Kuliah Terus Kapan Belajarnya

Kuliah Terus Kapan Belajarnya?

21/06/2017 197 0 0

Kuliah Terus Kapan Belajarnya

Kuliah Terus Kapan Belajarnya

Kuliah Terus Kapan Belajarnya? Masa kuliah saya sudah mendekati akhir. Belum akhir–akhir banget sih masih semester delapan (bandingkan dengan skala 14 semester). Jadi sudah hampir empat tahun saya jadi mahasiswa. Selama rentang itu pula saya sudah lupa berapa kali kuliah dan berapa kali mbolosnya. Begitupun dengan biaya sehari–hari, entah sudah berapa puluh juta. Semuanya berjalan begitu saja tanpa ada something unforgotable. Sesutau yang mak trep di ingatan.

Jujur saja, ketika kamu menanyakan apa yang saya dapat dari semester satu hinga delapan maka saya akan gelagapan menjawabnya. Bahkan saya tidak tahu secara persis apa yang saya dapat. Saya pernah di ajari teori ini dan teori itu yang alhamdulilah,, lupa! Ya nyaris semuanya lupa dan yang tersisa hanyalah diktat ajar dan bayang-bayang si dia saja.

Rasa-rasanya kepala saya ini bagaikan ember bocor. Setelah diisi airnya hilang merembes. I got nothing, gak dapet apa–apa.

Mungkin ngawur juga kalau saya bilang I got Nothing selama kuliah. Pasti adalah pengaruh atau hasilnya. Pasti ada, tapi apa ya?? Oke, beri waktu saya beberapa malam untuk bersemedi mengingatnya.

Bagi saya kuliah itu sama saja kaya SMA. Duduk di kelas, dengerin dosen, dan sesekali ketiduran atau sengaja tidur. Bila kelas usai, semuanya juga usai, gak dapat apa–apa. Dan rata–rata seperti itulah setiap perkuliahan saya jalani.

Pun demikian sebagian kawan-kawan saya berkuliah. Oleh karena itu bukan hal baru jika banyak mahasiswa yang jenuh. Bahkan banyak mahasiswa itu kerjaaannya ngeluh. Mulai dari urusan akademis hingga perilaku dosen yang kadang menyebalkan mahasiswanya.

Ya begitulah, kadang kuliah itu cuma bikin cape ketimbang bikin pinter. Selain tugas normatifnya yang seabreg, kadang dosennya itu lhoo ngegemesin banget. Kalau saya sih sebenarnya gak terlalu musingin tugas yang seabreg itu. Tapi kadang suka gak tahan kalau lihat sikap dosen, tentu dengan cara ajar dan metode penilaiannya yang kaku.

Weits, stop! Ini bulan puasa, jangan  ngomongin orang banyak-banyak.  Dan emang nggak semuanya kaya gitu sih, banyak juga dosen yang benar – benar baik dan inspiratif. Yang benar–benar berkapasitas.

Tapi begini, kuliah itu bukan rutinitas yang mustinya terpisah dengan kebutuhan saat usai kuliah. Sampai di sini, kita harus sepakat, bahwa kebutuhan usai kuliah tak sesederhana sekedar urusan dapat kerja cum jodoh. Ada banyak hal yang tak boleh kita lupakan selain urusan menghapal teori dan definisi untuk kemudian dituliskannya lagi pada lembar jawab ujian.

Sederhananya kuliah tak melulu duduk di kelas untuk mendengar ceramah dosen. Lebih konkrit dari itu, mestinya juga kita keluar kandang untuk belajar pada realitas yang sesungguhnya. Karena pada hal yang demikianlah nantinya mahasiswa akan berhadapan. Kalo tidak sejak awal diperkenalkan, para sarjana baru tak ubahnya katak yang dilepas dari tempurung. Gagap realitas.

Pada pengharapan akhir, kuliah seharusnya tidak hanya berbekas pada ingatan tentang nama-nama tokoh berikut teorinya, tapi juga mewatak pada sikapnya. Sejatinya sikap dan etos itulah yang menjadi kunci kesuksesan para sarjana anyaran dalam mengarungi bahtera kerja, usaha, maupun karya.

Comments

comments

Tags: belajar, Kuliah Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aef Nandi Setiawan Aef Nandi Setiawan

Founder & GM Indonesian Creative Coop Researcher at Kopkun Institute Vice Secretary at Natural resources department HMI Badko Jateng - DIY

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.