Melankolia

Mencermati kawan-kawan saya tentang sikapnya pada suatu realitas memang mengasyikkan. Di situ saya seolah menyelami kekayaan alam pikir manusia. Semua hadir membawa gagasan dan konsep hidupnya masing-masing. Yang lebih menarik jika masing-masing kawan saya itu mencoba mengadu gagasannya, kalau tidak mau disebut memaksakan, dengan orang lain. Jadilah perang pilih tanding alam cita.

Misalnya saja soal ideologi mana yang mestinya diterapkan di negeri kiti ini banyak kawan saya yang belum sepakat. Apakah komunisme, demokrasi, dan Islam yang cocok.  Satu kawan saya ngotot, bahwa demokrasi, seperti yang kita terapkan hari ini, adalah bentuk negara paling pas untuk bangsa seheterogen Indonesia. Sebagian lain berpikiran bahwa komunis-sosialislah yang mampu membawa negara yang Indeks Pembangunan Manusianya nyungsep di peringkat 108 ini ke dalam kemakmuran. Sementara di sudut lain, beberapa kawan saya keukeh bahwa konsep khilafah, yang kita tahu barokah itu, yang mustinya hadir di Indonesia.

Dari ketiga gagasan besar itulah kawan-kawan saya banyak menuai perbedaan pandang di masalah-masalah lain. Mulai dari pilihan politik, buku bacaan, hingga tempat nongkrong kawan-kawan saya berbeda pendapat. Saking fanatik dan puritannya mereka, pilihan artis idola sampai klub bola mana yang harus didukung juga menyesuaikan pilihan ideologi masing-masing.  Turki, Inggris, atau Rusia menjadi standarnya.

Soal politik, Ahok misalnya, bagi kawan yang berhaluan sosialis tentu tak masalah asal terpilihnya Ahok bisa menggaransi keadilan sosial. Pun bagi yang menganut demokrasi-liberal, tidak masalah wong itu hak Ahok sebagai warga negara. Pandangan berbeda datang dari mereka yang berhaluan khilafah. Bagi mereka terpilihnya Ahok, yang sudah kristen cina pula, menjadi pemimpin Jakarta adalah salah satu tanda kiamat. Maka populerlah hadist bahwa Islam datang dalam kondisi terasing dan akan kembali dalam kondisi terasing pula.

Tentang serba-serbi Ramadhan mereka juga akan pecah menjadi kubu-kubu yang sama kuatnya. Yang hangat tentu soal siapa yang harus menghromati, orang yang puasa atau yang tidak puasakah yang mesti menghormati duluan. Pada hal yang demikian memang kawan-kawan saya terbelah pada pandangan dikotomis salah atau benar. Mereka gagal menghadirkan konsep ketiga, dimana keduanya mesti saling menghormati.

Menghormati, bagi mereka, adalah sesuatu yang tidak berangkat dari akar memaklumi. Hormat seolah adalah laku ukhrowi  yang mengedepankan ego keyakinan. Kalau begitu, maka yang  mayoritaslah yang mestinya terus dihormati. Minoritas? Ya hormat terus.

Namun demikian perbedaan mereka bukanlah tanpa pemersatu. Adalah lembah melankolia yang berhasil menghanyutkan kesemua kawan saya pada satu persamaan. Melankolia memang seluas padang mahsyar, ia mampu menampung ragam pemikiran manusia. Pada apapun ideologi manusia, tentulah bersepakat jika kebutuhan akan cinta mestilah dipenuhi.

Kalau sudah urusan asmara, mereka yang paling kiri sekalipun akan akan mimbik-mimbik menghiba dipertemukan dengan cintanya. Marxisme sama sekali tak membantu di sini. Pun dengan konsep materialisme yang diagung-agungkan, semua akan kalah dengan hal tak kasat mata setamsil asmara.   

Pernah suatu kisah ada kawan saya yang saya kenal kiri banget. Dua tiga kali saya dapati menggadai idealismenya demi wanita terkasihnya.

Pun dengan yang memegang teguh syariat, mereka sama saja histerisnya, jika melihat sosok rangga dalam AADC jilid dua. Kerap kali saya mendapati mereka sembunyi-sembunyi  meluapkan rasa. Dalam wujud lain, mereka galau dengan ayat-ayat pernikahan. Atau memasang gambar kartun berjilbab tengah dibribik pria alim berkacamata. Duh romantis-religius sekali. Intinya mereka juga sama, larut dan terbuai dalam melankolia.

Memang begitulah fitrahnya manusia, diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Saling menyuguhkan kasih.

Sebagai buktinya coba rasakanlah betapa ratap harap ini betul-betul powerful dan tulus dari mereka sekaliber aktivis khilafah. Ini muncul dari gadis berjilbab lebar, sebutlah namanya Laela, dalam time line facebook saya.
“Wahai Dzat yang maha membolak-balikan hati, dekatkanlah ia untuk menjadi imamku kelak” begitu transenden dan menyentuh bukan?

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah