Media dan Nasionalisme Jarak Jauh: Potret Kebangsaan Kita Hari Ini

Bahaya hoax

telitilah dengan media, jangan sampai hoax memakan otak

Tidak dapat disangsikan bahwa salah satu peran dan fungsi dari press atau media adalah bahwa setiap media mau tidak mau harus mendidik masyarakat bukan malah menjerumuskan masyarakatnya dalam kubangan jumud kedunguan.

Namun sayang, posisi media yang begitu strategis tidak dimainkan dengan baik di Indonesia. Jika menilik media dalam negeri arahnya cuma perihal rating, share profit alih-alih mengembalikan peran utamanya sebagai pengawas pemerintah a.k.a Watchdog. Maka tidak heran, sinetron, sebagaimana disinggung Neng Aifia dalam tulisaanya itu, merajai jam tayang teve.

Lain halnya dengan media-media luar negeri yang sering meliput dan mengambil sudut pandang yang unik dan menggemaskan dalam mewartakan peristiwa yang ada di Nusantara.

Mari kita berelaborasi, bagaimana the Guardian mewartakan soal persekusi yang diterima kelompok laki-laki di suatu ruangan di Jakut dan melabeli mereka sebagai “Gay”. Bagaiamana the Economist melaporkan soal kontroversi pernikahan beda agama di Indonesia. Bagaiamana the New York Times menurunkan laporan terkait respon Jokowi terhadap kelompok ekstrimis Islam dan penolakan patung Jenderal Gu Yuan di Tuban. Bagaimana Telegraph dan BBC memberitakan terkait blasphemy yang menimpa Ahok.

Media-media barat tersebut mewartakan dalam portalnya kasus-kasus tersebut sebagai bahan olok-olok betapa masih ada manusia idiot dan degil di muka peradaban kontemporer ini.

Akan tetapi di sisi lain, ini merupakan persoalan serius, bagaiamana intoleransi tumbuh subur di negara multikultural seperti kita, dan belahan bumi lain.

Chimamanda Ngozi Adichie, feminist dan novelis beken dari Nigeria menyebutkan ini sebagai fenomena naiknya popularitas Right Wings Populism dalam kolom terbarunya di laman the New Yorker. “Naiknya populisme sayap kanan muncul karena adanya kenestapaan individual yang disebabkan rusaknya tatanan ekonomi yang digantikan dengan kegilaan yang membutuhkan korban,” tulis Adichie.

Bukti nyatanya adalah terpilihnya Donald Trump, yang merepresentasikan kelompok anti Islam, sebagai presiden di Amerika. Sementara di dalam negeri terjungkalnya Ahok—juga dengan sentimen agama—dari kursi nomor wahid DKI ke dalam bui merupakan contoh bagaimana right wing populism sudah menguat, paling tidak, di ibu kota.

Right Wing Populism mengamankan tatanan konservatif sosio-ekonomi para mogul dan begundal negara, sekaligus menciptakan mesin tempur kuat dan pembunuh handal. Mereka tidak perlu lagi mengotori tangan dan lempar batu sembunyi lengan.

Orang miskin akan saling bunuh dengan si miskin lainnya. Bagaimana sentimen itu bekerja? Agama adalah pranata yang sangat murah untuk ditunggangi dan dikendarai.

Saat ini, agama dan yang tak kasat mata menjadi senjata untuk memulai bencana. Pertengahan tahun ini, Trump keluar dari pertemuan soal iklim dan dampaknya. Kedepan ia cukup memakai mantra bahwa perubahan iklim bukanlah suatu fenomena, itu hoax, karena tidak dapat ditangkap dengan kasat mata. Kasusnya mirip seperti si jenius Polandia yang dicongkel matanya, Copernicus, karena ia menolak bahwa matahari yang mengelilingi bumi. Ia dianggap sesat dari dogma dan kredo yang ada saat itu.

Di dalam negeri terlalu banyak contohnya, bagaimana sentimen agama yang disalahgunakan telah memakan korbannya. Terbaru ada manusia dibantai karena amplifier, Majapahit di klaim sebagai kesultanan sementara mahapatihnya diklaim muslim. Bumi dianggap datar sementara di Banjarnegara dalam semalam perkampungan bisa lenyap tak berbekas akibat longsor, di Banyumas banyak penderes berjudi nyawa untuk memanjat dan menimba nira, jutaan manusia dibuang hak politik dan hak sipilnya selama beratus-ratus bulan.

Long Distance Nationalism

Term long distance yang satu ini berbeda dari long distance cerpen Ferit Orhan Pamuk dan long distance relationship yang dimaksud hubungan jarak jauh.

Om Ben menjelaskan dampak buruk dari globalisasi adalah munculnya nasionalisme jenis ini, long distance nasionalisme. Nasionalisme ini tidak bergantung wilayah territorial dari Negara asalnya. Walhasil apa akibat dari muncul nasionalisme jarak jauh ini? Sudah tidak perlu disebutkan lagi, sudah klise. Munculah kaum fundamentalis dan ekstrimis yang berbau agama.

Jangan naïf, kita tahu Abdurrahman Al Baghdadi, pimpinan ISIS, masuk ke Indonesia pada tahun 1983. Setahun setelah Galang Rambu Anarkhi lahir, setahun sebelum pembantaian di Priok. Ia menjadi pendakwah dulu di Australia, kalau penganut mazhab bumi datar menyangkal negeri kanguru itu representasi barat, dan berarti itu musuh bagi ekstrimis, itu kan tai….

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga