Kagalauan Sarjana

Lafran Pane, Cak Nur, Mas Pram, dan Kegalauan Sarjana

04/10/2017 330 0 0

Lafran Pane, Cak Nur, Mas Pram, dan Kegundahan Adinda

Lafran Pane, Cak Nur, Mas Pram, dan Kegundahan Adinda

Pagi hari yang berbeda dari biasanya. Langit di awan terlihat mendung, suasana hati adinda pun menjadi tidak karuan. Entah karena baru dinyatakan sebagai seorang sarjana atau karena masih menunggu jawaban dari kekasih tercinta. Aktivitas sehari-hari yang dijalani sudah berbeda dari biasanya, praktis kini hanya bisa berserah pada pandangan masyarakat, apakah bisa diterima layak sebagai seorang sarjana atau tidak. Sambil menimbang keputusan untuk pergi melamar mana, kerja atau wanita.

Kegalauan di penghujung tahun, ditambah musim hujan ini membuat adinda merasakan hal-hal yang baru. Satu sisi lebih bersyukur atas apa yang Tuhan berikan selama ini, tapi di sisi lain keraguan menyelimuti hati. Terutama sebab pertentangan antara dua pilihan: idealisme atau realitas. Adinda yang selama kuliah kenyang dengan arti sebuah idealisme, bertabrakan dengan kenyataan hidup yang sarat oportunisme. Adinda, segera buatlah pilihan, agar tak terjebak dalam ide dan realitas.

Pada saat ini adinda ingin bertanya bagaiamana cara orang-orang terdahulu bisa menentukan pilihan hidupnya tanpa melunturkan idealismenya. Misalnya Lafran Pane, Cak Nur, & Pramodeya Ananta Toer. Mereka ini adalah orang yang cukup berpengaruh dalam hidup adinda.

Lafran Pane adalah orang yang memprakasai berdirinya organisasi Himpunan Mahasiswa Islam. HMI. Organisasi mahasiswa Islam modern pertama yang lahir di negara ini, dan sampai sekarang tetap bertahan mengikuti arus zaman.

Lafran Pane adalah sosok yang sederhana lahir dan dibesarkan di Padang Sidempuan. Dari kecil hingga remaja beliau sosok yang nakal, hingga hidupnya pun tidak karuan. Bahkan semasa menempuh studi beliau pernah bergabung dengan sebuah geng mafia Jepang saat itu. Namun karena ulahnya, akhirnya dia dipulangkan ke kampung halamannya.

Ketika beranjak dewasa beliau menyempatkan untuk kuliah dia STI (Sekolah Tinggi Islam) dan bergabung dengan organisasi PMY ( Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta ). Melihat kondisi mahasiswa pada saat itu beliau ingin mendirikan sebuah organisasi mahasiswa Islam. Namun niat baiknya tidak di setujui oleh kawan-kawan PMY.

Beliau tidak mau menyerah begitu saja, dikumpulkannyalah beberapa kawan-kawan STI untuk Mendirikan HMI, dan akhirnya terbentuk pada tanggal 5 Febuari 1947.  Perjalanan tidak hanya sampai situ beliau terus mengawal organisasi ini sampai pada akhir hdiupnya. Yang saya hormati dan kagumi ialah pendirian beliau yang tidak mau masuk dunia pemerintahan pada saat itu. Padahal dengan segala kemampuannya, mudah saja bagi beliau untuk masuk ke pemerintahan. Beliau justru fokus pada bidang akademisinya sehingga meraih gelar Profesor. Gaya hidup sehari-harinya yang sangat sederhana menjadi contoh teladan untuk para anggota di HMI tentunya.

Nurcholis Madjid atau biasa disapa Cak Nur merupakan sosok paling berpengaruh di organisasi HMI bahkan di Negara ini. Adinda sedikit membahas masalah yang terjadi pada saat tahun 1960-an pada saat itu terjadi polarisasi politik yang cukup kuat sehingga salah satu dari tiga partai terkuat harus dibubarkan.

Partai Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno karena telah dicurigai terlibat dalam pemberontakan PRRI. Setelah dibubarkannya masyumi sehingga membuat Partai Komunis Indonesia pada saat itu makin berkuasa dan organisasi HMI pun menjadi sasaran kedua untuk dibubarkan. Mari kita lihat kondisi internal HMI pada saat itu terdapat perdebatan yang sengit yang terjadi antara kawan-kawan Bandung dan Yogyakarta. Perdebatan panjang itu terjadi setelah Masyumi dibubarkan. Melihat kondisi pada saat itu terjadi kekosongan dan akan dibawa kemana HMI kedepannya, kawan-kawan dari bandung yang digawangi oleh Sakib Mahmud CS bersepakat untuk membawa HMI kepada keranah keislaman yang kaffah, sedangkan kawan-kawan dari Yogyakarta yang digawangi oleh Ahmad wahib CS menginginkan HMI itu keranah yang berisat bebas atau liberal. Tentu saja hal itu menjadil sebuah polemik, karena ancaman dari luar pun siap menerjang. Kemudian datang lah sosok Cak Nur membawa Sebuah ideologi yang sampai sekarang digunakan oleh HMI, ideologi ini menghentikan polemik yang ada dan siap untuk melawan ancaman dari luar.

Pramoedya Ananta Toer atau biasa dikenal dengan sebutan Mas Pram. Sosoknya membuat dunia sastra di Negara ini lebih berwarna. Karya-karyanya yang luar biasa menjadi sorotan dunia sehingga menjadikan nya kandidat peraih Nobel pada saat itu. Tapi mari kita lihat perjalanan hidupnya,  pada masa kecil ia habiskan hidupnya di Blora. Ia lahir dari keluarga yang cukup mapan pada saat itu, tapi pada saat remaja ia sempatkan untuk bersekolah di Surabaya, kemudian kembali ke Blora. Setelah ibunya meningal karena sakit, dia putuskan untuk merantau ke Jakarta di sana ia ditawari menjadi juru ketik sebuah berita asal Jepang. Banyak orang penting yang ia temui.

Pada suatu saat ia dikirim oleh kantor nya untuk mengikuti sebuah pelatihan, dia agak kaget melihat sosok Soekarno menjadi orang yang pertama mengajar pada saat itu, lalu dilanjutkan dengan Bung Hatta.

Setelah indonesia merdeka dia mulai menulis cerpen dan banyak karya-karya lainnya sehingga membuat namanya terkenal. Sebagai sosok sastrwan ia pun bergabung dengan organisasi Lekra pada saat itu, dan setelah terjadinya Gerakan 30S 1965 namanya pun termasuk kedalam daftar tahanan politik ia di bawa kelapas Cipinang, kemudian dipindahkan ke Nusakambangan. Terkahir ia diasingkan selama 12 tahun di Pulau Buru.

Sedikit yang adinda baca dari karyanya nyanyian sunyi seorang Bisu menceritakan kegiatan sehari-harinya menjadi tapol (tahanan politik), pada suatu saat beliau lupa bagaimana cara untuk menulis padahal itulah satu-satunya yang bisa diperbuat, tapi ia tidak menyerah dengan segenap usahanya akhirnya dapat kembali menulis karya-karya nya kembali, salah satunya ialah tetralogi pulau buru menceritakan masa kebangkitan Bangsa ini.

Itulah yang dapat adinda ceritakan dan tuangkan dalam tulisan ini, adinda merasa masih perlu banyak belajar dan adinda masih belum nganu.

 

Penulis: Andri Wijaya [Pemuda Depok]

Comments

comments

Tags: Bung Hatta, Cak Nur, Kegalauan sarjana, Lafran Pane, Pram, Pramoedya, Soekarno, tantangan sarjana Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.