Ahok dan Koplo

KOPLO

17/04/2016 114 0 0

Koplo, siapa tak kenal genre musik yang satu itu? Hampir semua orang di semua penjuru negeri ini tak asing dengan musik yang khas dengan taluan kendang nan memanjakan telinga itu. Belum lagi liak-liuk biduanitanya yang kerap membuat kita semua blingsatan. Jujur saya tidak punya kompetensi di dunia musik. Tapi sebagai penikmat musik, saya kerap dibuat heran dengan musik yang satu itu. Pasalnya hampir semua jenis lagu dapat diiringi dengan musik koplo.

Sepelan atau secepat apapun alunan musik, ajaibnya, koplo selalu saja bisa mengiringinya. Luwes. Dengan satu dua tepukan kendang koplo mampu merainkarnasi sebuah lagu. Ya, karena itulah koplo menjadi musik sejuta umat. Musik yang didengar di hampir semua kalangan, dari kanak-kanak hingga kakek nenek. Saking merkayatknya musik ini membuat beberapa daerah kranjingan dengan dendangannya.

Di beberapa tempat di Indonesia, koplo selaksa candu. Pantura misalnya, daerah sepanjang pantai utara ini adalah rumah bagi musik koplo. Daerah tersebut begitu lekat dengan nama-nama tenar di dunia perkoploan.  Jadi mulai dari sunatan hingga lebaran musik yang disajikan pasti bernuansa koplo. Utamanya diacara-acara keluarga semisal hajatan pengantin. Di sana koplo adalah hajatan itu sendiri. Belum afdol rasanya jika hajatan digelar tanpa koplo disajikan. Atau malah, belum sah pengantinan seseorang jika belum ada musik koplonya.

Pada titik ini saya berkesimpulan bahwa koplo bisa bertahan berkat kemampuan magisnya melahap semua genre musik. Anehnya koplo melakukan itu dengan cara yang sama. Coba saja Anda perhatikan musik yang diaransemen dengan koplo. Ya cuma gitu-gitu aja. Ia selalu hadir dengan kendang yang bertalu-talu tapi kok ya tidak membosankan. Tapi begitulah hiburan. Kita tak wajib mencari alasan kenapa kita bisa terhibur. Penting nikmati saja.

Ini jua yang perlu kita amalkan di dunia politik. Bagi awam seperti saya, politik adalah hiburan. Oh tidak, ia juga soal bisinis.

Kekinian kita sering sekali dipaksa bingung oleh media terkait pemberitaan dunia politik nasional. Salah satu yang hangat adalah munculnya sosok Ahok di banyak headline berita. Rasanya ingatan kita sudah terlalu pendek untuk mendaftar kasus dan laku politik yang berkaitan dengan nama Ahok.

Kita bisa memulainya sejak Ahok menjadi gubernur Jakarta saja. Beragam permasalahan menyangkut suami Veronica Tan ini. Yang masih anget kasus UPS dengan seteru abadinya, Haji Lulung, hingga yang terakhir reklamasi teluk Jakarta dan kasus rumah sakit Sumber Waras.

Pada derajat tertentu kok Ahok ini seperti musik koplo. Ia bisa saja melahap semua genre permasalahan. Mulai dari yang remeh temeh macam bir di ruang tamunya hingga dugaan mark up anggaran yang berpotensi merugikan negara ratusan milyar. Ahok, sebagaimana koplo, juga sebenarnya menggunakan cara yang sama untuk menghadapi permasalahanya. Kelugasan dan hentakan.

Ahok juga serupa candu bagi sebagian pihak. Lihat saja anak-anak muda yang tanpa dibayar rela mengumpulkan KTP warga Jakarta, yang sampai artikel ini ditulis, jumlahnya hampir satu juta KTP. Berita tentang Ahok juga menjadi marketable. Seperti koplo, Ahok menyajikan banyak hal yang berbeda dari politisi lain. Ia begitu genuine dan tanpa canggung menyebut tai, edan, gila. Betul itu ibarat hentakan kendang yang meski memekakan telinga namun sedap didengar.

Pada akhirnya, koplo. Ahok dan dunia politiknya juga cukup kita nikmati saja. Merutuki sajian musik yang sedang berlangsung hanya akan sia-sia. Hentakkanya terlalu keras untuk mendengar gerutu kita. Mending ikut goyang saja. Kalo cukup uang ya sawer saja!

Comments

comments

Tags: Ahok, Indonesia, Koplo, politik Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.