Malam Minggu dan Zaman Gombalisasi

10/02/2018 171 0 0

Beruntunglah mereka yang dilahirkan di dekade awal millennium, saya terkadang memakai anting di kanan kiri daun telinga, buat gayak-gayakan aja. Saya memang dilahirkan zaman Orba (Orde Baru). Jika saya memakai piercing dan tattoo di masa itu, pasti saya sudah menjadi salah satu tokoh orang yang roboh dan telungkup di comberan dan masuk cerpen Seno Gumira Ajidarma, Petrus.

Beruntung pula Mba Fia dilahirkan tahun 1993, jadi bisa memakai kata gender lebih leluasa. Semenjak gender mulai masuk dalam serapan pada pertengahan 90-an, memperdebatkannya hari ini menjadi wajar. Saya pun cukup beruntung, tidak dilahirkan di masa awal revolusi dan besar di masa Demokrasi Terpimpin, dimana biar kelihatan keren harus menolak budaya Barat dan harus melipir ke kiri. Koes Ploes masuk penjara gara-gara memuja musik Barat. Memang, millennial dilahirkan untuk hidup enha-enha.

Gombalisasi dan globalisasi, laksana pinang dibelah kapak, berbeda tapi ada beberapa irisan yang terkait. Gombalisasi tidak bisa berjalan mulus tanpa globalisasi lewat aplikasi pesan dan seterusnya. Bahkan untuk menjadi penyair partikelir, tinggal menoleh ke layar gawai, memindai kata-kata, menulis, lalu mengirimnya. Pesan terkirim dan tinggal menunggu balasan. Muncul Rendra, Kahlil Gibran, dan Sapardi baru. Tentu setiap zaman punya romantismenya masing-masing dalam  mengekspresikan gairah dan hasrat.

Terkadang lena merundung, malam Minggu adalah pesta, dan segala pesta harus dirayakan. Seolah malam Minggu adalah universal dan tidak memiliki dimensi kelas. Saya lalu mencari asal-usul malam Minggu laiknya menggali sumur dengan jarum pentul, tapi Amerika dan Eropa bisa jadi rujukan.

Belum jelas historiografi apakah malam Minggu dimulai setelah mobil diproduksi massal atau mulai setelah Perang Dunia II usai, dimana para veteran perang bergelimang pundi kekayaan, membuat mereka surplus kesejahteraan. Kemudian muncul “Generasi Bunga” yang sangat cair dalam pergaulan.

Malam Minggu atau Saturday night jadi istimewa bagi mereka anak-anak kelas menegah di Amerika dan Eropa, karena eh karena, hari Minggu mobil tak dipakai orang tua untuk bekerja. Mau pesta malam Sabtu? Mobil masih dipakai emak ama bokap buat kobam melempar kebosanan kerja sepekan dengan cucuk-cucuk botol.

Mobil memang menjadi penting untuk menarik gebetan. Lha wong Lasiyah mau saja sama Handarbeni dan betah jadi bekisar merah karena kemana-mana naik sedan.

Selepas memasuki abad 20, dunia semakin kapitalistik, segalanya diukur dengan materi dan hubungan antara manusia menjadi lebih komersial. Imaji malam Minggu penting bagi Eropa dan Amerika yang mengimani kapitalisme, everybody will compete, dan orientasinya menuju penumpukan kapital ke dalam kantong segelintir orang.

Jika diibaratkan sebagai ide, sebagian muda-mudi negara ketiga yang agraris feodal seperti saya ini meniru konsep malam Minggu meski secara praktik berbeda. Malam Minggu dibayar dengan pergi ke pasar malam yang becek sembari memegangi arum manis, menyantap mie ayam atau menonton Ebeg. Malam Minggu palsu dan kosong memenuhi album kenangan.

Bagi pemuda lumpen, buruh tani, kuli, petani miskin tentu tidak bisa mengecap malam Minggu yang seutuhnya. Lebih cocok menjadi Damarwulan dalam mitologi Jawa, siangnya nyangkul dan mencari rumput, malamnya apel dengan penampilan terbaik sembari membawa martabak. Jika calon mertua tidak kerasan, martabak dapat mengisi perut pembawanya sendiri. Roro Mendut yang cakepnya luar biasa aja, kagak gengsi buat jualan rokok demi bisa bertemu Pranacitra.

Mana mungkin menikmati malam Minggu seutuhnya jika sandang dan aksesoris masih bermerek diskon cepe tiga, KW dua, atau grade ori Thailand. Belum lagi membagi duit jalan dengan pengamen, rokok, dan cicilan motor di awal bulan. Sementara itu, sang lelaki pun tahu merek bedak, kerudung apa yang kekasihnya kenakan, dalam monolog-monolog pikirannya sendiri yang membuatnya resah.

Bagaimanapun, ada saja jeda untuk sedikit bersyukur. Di Purwokerto sudah ada Go-car dan Grab, buat mereka yang berkantong tipis, tidak harus menunggu settle menjadi kelas menegah dulu untuk kencan dan naik mobil, tinggal order saja. Dan malam Minggu menjadi sempurna. Paling tidak bisa swafoto buat latar DP atau foto profil. Lebih jauh, bisa jadi yang kita alami selama ini bukan malam Minggu, tapi hanya janji-janji kosong belaka.

Comments

comments

Tags: Globalisasi, Gombalisasi, kapitalisme, Malam Minggu Categories: Malem Minggu Esensiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.