ihwal kegelisahannya pada petani dan pertanian. Menurutnya banyak petani yang kurang memahami filosofi bertani. Sehingga tanah, yang seharusnya diposisikan sebagai kawan, justru dieksploitasi habis-habisan. Imbasnya, pertanian kian terancam keberlangsungannya karena tanah yang kiat susut kesuburannya. ” Tanah yang merupakan bagian dari alam, tidak diperlakukan secara alami. Itu yang membuat tanah kehilangan keseimbangannya untuk memberi cukup gizi bagi tanaman. Di sisi lain kita merasa pupuk kimia bisa memberikan itu secara praktis, padahal tanaman punya selera yang alami. Biarkan tanaman yang berbicara”. Urainya penuh filosofi.

Baginya, bertani bukan hanya sebuah profesi untuk mencari penghidupan. Tetapi juga sebuah kehidupan itu sendiri. ” Kalau berani hidup, maka harus berani menanam” tegas Pak Tri mantap. Namun nyatanya tak banyak yang menyadarinya.

Perihal kegelisahan itulah Pak Tri selama bertahun-tahun getol mempromosikan pertanian organik. Ia telah menjelajah banyak tempat di Indonesia untuk mengedukasi dan mengajak petani kembali pada kodrat pertanian. Alami. Selama proses edukasi tersebut, ia tak pernah memasang tarif. Niatnya adalah mengajak sebanyak mungkin petani untuk turut mempraktekkan konsep pertanian organik. Dalam benaknya, selain akan menunjang keberlanjutan sektor pertanian, konsep organik ini juga akan lebih menguntungkan petani. Sebab harga jualnya yang menjadi lebih tinggi.

Saat disergap dengan pertanyaan “Kenapa Pak Tri mau memberi ilmunya secara gratis?” Enteng ia jawab “Informasi yang ditutupi hanya akan busuk dibawa mati”.

Namun, untung tak dapat diunduh, malang tak bisa diblokir. Produk pertanian organik yang dihasilkan Pak Tri dan petani organik lain terkendala perizinan. Dinas-dinas yang mustinya menyambut dengan tangan terbuka ikhtiar mandiri yang dilakukan oleh petani organik itu justru bersikap laiknya rompak. Menodong dengan biaya administrasi dan birokrasi kita yang Masyallah itu.

Akibatnya beras yang telah susah payah dihasilkan dengan konsep pertanian tanpa pupuk dan pestisida kimiawi itu justru terkatung-katung nasibnya. Mau dilabeli beras organik harus membayar ratusan juta untuk izinnya, mau dilabeli beras sehat harus izin ke dinas yang ampun-ampunan birokrasinya. Padahal petani organik seperti Pak Tri dan yang lainnya tak mungkin menjual beras secara curah tanpa label. Karena selama proses produksinya membutuhkan tenaga ekstra untuk perawatan. Sehingga harganya tak bisa disamakan dengan beras biasa. Selain, lebih sehat dikonsumsi tentu saja.

Menggagas pasar berkeadilan lewat koperasi pangan

Om Heri, sambil mengunyah lanting yang disuguhkan, mulai membuka obrolan soal koperasi pangan. Menurutnya, koperasilah yang bisa menjembatani usaha keras petani terapresiasi dengan baik oleh masyarakat lain sebagai pembeli. Sehingga tercipta keadilan dalam perputaran beras.

Tanpa keadilan, sulit rasanya membawa petani, distributor, dan konsumen dalam posisi sama-sama diuntungkan. Sebab iklim pasar yang kian kapitalistik memaksa budaya saling telikunglah yang tampak sebagai wajah pasar perberasan kita. Keterbatasan petani dalam menjangkau ceruk-ceruk konsumen dimanfaatkan betul oleh distributor untuk mengambil untung banyak secara singkat.

Selama ini, cukong-cukong besar lah yang mengeruk untung dari perputaran beras nasional. Sebagai gambaran, harga Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani yang cuma sekitar 4000an melonjak jadi 9000an beras di tingkat konsumen. Yang lebih ampuh, mereka bukan hanya bisa mengendalikan harga tetapi bahkan bisa mengatur ketersediaan beras di pasaran. Perlu diketahui, bahwa Bulog yang seharusnya menjadi pemain utama dalam distribusi beras nasional, rata-rata hanya bisa menyerap 6% dari total produksi. Sisanya? Ya oleh pedagang besar yang kemungkinan juga merangkap mafia.

Oleh karenanya, gagasan tentang koperasi pangan tidak bisa disepelekan. Ia adalah wacana paling mungkin untuk mewujudkan pasar beras berkeadilan. Koperasi pangan memungkinkan petani, distributor, dan konsumen terikat dalam satu ikatan kepemilikan. Maka iklim yang muncul adalah keterbukaan dan upaya saling menghargai. Konsumen tahu persis cara bagaimana kerja-kerja petani untuk menghasilkan beras berkualitas, sebagaimana petani tahu persis berapa harga yang ditetapkan distributor pada pembelinya.

Obrolan masih terus berlanjut, hingga saya kemudian merasa ada yang tak beres dengan perut. Mungkin akibat mulut yang sedari duduk tak henti-henti mengunyah. Saya pun izin ke belakang untuk menuntaskan hasrat terpendam. Tak lama setelah masuk ke dalam dan bergabung kembali dengan obrolan, Pak Tri mengajak kami melihat laboratorium mininya. Menunjukkan pembuatan pupuk dan kolam biofloknya. Sehabis itu kami berpamitan untuk pulang. Pak Tri memberi kami oleh-oleh tak imbang. Om Heri dapat beras untuk ditanak, saya dapat buku untuk diketik (lagi). Hiks.

Comments

comments

Tags: Koperasi Pangan, pasar beras berkeadilan Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.