Berbagai Macam Olahan Kata dan Maknanya

Makna kata slang

Semua tubuh kita memilih katanya sendiri, dan setiap kata memiliki maknanya masing-masing

Dalam jajaran Film Box Office Indonesia 2016 ada beberapa film yang masuk jajaran elite semisal AADC?2. Film yang dibesut oleh Riri Riza tersebut mampu menyedot animo pirsawan layar perak lebih dari 3,6 juta pasang mata. Namun, kejayaan Rangga dan Cinta digusur oleh Warkop DKI Reborn Part 1 yang mampu meraup lebih dari 6,8 juta pirsawan. Secara keseluruhan film garapan Anggy Umbara mampu menggeser Laskar Pelangi sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak.

Saya menemukan ada teks menarik dalam dialog dan scene Warkop DKI Reborn Part 1. Adalah penggunaan kata “Jangkrik” sebagai slang atau semacam kode untuk meminta uang tutup mulut kepada employer. Pun, perlu dicatat bahwa film ini dibuat ulang dari medio 80-90 an. Pemaknaan kata “Jangkrik” terjadi melalui proses alamiah menyesuaikan dinamika zamannya. Kemunculan dan pembubuhan makna pada suatu kata bukanlah hal yang begitu saja turun dari langit, tetapi sebagai akibat relasi dari suatu kejadian dan memerlukan bahasa sebagai alat untuk membuat kejadian itu dapat dikenali.

Lebih lanjut, ketika kita sedang merayu seseorang atau mencoba untuk membuat candaan akan tetapi realita yang terjadi jauh harapan dari kenyataan seringkali pula kata “Jangkrik” menjadi kenyataan pahit. “Jangkrik” menjadi kata sindiran menohok untuk menembak momen garing, tidak lucu serta kehabisan amunisi untuk menggoda wanita.

Dalam prosa-prosa lama kata “Cengkerik” adalah nomina yang merujuk pada serangga yang suka berbunyi pada malam hari, bukan menggunakan Jangkrik. Jangkrik dalam dongeng Pramoedya, Dendam merupakan euphemisme dari kata Jancuk, sebuah dialek umpatan khas Jawa Timur. Bila kata Jancuk dicari padanan katanya dalam bahasa Inggris, bisa ditemukan kata Fu*k.

Lantas dari berbagai macam arti dan konteks kata “Jangkrik” tadi, makna mana yang sampai saat ini masih dipelihara?

Kekerasan verbal dalam kata “Jomblo”

Selain jangkrik yang memiliki konotasi yang relatif kasar, ada istilah lain yang memiliki derajat sepadan. Jomblo. Sebuah sematan yang woles bagi sebagian orang, tapi amat sinsitif bagi sebagian yang lain.

Sering muncul perdebatan kecil soal status seseorang. Berbagai macam Self Defense Mechanism muncul baik yang aktif maupun pasif sebagai dampak dari konfirmasi status seseorang. Ambillah perumpamaan pernyataan yang klise, “Gua gak jomblo yah, gua single, gua memilih  sendiri. Jomblo kan buat yang gak laku, orang gua gak nyari kok.” Perdebatan menarik muncul mengenai pemakaian istilah orang yang belum memiliki pasangan, ada Jomblo, Single, Tuna Asmara, dll. Terlepas dari nomenklatur mana yang patut, perlu diperhatikan pemaknaan dan konteks munculnya kata tersebut ke dalam ranah publik.

Tuna Asmara, merupakan bahasa komunitas dan istilah Internet untuk mengolok-olok para penikmat meme yang belum berpasangan. Kemudian, Jomblo juga merupakan bahasa komunitas di Betawi 60/70-an yang digunakan oleh perempuan-perempuan yang berkecimpung di dalam bisnis lendir. Kata “Jomblo” digunakan untuk meledek pramunikmat/ wanita tuna susila/ PSK yang tidak memperoleh tamu semalaman. Lain lagi kata single /lajang merupakan bahasa resmi dan baku untuk merujuk identitas seseorang yang belum kawin.

Mengapa orang marah kalau ia disebut jomblo? Disitulah moralitas memiliki daya guna, orang yang berkepribadian kaku dalam pergaulan sering memunculkan perasaan tersinggung saat mendapat imbuhan “Jomblo” sebagai identitas dari dirinya. Ia merasa bahwa kata tersebut jelas-jelas offense menyerang karakter dirinya. Bagi anak-anak yang lentur memandang moralitas kata “Jomblo” mungkin terasa tawar dan klise, tapi untuk individu-individu lain, belum tentu kata tersebut bermakna demikian.

Pertikaian sering muncul akibat ketidakpahaman subjek penutur dan subjek penerima tuturan. Bahasa sebagai alat komunikasi harus disesuaikan dengan konteks sosial supaya tidak berujung pada pendiskreditan karakter seseorang.

Untuk menutup poin  ini saya sadurkan celoteh Dilan, “Aku sedang bersama seseorang, biarlah, ini urusanku. Bagaimana Engkau bersama orang lain, terserah, itu urusanmu.”

Kontestasi-kontestasi bahasa dunia

Ide-ide dan gagasan-gagasan tidak dapat diartikulasikan tanpa adanya bahasa sebagai kendaraannya. Maka, sering kali konstestasi-kontestasi ide dan gagasan akan diikuti dengan kontestasi bahasa baik secara langsung maupun tidak.

Inggris dan Amerika menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa dunia tidak lepas dari pengaruh dan peran mereka sebagai negara patron dalam hubungannya dengan kolonialisme dan imperialisme. Hal yang serupa juga berlaku untuk Portugis, Spanyol, Prancis, Jerman.

Ambillah contoh kata “pencerahan”, negara-negara Eropa memiliki istilahnya sendiri untuk menyebut zaman ini. Renaissance, Verlichting, Enlightenment, dan Aufklarung. Setiap istilah tadi berasal dari negara yang berbeda, pencapaian dalam bidang berbeda dan dalam kronometer yang berbeda pula.

Ada pula contoh lain, subjek “kamu” dalam bahasa Inggris modern dengan bahasa Inggris sebelumnya. Bahasa Inggris lama menyebut kata “kamu” dalam beberapa bentuk; thy, thou, thee. Subjek tersebut masih berkerabat dengan bahasa-bahasa Anglo Saxon.

Setelah Inggris melewati Revolusi Industri dan Era Victorian, ia menjadi salah satu imperium terkuat di dunia. Bahasa Inggris sulit dibendung untuk merangkak ke kaki langit. Tapi ada satu ciri khas, perlahan subjek thy, thou, thee sudah tidak lagi bersaing dengan subjek you. Ada warna rumpun yang berusaha dihapus. Ada upaya inggris untuk mengglorifikasi bahasa mereka terlepas dari infiltasi Anglo Saxon yang pernah menjajah mereka.

Analogi yang sama dalam istilah “masyarakat” dengan “massa rakyat”. Dua kata dari dua orde berbeda dengan kepetingan yang berbeda, namun ada jejak bahasa yang bisa dicerap untuk memahami makna dan konteks apa yang dimaksudkan oleh patron.

Bersambung…

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga