Memaknai Hmmm ala Schleiermacher

24/02/2018 214 0 0

Dering Whatsapp berbunyi. Kuatur dengan dering khusus untuk seseorang. Hanya untuk orang itu. Mendengarnya seperti diperbolehkan meneguk minum di siang ramadhan. Menyegarkan bak oase.

Ku cek pesan apa yang ia hantarkan. Sebuah kata dengan kombinasi dua huruf. “Hmmmmm”. Beberapa menit kemudian otakku berpikir bak seorang agen memecahkan kode enigma.

Di KBBI tak ada arti untuk menjelaskan kata “hmmm”. Satu-satunya kata yang mendekati adalah “hm”, istilah lain dari hektometer. Ukuran khusus dari seper-sepuluh-kilometer. Tapi jelasnya, kata itu tak menjelaskan demikian.

Aku tahu kata tersebut bermaksud menirukan suara “hmmm”, setara dengan “wkwkwk” untuk ketawa. Tapi memaknainya tak semudah mengeluarkan suara “hmmm” dari tenggorokan. Satu-satunya persamaan “hmmm” dan hektometer adalah bagaimana panjangnya ia bisa dimaknai.

Di sini permasalahanya, suara “hmmm” bisa begitu panjang ditafsirkan. “Hmmm” yang di ucapkan seorang, misalnya Chelsea Islan dengan mengarahkan bola matanya ke atas sambil memegang dagu, bisa bermakna berpikir, bingung, dan memberi kesan jelita, kegemesan, atau harap dalam satu tarikan ekspresi.

Hal yang berbeda muncul, misal dengan ekspresi yang sama tapi muncul dari bapak-bapak beranak dua atau pengonsumsi bubur diaduk yang sangat menggemari Chelsea Islan. Mungkin ia sedang mencoba mengekspresikan dan bermaksud meniru “hmmm” dari idolanya. Tapi gaya demikian akan meningkatkan emosi pada siapapun yang ada di depannya. Sedikit makian atau jika kau sangat akrab dengan bapak tersebut, berikan sedikit “elusan” keras di kepala, saya kira masih dalam standar kepatutan.

“Hmmm” juga bisa muncul dalam berbagai macam aktifitas, mulai dari grogi ketika muncul di depan panggung, anak kecil yang memimpikan jadi pembalap moto GP, suara kamar kos yang tak ada penampakan sandal di depan kamar kos, atau suara jika kamu sedang mengalami masalah pencernaan dan berusaha membuang limbahmu di kamar mandi. Berbagai kemungkinan suara “hmmm” tadi membuat orang bisa salah menafsirkan. Terlebih jika ia muncul dalam sarana teks. Kita tidak tau ekspresi, intonasi, atau gerakan mata yang melatari sebuah kata bisa muncul.

Dan untuk memahami teks dan bagaimana memaknainya, saya kira patut membawa sosok bernama Schleiermacher. Sosok inilah yang akan membantu menjelaskan makna “hmmm” tersebut.

Nama lengkapnya Friedrich Daniel Ernsts Schleiermacher. Pria yang lahir abad ke 17 ini awalnya lahir di Breslau, salah satu kabupaten di Eropa yang sekarang masuk wilayah Polandia. Schleiermacher awalnya seorang santri prostestan yang pernah bercita-cita jadi dai di gereja. Beberapa tahun kemudia melihat perkembangan sains yang saat itu berkembang begitu pesat.

Ia bingung mau meneruskan jadi dai atau ke ilmu alam, sebelum akhirnya sedikit berbelok ke jurusan filosofi, teologi, dan juga filolog. Hal terakhir inilah yang membawa dia menjadi seorang ahli tafsir teks teks kuno.

Menurutnya, untuk memahami teks, kita harus paham psikologi sang pengarang atau dalam istilah teologi, sang pembawa pesan. Selain itu, kita juga harus mengetahui latar belakang bahasa atau gramatika pesan tersebut. Metode bagaimana memahami teks inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan Hermeneutik.

Hermeneutika berasal dari istilah Yunani yaitu Hermes sang dewa yunani yang bertugas membawa pesan. Dalam menjalankan tugasnya, sang dewa terlebih dahulu memahami pesan tersebut, memasukan dalam logikanya, lalu mengartikannya pada sang penerima sesuai dengan pemahaman sang penerima. Proses inilah yang seringkali membuat gap antara sang pemberi dan penerima pesan.

Menurut Schleiermacher, kesalahan dalam mengartikan atau kata lain dari interpretasi merupakan sesuatu yang sudah barang tentu. Tiap zaman punya logikanya sendiri, bahkan tiap kepala punya intrepretasi beda terhadap makna yang sama.

Kata “hmmm” yang muncul pada pasangan yang sedang dimabuk asmara sangat berbeda misalnya dengan kata “hmmm” pada pasangan yang kebinggungan membayar cicilan motor. Konteks dalam sebuah kata, penting untuk menginterpretasikan makna.

Selain itu, Schleiermacher berkeyakinan bahwa konsep hermeneuitika yang dulu hanya menjadi otonomi teks keagamaan, juga berlaku disegala bidang. Segala macam teks misal hukum, sastra, harus mengikuti kaidah gramatika. Maksudnya, setiap pesan selalu muncul pada bahasa tertentu, dimana bahasa sendiri berkembang secara dinamis. Sehingga proses hemeneutika bisa dimaknai disemua bidang, termasuk kata “hmmm” dari gebetan.

Lalu bagaimana memaknai misal “hmmmmmmmmmmmm” dari gebetan editor, yang jam 1 malam memintamu untuk mengirim tulisan. Melihat makna gramatika kala itu, dimana m-nya begitu panjang dan juga psikologi sang pemberi pesan yang mungkin kebingungan mengisi webnya, jelas itu bukan bermaksud menyanjung tulisan terdahulu atau kode untuk digoda. Makna yang mungkin adalah rasa kesal karena kamu banyak alasan dan tulisanmu ndak kelar-kelar.

Melihat bagaimana memaknai sebuah kata, dan proses intrepretasi yang begitu panjang serta resiko miss intrepretasi yang tak mungkin terhindarkan, seyogyanya membuat sesorang tak merasa jumawa paling benar. Selalu ada ruang untuk mengoreksi intrepretasi, terlebih jika itu muncul dalam teks keagamaan. Sebagai penutup, saya akan  mengutip mas Goen yang juga mengutip Nietzsche, “Tak ada fakta, segalanya adalah intrepretasi.”

Comments

comments

Tags: Gebetan, Gramatika, Hermenuitika, Schleiermacher Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Asrur Rodzi Asrur Rodzi

Penulis adalah manusia biasa selayaknya nabi dan pahlawan besar terdahulu, suka ngepoin sejarah dan juga kamu.