Kota Batu : City Branding, dan Land Reform

Beberapa bulan silam, hamba diberikan kesempatan menjejaki tanah di sebelah timur Jawa Tengah itu bersama sanak-family Koperasi Mardi Santosa dalam rangka wisata sekaligus merampungkan RTK tahunan. Kebetulan, destinasi wisata kali ini menyambangi Kota Batu.

Melintas di alun-alun Kota Batu, tersuguh begitu banyak wahana dan tujuan wisata yang tertulis di plang. Tanda kamu harus menentukan arah, mau kemana? Baru sampai alun-alunnya saja, sudah mirip seperti dunia fantasi ala Ancol. Atau mirip seperti wahana pasar malam di perkampungan, tapi  ini lebih futuristik dan megah, jauh deh pokoknya (maklum anak kampung) seolah memanjakan pelancong. “Ayo bersenang-senang!”.

Pas lagi nyelonong sekitaran alun-alun ada tulisan “Batu Kota Sejuta Wisata” , tapi sayangnya kunjungan kenegaraan lampau hanya mampir ke Jatim Park dan Agrowisata daerah Bumiaji. Tak apa, yang penting ada bahan buat cerita anak-cucu kelak, “nak, buapakmu kiye uwis tau dolan mBatu! tahu apa kamu soal hidup?”.

Sebagai kontributor (gak jelas) dan sahabat esensiana yang baik, tentu perlu membagikan cerita perjalanan kenegaraan hamba yang jarang-jarang itu. Oiya, gak usah ditanya lagi ke sanannya sama pacar apa enggak. Wes, berikut sedikit tulisan tentang Kota Batu yang menerapkan Land Reform sebagai City Branding dan beberapa kisahnya, semoga ada esensinya.

Darimana asal muasal nama Batu?

Kalau orang Jawa mempunyai kebiasaan mempersingkat kata atau mengucap nama sesuatu yang berawalan dengan huruf B ditambahkan huruf M. “Mbatu”. Menurut beberapa informasi, penamaan Batu berasal dari cerita rakyat. Bahwa dahulu ada ulama yang sering dipanggil dengan sebutan Mbah Wastu. Lalu kebiasaan dipanggil dengan “Mbah Tu”. Beliau merupakan salah satu dari pengikut Pangeran Diponegoro, dan menjadi sesepuh yang dipercayai oleh banyak orang. Dari sini pula dipercaya jadi awal mula sebutan Kota Batu.

Perjalanan dari Kebumen menuju Kota Batu, hanya beberapa ‘sekejap mata’ saja. Lha wong di bis, dihabiskan untuk hibernasi, menyimpan energi dan tak sabar ingin sowan ke tempat dimana nama Raden Panji Pulungjiwa menjadi legenda.

Tentang Apel dan Kota Batu

Apel, adalah buah yang mengandung antioksidan yang tentu memiliki manfaat bagi kesehatan. Ikon Apel adalah proses penemuan jatidiri yang tidak singkat. Mengingat, Kabupaten Malang ini sudah berdiri semenjak 8 Masehi, berdasarkan prasasti Dinoyo. Tepatnya, pada tanggal 1 Margasirsa 682 Saka (28 November 760). Coba hitung saja sudah berapa umurnya? Buanyak dek!

Nah, kalau Kota Batu itu termasuk wilayah kotatif dari Kabupaten Malang. Sebelum dikukuhkan menjadi kota madya, Batu hanyalah sebuah kecamatan. Namun sejak 2001, diresmikan menjadi pemerintahan kota. Karena memenuhi 5 persyaratan seperti faktor geografis, ekonomi, sosial budaya, sosial politik, keamanan dan ketertiban (UU No.11 Tahun 2001). Perjuangan menjadikan Batu menjadi wilayah kotatif ternyata memakan kurang lebih  6 tahun, awal mulanya digerakan sejak tahun 1995. Wah!!

Menurut penelitian, Kota Batu dalam hal perkembangan menjadi kota wisata dipengaruhi oleh orientasi Rurban Oriented Paradigm, dimana model perkembangan kota ini fokus memaksimalkan potensinya. Dilihat dari visi Kota Batu“Batu, Agropolitan Bernuansa Pariwisata dengan Masyarakat Madani”. Keren !

Makanya, di sana banyak perkebunan warga yang ditanami apel hijau. Apel, apel, apel dan apel. Kalau blusukan sampai ke desa dan kebun sekitar Kota Batu, pastilah terpatri dalam benak bawah sadar. Buah ini dimana-mana menambah penasaran bagi para pelancong yang baru datang. Dari papan alamat rumah warga, sampe souvenir, semuanya berbentuk apel. Jangan- jangan almarhum Steve Jobs terinspirasi dari sini ya? Hehehe.

Apel Sebagai City Branding Kota Batu

Kota Batu memiliki iklim yang khas dengan kesejukannya, cocok untuk budi daya tanaman tipikal sub-tropis, seperti apel. Letaknya yang dekat dan dikelilingi oleh 7 dari 10 gunung api aktif di Jawa Timur, memungkinkan tersedianya kandungan tanah vulkan yang subur, meski beberapa kawasan tandus karena pengolahan atau perlu adanya treatment tanah supaya siap untuk di tanami.

Sejarah mengungkapkan, sejak tahun 1930 pada masa penjajahan Belanda, Apel sudah mulai di tanam di Batu. Hal ini karena kesamaan iklim sejuk, dan apel jadilah satu-satunya tanaman yang dapat tumbuh di iklim tropis dunia.

City Branding apel yang dibungkus menjadi kegiatan wisata minat khusus di Kota Batu adalah sinergi dari berbagai elemen dan unsur antara manusia dengan sumber daya alam. Kemasan wisata agropolitan merupakan bentuk lain dari suksesi land reform, yang mana masyarakat berhasil mengolah tanah menjadi menguntungkan, meningkatkan taraf hidup, menciptakan lapangan pekerjaan, hingga jadi trend wisata minat khusus.

Menurut Moilanen & Rainisto, pergeseran trend branding dari prodak barang atau jasa, kini merambah ke ranah kota maupun negara. Kota Batu memiliki banyak destinasi wisata dan apel yang jadi ciri khasnya.  Dasar pembentukan pikiran para pelancong inilah asal muasal citra atau branding terbentuk (Blain, et al. 2005). Kota Batu pernah dijuluki sebagai De Klein Switzerland atau Swiss kecil di pulau Jawa karena kesamaan morfologi dan iklim sejuknya. Predikat ini melekat semenjak zaman kolonial hingga sekarang ini.

Kota Batu sebelum tahun 2001, merupakan bagian dari Sub Satuan Wilayah Pengembangan 1 (SSWP 1) Malang Utara. Kawasan tersebut memiliki keunikan dan cirikhas yang mampu menyedot banyak perhatian dari wisatawan. Tak hanya itu, tanaman Apel yang awal mula dipersepsikan hanya bisa tumbuh di negara subtropis, ternyata cocok dengan iklim tropis dengan memilih tempat yang sejuk.

Tahun 1960 juga menjadi tengara kebangkitan penggarapan lahan yang awal mulanya di tanami Jeruk.  Karena hasil panen yang tidak memuaskan, disinyalir terkena penyakit dan hama, masyarakat beralih menjadi petani Apel hingga sekarang.

Banyaknya aktifitas Agro, yang kemudian berkembang menjadi trend positif masyarakat, kian lama Kota Batu menjadi Kota yang lekat dengan julukan Agropolitan. Hal tersebut memicu aktivitas lain, seperti wisata minat khusus yakni Agrowisata.

Industri pariwisata menjadikan kompetisi pembangunan daerah semakin progresif, masyarakat berlomba-lomba merebut hati pelancong dengan berbagai cara. Salah satunya membentuk organisasi-organisasi yang bergerak di bidang perkebunan dan pariwisata.

City branding Kota Batu, memperkuat kesan yang lugas bahwasanya daerah tersebut secara kontinu berusaha untuk dikenal secara luas (high awareness) dengan upaya membentuk persepsi yang baik. Argowisata merupakan salah satu trend wisata yang memetik apel langsung dari kebun, bisa dikatakan sebagai tujuan-tujuan khusus (specific purposes) dan dianggap tepat sebagai  tempat investasi, tujuan wisata, tempat tinggal dan penyelenggara even. Selain itu, faktor penting lain ialah bahwa Kota Batu menunjukan tingkat keamanan dan kemakmuran yang tinggi (Mufrianti, 2010).

Bicara soal City Branding, pastilah terdapat komunikasi yang terjalin. Komunikasi primer dan sekunder menurut Kavaratzis menjelaskan ; city branding terhimpun dari berbagai indikator, yakni; periklanan, hubungan masyarakat, desain grafis, slogan, dll. Ini yang masuk dalam bahasan komunikasi sekunder. Sedangkan komunikasi primer terdiri atas letak strategis, kebudayaan, struktur organisasi, dan infrastruktur.

Tahun 2015, wisatawan yang mampir ke Kota Batu mencapai lebih dari 3,5 juta, dengan target 18 ribu pelancong warga negara asing. Dalam rangka meningkatkan investasi dan kunjungan wisatawan, Kota Batu terus berbenah dan menggelar even-even kedaerahan maupun internasional.

Buat sahabat esensiana yang pengin berlibur bisa banget tuh merencanakan dengan orang terkasih ngadem di Kota Batu. 

Jadi, dari berbagai penjelasan di atas, mulai dari land reform  hingga penciptaan city branding Kota Batu ternyata perlu langkah yang panjang dan menggandeng banyak pihak. Benar pula adanya tentang lagu dari efek rumah kaca yang berjudul Pacar eh… Pasar Bisa Diciptakan”. hehehe

 

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga