Mati Bahagia a la Choirul Huda

Choirul Huda

Kepergian Choirul Huda untuk selama-lamanya adalah sebuah kehilangan besar bagi Lamongan dan bahkan Indonesia. Selamat jalan Cap. – Penjaga Gawang Meninggal.

Hingga pekan ini, media terlalu bising soal kekecawan babak pendahuluan Piala Dunia, pelantikan pengemudi DKI, registrasi parpol eleksi dua tahun kedepan, dan umpatan-umpatan lain muncul merespon kekinian zona maya. Tercerai berai, kebencian yang membuncah, sentimental degil, luruh seketika. Tiba-tiba ada rasa kemanusiaan yang muncul, setelah langit gelap mencuci awan biru, terdengar tragedi sepak bola yang mengundang empati. Choirul Huda, penjaga kotak enam belas Persela, berlabuh ke kaki langit.

Sepak bola dan jebakan medioker

Setiap anak kecil memiliki mimpi untuk menjadi pesepakbola, melihat piala dunia di depan pesawat televise menghidupkan imajinasi liar anak-anak. Captain Tsubasa, contoh popular bagaiamana Jepang menjadi negara yang diperhitungkan dalam kancah sepakbola dunia, mereka bisa berjaya, menghegemoni sepak bola eropa dengan pemainnya, tapi itu semata imajinasi Yoichi Takahashi. Pemain Jepang mayoritas menjadi pemain medioker. Pengecualian untuk beberapa nama misal, Nakata, Nakamura, Okazaki, dan Kagawa. Terkini, Jepang berhasil menghegemoni dengan game sepak bola yang mendunia.

Setiap anak kecil ingin menjadi pesepakbola, sampai mereka sadar bahwa dalam dunia sepakbola yang sudah menjadi industri, ada pagu yang harus berbicara. Sekolah sepak bola yang menjadi arena produksi dan habitus dunia sepak bola punya beberapa kriteria dalam seleksi alam, andai bakat tidak moncer-moncer amat, maka mimpi-mimpi itu harus segera dijual. Imaji indah anak-anak perlahan ditenggelamkan banalnya kenyataan.

Dendam yang diperam dalam benak itu ada yang tumbuh menjadi para pendukung sepakbola luar negara, menghidupkan budaya nyinyir dan menguntungkan para pegiat meme.

PNS Sepak bola

Sebagai kiper ia pasti jemu, tapi ia memiliki pengalaman unik, berbagai macam bentuk dan warna kepala, warna rambut, raut muka pernah ia temui lengkap dengan macam pomade, serta berengosnya.

Huda menjadi pesepak bola berkat rahmat t(ar)uhan antar kelas semasa sekolah menengah. Ia moncer sebagai kiper semasa bermain di Surajaya, perawakannya yang tinggi memudahkannya mengangkangi kepala lawan. Sebagai pemuda lumpen, tentu sepak bola mengangkat derajat dirinya dan keluarganya.

Sebagai pesepak bola, imajinya tentu dianggap menggiurkan, namun itu sama sekali lain. Sepakbola di Indonesia terlampau berbeda, bahasa urbannya tidak apples to apples. Pemain di Eropa bisa dengan enak berbagi jersey dengan para penggemar, di dalam negeri kerap kali jersey yang dikenakan harus di laundry berkali-kali.

Soal upah, budaya sepakbola dalam negeri hanya mengenal kontrak musiman, itupun harus ditopang APBD (dulu), sering kali upah terlambat dibayarkan. Huda sedikit beruntung, ia diangkat menjadi PNS oleh kabupaten. Pagu hasil keringat lebih aman dan terjamin. Namun sebagai pesepak bola itupun masih bias. Bisa dibayangkan upahnya hanya setara dengan sekian potong celana denim merk Lois, tunjangan istri hanya mampu membeli beberapa potong kerudung Rabbani. Uang jajan anaknya pun hanya setara beberapa bungkus Gudang Garam Surya dalam sebulan. Ia menjadi pesepak bola, tidak serta merta menjadi kaya raya.

Sebagai seorang pria, adalah sunnah untuk wira usaha. Huda mendirikan sebuah usaha, bukanlah sebuah unit usaha besar, melainkan tempat cuci kendaraan bermotor.

Itu semua soal loyalitas dan dedikasi. Selama 18 tahun tanpa berganti klub, itu sesuatu yang mungkin aneh. Itulaha Huda, padahal anak usia 18 tahun sekarang sudah mungkin berpacaran dan nggebet lebih dari sekali. Apalah arti uang dibandingkan dengan perhatian dan penghormatan dari orang seantero kabupaten, bahkan namanya melanglang buana tanpa perlu  endorsement.

Mati Bahagia a la Choirul Huda

Salah satu pertanyaan terpenting dalam filsafat barat adalah soal apakah hidup ini—dengan segala permasalahannya—layak untuk diteruskan atau bunuh diri sebagai jalan keluar. Namun, pertanyaan apakah hidup ini layak diteruskan atau tidak, tidak melulu soal filsafat, ini adalah upaya berfikir. Camus mengatakan bahwa tidak ada jawaban soal kematian, hanya ada suatu kepastian, yakni kehidupan itu sendiri. Manusia harus tetap hidup, sampai batas hidupnya sendiri. Tidak ada makna yang melampaui itu, dan ini bukan perkara pesimisme. Manusia memiliki kewajiban untuk senantiasa selalu bergembira, itu merupakan sebuah komitmen menghadapi kematian. Selang waktu itu haruslah diisi dengan pengalaman sampai batas keberadaannya.

Begitu juga Huda, ia selalu mencoba hidup sampai batas kemampuannya. Ia mengantarkan Persela dari divisi dua sampai Liga Super/ Liga 1. Tidak hanya itu, ia juga mengawal Persela untuk tidak turun kasta. Bukankah mempertahankan prestasi adalah mutlak sebuah prestasi tersendiri. Ia tidak sungkan untuk melompat, menepis bola dengan ujung jemari, menangkap waktu gravitasi, bahkan tubuhnya menjadi bemper sekadar untuk mengamankan gawangnya.

Tak cuma itu, ia juga mentor yang handal. Mario Costas, Gustavo Lopez, Fabiano Beltrame, adalah segelintir elite pemain yang ia kawal pula.

Membela timnas, memenangkan Piala Jatim, kiper dengan penyelamatan terbanyak merupakan segelintir prestasi yang ia tuai. Satu kekecewaan Huda. Ia belum bisa membawa Persela juara Liga. Itu yang ia sesalkan. Ia upayakan sampai batas kemampuannya sendiri, menunda pension hingga kepala empat, memastikan bahwa Persela baik-baik saja. Sebetulnya, Huda tidak membatasi kemampuannya, mautlah yang membatasi Huda.

******

“Aku akan menjadi penelitian dari hidupku sendiri. Ya, aku tahu cita-cita akan memenuhiku dengan segala dayanya. Sebelumnya, aku terlampau muda. aku menemukan jalanku. Sekarang, aku tahu bahwa bertindak, mencintai dan penderitaan adalah hidup itu sendiri, tentu, tapi kehidupan itu sendiri, sejauh ini sebagaimana kau bisa terbuka dan menerima takdirmu, bak refleksi unik dari pelangi kegembiraan dan cita-cita yang berlaku bagi setiap orang,” ucap Patrice Mersault kepada Zagreus dalam Mati Bahagia-nya, Camus.

Pertandingan menunjukan menit menuju angka empat lima, bola menggantung di langit, Vendry Movu yang tengah berdiri kotak penalty, menyambut bola dengan kepala, bola bergulir, Huda keluar dari bawah tiang, Ramon dan Sacramento berupaya mengejar momentum bola, Sacramento melipir, lutut Ramon menghajar dada Huda. Ia terkapar. Para pendukung menyerukan chant namanya.

Dibalik layar, Opan Lamara berseru, “Ini dia benturan yang sangat keras, menghadapi dua pemain sekaligus. Bagaimana komitmen, dari Choirul Huda yang lebih fokus pada bola untuk menyelamatkan gawangnya, berakibat fatal kepada keselamatannya.”

Choirul Huda mati dengan bahagia, lalu bagaimana aku mati?

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga