Kopi Lokal dalam Ikhtiar Merawat Kebhinekaan; Sebuah Laporan Kegiatan

 

seminar tentang kopi

memegang papper hingga jidat adalah pertanda peserta yang serius

Semilir angin dari hamparan luas padang golf meniupi kepala enam puluhan orang yang sedang duduk memperhatikan laki-laki berambut gondrong berbicara. Sementara di belakang pria gondrong berkursi roda tersebut, tampak dua orang laki-laki lainnya yang masing-masing berbaju merah dan batik, duduk menunggu giliran. Mereka adalah moderator dan pembicara kedua pada seminar bertema Merawat Ke-Bhineka Tunggal Ika-an dengan Semangat Produk Kopi Lokal.

Sambil celingukan mencari kursi kosong, kami melihat para peserta khidmat mendengarkan. Sementara mata mereka tak henti menyapu pandangan antara panggung acara, pria berkursi roda yang sedang asyik menerangkan, dan caddy golf yang gemulai mengajari laki-laki bertubuh gempal cara mengayunkan stik.

caddy golf cantik

Suasana segar di sekitar acara seminar

Suasana seperti itu yang kami dapati ketika menginjakkan kaki di ruang seminar yang lebih mirip serambi ketimbang ruangan. Saya bersama dua orang penting di esensiana, Aef dan Arigus, dikabari untuk datang pada acara tersebut dengan iming-iming sertifikat dan makan gratis. Dan seperti biasa, kita telat untuk sebuah kedatangan bernama liputan. Ya meskipun belum terlalu telat sih, setidaknya jatah makan dan seminar kit masih tersisa. Alhamdulillah.

Usai dapat tempat duduk, Aef menyadari satu kesalahan terbesarnya; belum ngambil jatah makan. Diapun beringsut menuju tempat registrasi kembali, meminta jatah nasi. Setelah dapat mereka berdua tanpa basa-basi makan, sambil sesekali mengangguk tanda pura-pura mendengarkan. Saya yang sudah kekenyangan karena tak dikasih tau acara tersebut berbonus makan enak gratis, cuma bisa menyesali, kenapa, kenapa aku tadi makan dulu sebelum berangkat. Kenapa Tuhan?

Sebagai usaha menghapus rasa sesal itu saya mencoba untuk serius untuk menyimak materi seminar. Setelah melihat banner yang jadi backdrop, saya baru tahu, pria berkursi roda yang jadi pembicara adalah Ashari Kimiawan. Beliau adalah pakar kopi, setidaknya saya tau dari caranya menjelaskan teknis pengolahan kopi berikut permasalahan di setiap tahapnya. “Untuk bisa tersaji di cangkir siap minum, biji kopi mustinya memerlukan waktu satu tahun. Tapi petani kita, kerena desakan kebutuhan, tidak mungkin menunggu selama itu”. Urainya meyakinkan.

Sementara yang duduk di atas panggung adalah Bapak Ashoka Siahaan. Sebagaimana tertulis di banner, beliau adalah ketua Pusat Kajian Ideologi Pancasila sekaligus ketua padepokan filsafat Yasnaya Polnaya. Satu orang lagi ya moderatornya. Namanya saya tidak tahu, tapi saya pikir dia sudah tahu konsekuensinya bersanding dengan nama-nama besar; tersisih dan dilupakan. hiks.

Lalu seiring Aef dan Arigus menandaskan butir demi butir nasi di hadapannya tibalah giliran Pak Ashoka menyampaikan materinya. Sebagai pelengkap beliau juga telah menulis sebuah papper bertajuk Kopi Serikat Gotong-Royong. Sebuah judul yang tentu saja akan menarik disimak, pikir saya.

Sekitar 40 menitan beliau berbicara panjang lebar menjelaskan. Dan pasti saja saya tidak punya cukup kapasitas untuk menyerap semua materi yang disampaikan. Saya hanya menangkap tak seberapa dari sekian banyak yang menjadi pokok bahasan.

Perjalanan soal kopi, kata Pak Ashoka, merupakan perjalanan peradaban. Statusnya meliku mengikuti dinamika negara-negara. Dari yang semula menjadi minuman para raja, hingga biasa disesap rakyat jelata. Kopi juga menjaga kuat identitas kedaerahan di mana ia ditanam. Meski telah jauh diekspor ke Amerika, di kedai kopi di New York sana misalnya, kita hanya akan mendapati kopi Gayo, Sidikalang, Java dan sebagainya. Sama sekali tidak ada nama kopi Indonesia di sana.

Bagian yang menarik, setidaknya itu menurut saya, dari yang disampaikan Pak Ashoka adalah perihal kopi gotong royong. Secara kasar konsep tersebut bisa digambarkan sebagai keadaan di mana para petani menyatukan hasil produksinya kemudian mengolahnya bersama stakeholder lain hingga kopi tersebut siap dibeli.

Konsep Kopi Gotongroyong pula menghendaki terjadinya fair trade antara petani, pengolah, hingga pedagang dalam rantai pasar kopi. Dengan begitu dari petani hingga konsumen dapat menikmati hasil dari kopi secara adil.

Sebagai infrastruktur sosial konsep Kopi Gotong Royong bisa dieksekusi dalam wadah koperasi. Di dalamnya semua stakeholder yang berkecimpung dalam industri kopi bisa bergabung untuk saling menguatkan dan mengisi.

Di sisi lain, Pak Ashoka juga menegaskan perlunya kejelasan posisi petani kopi. Selain penanam, petani juga mesti memilih untuk menjadi penikmat, penjual, pengolah, atau pelaku kerjasama dalam pengembangan kopi ini. Dengan kejelasan posisi petani, kata Pak Ashoka, akan memudahkan untuk meningkatkan pemberdayaan petani. Karena menurutnya,  akan berbeda cara meningkatkan pendapatan petani dalam posisi sebagai penjual dengan penikmat, dan sebagainya.

Setelah itu saya tak begitu mendengarkan. Asyik dengan kegiatan khas kawula muda; selfie dan hahahihi. Tanpa sadar sesi materi ditutup, moderator lalu mempersilahkan penananya yang tampaknya juga sungkan. Sebelum berakhir saya pun memberanikan diri bertanya. Ya meskipun pertanyaan itu lebih bernuansa cari perhatian daripada cari tau.

Lalu setelah moderator menutup acara, saat peserta berhamburan mencicipi kopi yang disediakan gratis panitia, kami mlipir menemui pembicara. Basa basi sebentar, minta foto, bertukar eh bukan, tepatnya kami dikasih kartu nama, lalu kami pergi meninggalkan kerumunan. Ke tempat temen melanjutkan cekakakan hingga larut malam.

Foto bersama pembicara seminar

Mengakhiri kegiatan dengan foto adalah sebentuk kerja keabadian

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Albert Camus
Pidato Kebudayaan Nobel Sastra Albert Camus
CPNS
Yang Tidak Bisa Diremehkan dari CPNS
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Terkuaknya Saracen
Terkuaknya Saracen dan Perintah Islam dalam Berhati-hati Menyikapi Berita