Landreform, PHP, dan Hal-hal Terabaikan

Pertanian sejak pertengahan era orde baru boleh dikatakan mengalami kemadegan. Landreform tak bisa dibantahkan lagi. Terutama dari sisi inovasi dan penegakan hukum. Sebagai akibatnya, sektor yang berkaitan langsung dengan hidup matinya manusia ini terus mengalami gejala kemerosotan. Kalau kita mau ngecek, salah satu indikator paling gampangnya adalah dengan melihat makin rendahnya nilai tukar petani atau NTP. NTP secara bebas bisa kita artikan sebagai

daya beli petani pada harga penunjang produksi dan konsumsi. Realitanya, saat ini ada sekitar 28,59 juta penduduk miskin versi BPS. Dan, masih menurut BPS, sekitar 51% dari angka itu berasal dari keluarga tani. Sampean mau tau berapa ambang yang digunakan BPS untuk menentukan angka kemiskinan? Menurut lembaga survei kepercayaan kita itu orang dengan penghasilan di atas 399 ribu per bulan sudah tidak dikategorikan miskin. Dengan kata lain, orang yang penghasilannya 13.000 lebih sedikit saja per hari sudah nda miskin. Bayangkan, sebuah keluarga dengan 2 anak, umpanya masih sekolah, dikatakan tidak miskin manakala penghasilanya 13.100 saja per hari. Warbiasah.

Walhasil petani kita kian susut. “Dari pada nggarap lahan nda hasil, mending lahannya tak jual buat sangu jadi TKI sajalah” Barangkali begitu pikir petani. Nyatanya data membuktikan demikianlah adanya. Petani kita berkurang dari sekitar 31 juta petani pada 2003 hanya tinggal 26 juta petani saja di 2015. Dan tampaknya masih akan terus menyusut hingga waktu yang belum ditentukan. Melihat trend penurunan jumlah petani di negeri ini mestinya kita ngeri. Karena seperti kita tahu, belum ada pabrik produsen beras bukan? Belum lagi kalo menilik persoalan lain macam alih fungsi lahan,kelembagaan petani, infrastruktur pendukung, kebijakan dan sebagainya. Duh tambah runyem.

Salah satu aspek paling penting dari masalah pertanian adalah agenda reforma agraria (landreform). Persoalan atas tanah ini bukanlah masalah baru. Bahkan diyakini sebagai masalah paling tua dari permasalahan ekonomi-pertanian di Indonesia. Namun ternyata, menyelesaikannya bukanlah perkara mudah bagi pemerintah. Meskipun kita tahu, kalau untuk sekedar niat sih sudah ada dengan didirikannya Badan Pertanahan Nasional. Memang sejak zaman raja-raja, tanah telah menjadi saksi atas berlangsungnya pemerasan kaum bangsawan pada kaum miskin tani. Selalu, jeri payah para tani tak sebanding dengan hasil yang ia dapatkan setelah dipotong upeti. Ditambah petani juga harus “berjudi” dengan serangan hama penyakit dan cekaman alam.

Kita tahu bahwa landreform bukanlah hanya persoalan membagi-bagi tanah pada petani miskin yang tak memiliki lahan semata. Melainkan sebuah upaya untuk menciptakan suatu kondusifitas bagi petani dalam bercocok tanam. Muaranya tentu agar petani berdaya ekonomi memadai. Dalam hal demikian, landreform menjadi amat bertalian dengan aspek hukum, sosial-budaya, politik, ekonomi, hingga teknik. Jadi sulit untuk hanya memandang urusan landreform dari aspek hukum semata.

Pada ukuran kondusifitas seperti di atas, sepertinya kita harus berbesar hati mengatakan bahwa agenda land reform kita menuju kegagalan. Atau paling tidak tengah terabaikan. Praktek reforma agraria pada medio 60an lalu misalnya, negara gagal menciptakan kondisi ramah petani. Bahkan petani semakin kelabakan karena banyaknya dualisme sertifikat kepemilikan lahan dengan korporasi atau instansi pemerintah. Sialnya petani selalu menjadi pihak yang kalah jika kasus dibawa ke pengadilan. Kalaupun menang, itu juga tak akan lama. Karena petani harus menghadapi tekanan psikologis dari instansi yang acapkali represif selepas persidangan. Hal ini tentu disebabkan karena posisi tawar petani yang rendah. amat rendah malah

Sebagai pemangku kebijakan, pemerintah juga seperti tak terlalu serius menangani persoalan tanah ini. Pemerintah nyaris serupa jejaka pemberi harapan palsu pada gadis-gadis desa. Banyaknya janji manis yang diumbar tak diikuti realisasinya. Bukan karena tak mampu, tetapi lebih karena tak mau. Saya tak bisa membayangkan seandainya petani adalah gadis manja yang ngambekan dan gampang merajuk. Mereka tentu tak akan bisa berlama-lama diberi harapan palsu. Karena, sekali lagi, diberi harapan palsu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Bahkan untuk sebutir jeruk sekalipun. Apalagi sampai 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun dan seterusnya.

Salah satu bukti betapa PHPnya pemerintah kita ini misalnya dengan berlakunya UU No.5 tahun 1960 tentang UU Pokok Agraria. Dalam UU tersebut muncul pasal tentang pembatasan kepemilikan lahan yang sempat membuat petani girang. Apa soal? Karena dengan begitu penguasaan lahan menjadi kian merata. Sederhananya biar lahan tidak hanya dikuasai keluarga nganu dan para anu saja. Tapi ya itu, namanya juga PHP, lama setalah UU disahkan nyatanya juga tak ada pemerataan kepemilikan lahan. Sejauh ini baru kabar-kabar tentang akan dan akan semata yang sampai ke telinga petani. Nyatanya? Hahahha.

Eh ya asal sampean tahu, sekarang ini hanya 0,2 persen penduduk negeri ini yang menguasai 56 persen aset nasional yang sebagian besar dalam bentuk tanah. Ketimpangan agraria juga ditunjukkan dengan kenyataan bahwa 35 persen daratan Indonesia dikuasai 1.194 pemegang kuasa pertambangan dan beberapa ratus pengusaha kelas ngehek. Ironisnya, penguasaan lahan oleh petani justru kian sempit. Sebabnya karena dijual, digusur untuk membangun jalan, atau karena diwariskan ke beberapa anaknya. Badan Pusat Statistik mencatat, pada periode 1993-2003, jumlah petani gurem meningkat dari 10,8 juta menjadi 13,7 juta orang. Nda tau petani gurem? Petani gurem ya yang itu, yang kepemilikan lahanya hanya sepelemparan ingus.

Sebagai perbandingan nih, rata-rata petani Thailand menggarap 5 Ha lahan per petani. Atau Malaysia yang rata-rata petaninya mengolah 4 Ha lahan. Nah di kita? Petani Indonesia memilki 0.3 Ha untuk diolah tanahnya. Alhamdulillah.

Di tengah kepemilikan tanah kita yang masih tercecer sempit-sempit itu sebenarnya kita bisa saja menggalang petani membentuk kekuatan mumpuni. Misalnya seperti Ide yang pernah digagas Profesor Sayogya. Beliau mengusulkan supaya dibentuk Badan Usaha Buruh Tani (BUBT). Idenya, tanah-tanah sempit yang dimiliki petani digabungkan untuk kemudian dikelola secara profesional dan menguntungkan. Sementara petani pemilik lahanya menjadi pemegang saham yang boleh juga sekaligus menjadi pekerja di perusahaan tersebut. Sependek amatan saya, ide ini begitu brilian. Hal ini senafas dengan semangat koperasi yang dulu digagas Bung Hatta.

Sampean tentu tau dengan konsep titik impas dalam dunia ekonomi bukan? Itu lo sebuah titik dimana biaya atau pengeluaran dan pendapatan adalah seimbang .Tidak terdapat kerugian atau keuntungan. Ketercapaian titik impas ini amat bergantung pada skala produksi. Nah kalau petani kita harus berproduksi dengan lahan yang sempit-sempit begitu jelas akan rugi. Maka dari itu ide penggabungan adalah hal yang logis. Teknisnya seperti apa ya biar pemerintah yang ngurusi to, masa nanya saya.

Apakah ide ini tidak sampai ke telinga pemerintah kok nda dijalankan? Saya sendiri tidak yakin bahwa indra dengar pemerintahan demokratis, yang konon aspiratif, macam Indonesia tak mendengar Ide rakyatnya. Wong sudah banyak diseminarkan kok. Tapi ya kembali pada prinsip dasar sang PHP, bukan karena tak mampu, cuma tak mau.

Ohya, kalau sampean menuduh saya cuma bisa menyalahkan pemerintah ya memang betul. Kan memang untuk itu rakyat bayar pajak. Memangnya siapa yang bisa dilsalahkan selain pemerintah? Moso rakyat yang papah? Mau nyalahin LSM, Ngamerika, atau malah Yahudi? Oh atau jangan-jangan sampean menyuruh saya menyalahkan Tuhan? Walah saya nda berani itu. Suer.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga