Lahirnya Masyarakat Komoditas Religius

10/04/2018 215 0 0

Pemahaman tentang agama selama ini hanya dipandang sebagai sesuatu yang sifatnya doktrinal dan ideologis. Tetapi dalam perspektif sosiologis, agama muncul dalam bentuk material di kehidupan sehari-hari karena identitas keagamaan biasanya lebih mudah untuk dipahami oleh masyarakat ketika dimaterialisasi melalui cara bertindak dan berperilaku. Artinya, agama dalam konteks ini adalah “praktik keagamaan” bukan hanya “doktrin keagamaan” agama adalah tentang cara bagaimana orang menjalankan agamanya.

Senada dengan Louis Althusser yang menyatakan bahwa ideologi dapat dimaterialisasi ke dalam bentuk tertentu yang konkrit. Misalnya dalam agama Islam, agama dapat dimaterialisasi ke dalam berbagai bentuk kultural seperti kerudung, sarung, kegiatan pengajian, ibadah seperti haji dan umrah dan sebagainya yang merupakan beberapa bentuk materi dari ideologi Islam sendiri. Dengan demikian, cara bagaimana seseorang beragama menjadi sesuatu yang bersifat kultural.

Masyarakat yang mempunyai orientasi pada pasar atau masyarakat konsumerisme mengalami pergeseran yang signifikan dalam memandang dunia termasuk juga agama. Agama dalam hal ini bukan saja sebagai bagian dari gaya hidup itu sendiri tetapi merupakan gaya hidup itu sendiri.

Ritual ibadah umroh yang dianggap sebagai ritual ibadah yang sakral berubah menjadi produk yang dikonsumsi dalam rangka “identifikasi diri”. Agama kemudian tidak berperan sebagai sebuah label yang melakukan identifikasi terhadap seseorang atau sekelompok orang. Agama telah diperlakukan seperti barang yang diambil alih oleh pasar untuk dikelola sedemikin rupa. Kecenderungan tersebut menunjukkan proses komodifikasi kehidupan sehari-hari.

Kegiatan seperti haji dan umroh secara tidak langsung melestarikan diferensiasi sosial dalam masyarakat dan stratifikasi konsumen yang telah ditetapkan oleh pasar. Dalam hal ini, kapitalisme terus menerus menciptakan kebutuhan baru untuk menjaga kelangsungan konsumerisme.

Pasar sengaja menciptakan perilaku konsumsi secara terus menerus sehingga dapat melampaui kebutuhan material. Ketika kebutuhan material telah terpenuhi, konsumsi diarahkan pada pemenuhan kebutuhan immaterial. Sebut saja misalnya, kebutuhan immaterial seperti kepuasan, kenyamanan, gaya, pemenuhan impian  adalah sesuatu yang semu dan tidak pernah selesai. Mengonsumsi komoditi immaterial selalu berakhir pada “penipuan” dan pencarian gaya dan kepuasan lain secara terus menerus.

Apalagi saat ini untuk berangkat haji membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menunggu, untuk mengobati rasa rindu tanah suci mereka berbondong-bondong melakukan ibadah umroh. Ramainya para politisi, tokoh ormas, pejabat publik bahkan selebritis melakukan ritual umroh, semakin menginspirasi industri sektor religiusitas. Beberapa ada yang menawarkan paket umroh dari yang murah—bahkan ada yang menawarkan harga sangat miring jauh di bawah ketentuan asosiasi agen penyelenggara umrah maupun pemerintah—sampai mahal, umroh bareng artis, umroh sambil keliling Eropa, umroh yang dilengkapi dengan paket pernikahan. Sekalian saja disediakan jodoh yak. Ngarep hehe

Dewasa ini, semakin banyak jasa penyelenggara ibadah umroh. Dalam hal ini jelas bahwa penjualan jasa penyelenggara umroh menjadi industri baru, yaitu industri sektor religiusitas. Dalam pemasarkan produknya, beberapa industri ini menggunakan beberapa tokoh agama dan selebritis.

Selain itu, pengunaan dalil dan sumber hukum Islam yang mewajibkan haji atau mensunnah-kan umroh menjadi bumbu pelengkap industri religiusitas ini. Pemberangkatan umroh telah menjadi sektor baru dan menjadi komoditas yang prospektif dalam industri jasa. Sejalan seperti apa yang dikatakan oleh Theodor Adorno dalam bukunya The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception bahwa tanda dari lahirnya masyarakat komoditas (commodity society) melalui kebudayaan pop yang berkembang sangat cepat akibat dari penetrasi pasar.

Jika dicermati lebih dalam lagi, ritual umroh menjadi semakin populer di masyarakat menyebabkan pergi umroh bukan hanya bertujuan untuk ritual ibadah saja tetapi untuk membentuk suatu gaya hidup baru dan kelas sosial tertentu.

Jadi kapan kamu mau berangkat umroh bareng aku?

Comments

comments

Tags: budaya, Masyarakat, Religius Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Novy Eko Permono Novy Eko Permono

Koordinator Ikatan Jomblo Nusantara Cabang Surakarta. Dapat disapa via email: [email protected], fb: Novy Eko Permono.

Related Posts