Membaca Kegoblokkan

Membaca Kegoblokkan Kita

20/06/2017 201 0 0

Membaca Kegoblokkan Kita. Sekira tiga hari yang lalu saya membaca komentar di postingan instagram kawan saya. Kawan saya itu mengupload foto tentang gerakan membaca yang baru seumur kangkung ia dirikan bersama teman-temannya. Dari foto yang dia upload, tampak dua orang sedang serius membaca buku, sementara dua orang lagi lebih tampak orang yang sedang baca situasi ketimbang baca buku. Sebagai pemanis, kawan saya mencopas puisinya Kahlil Gibran yang berjudul Anakmu Bukan Milikmu. Tidak nyambung memang, tapi biarlah, kita apresiasi usahanya menggerakan budaya literasi saja.

Pengunjung tampak antusias membaca buku-buku Komunitas GERBANG

Tak berselang lama muncul komentar begini: “Bagus banyak baca, tp ga smua nya bs d jadikan pedoman, biasa nya bacaan akan mengkuti prasangka, sedangkan prasangka tempat setan sering menyesatkan.

Membaca komentar begitu saya langsung mbok jegagek. Dengusan napas jadi kian meninggi. Betapa tidak, kok ada orang yang sebegitu apriori pada gerakan membaca. Sekilas nampak bijak menasehati tapi jika ditilik lebih jauh kalimat itu naif. Iya naif, sebab memberi ruang permisif pada mereka yang malas baca dengan argumen: khawatir imannya goyah.

Boro-boro donasi buku-buku yang anti setan, paling tidak ya kasihlah komentar penyemangat. Atau jika itu tidak sanggup, diem saja. Bukankah begitu Rasul mencontohkan? Tidak malah ikut prasangka untuk nyinyir sama gerakan membaca.

Gerakan membaca ini merupakan tantangan serius. Dari studi bertajuk Most Littered Nation In the World (Negara paling gemar membaca di dunia) yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Artinya apa? Indonesia berstatus sebagai negara paling ogah baca nomer dua di dunia. Setidaknya dari 61 negara yang disurvei. Kita cuma satu tingkat lebih baik dari Botswana. Negara bekas jajahan inggris yang 80% dari daratannya berupa Gurun Kalahari. Apa ndak miris?

Indonesia dari segi apapun itu mestinya jauh lebih baik dari Botswana. Padahal penilaian berdasarkan komponen infrastruktur (perpustakaan) Indonesia ada di urutan 34, di atas negara maju seperti Jerman dan Selandia Baru. Tapi nyatanya di negeri yang mars partai berkumandang bebas ini cuma ada 1 dari 1000 orang yang suka baca. Ya, hanya 0,001% orang Indonesia yang suka baca. Akibatnya? Jelas mengerikan, lihat saja fanpage facebooknya Jonru.

Dengan minat baca yang demikian nyungsep kemudian kita bisa mewajari akhir-akhir ini banyak orang yang keukeh bumi itu datar dan Gadjah Mada eh Gaj Ahmada itu muslim. Kebanyakan dari kita lebih suka baca meme lalu merendahkan orang yang sudah baca buku maupun kitab berjilid-jilid. Paling banter baca artikel dengan judul bombastis. Itu saja sudah.

Kemunduran generasi Islam–begitu kita kerap mendaku diri, kalau mau diakui, adalah kemunduran pada intensitas membacanya. Sejarah peradaban Islam adalah sejarah peradaban teks. Kita saat ini terlena dengan romantisme masa lalu dan justru abai pada persiapan masa depan. Maka ekses dari ketidaksiapan sekaligus naif dan keminderan itu kita menjadi kalap. Mengklaim Candi Borobudur sebagai warisan khasanah Islam misalnya. Ayolah Bung, kita bersikap waras perihal membaca ini!

Membaca buku, apapun itu, adalah ikhtiar untuk belajar—lebih baik. Dan sebagaimana menuntut ilmu, ia diganjar pahala berikut kenaikan derajat. Sampai di sini kita perlu ingat, secara hakikat segala ilmu itu datangnya dari Allah. Tidak ada ilmu setan, tidak ada ilmu manusia, tidak ada ilmu jin. Tidak ada satupun selain Allah yang sanggup memberi ilmu. Titik. Sejatinya kita ini, juga makhluk lain, adalah bodoh belaka.

Adapun ilmu yang kita anggap sesat adalah ilmu yang belum selesai kita pelajari. Ataupun kita salah menggunakannnya saja. Lawong jangankan ilmu santet, ilmu sholat saja kalau salah menggunakan bisa jadi sesat. Menggunakan sholat untuk narik masa dukungan politik misalnya.

Bagi sebagian orang yang beranggapan memahami agama tak perlu akal, akan menganggap membaca buku filsafat adalah sesat. Padahal belajar filsafat tidak lantas jadi sesat. Justru banyak filsuf yang alimnya minta ampun. Aef Nandi (semogaradhiallahu ‘anhu) telah memaparkan hal tersebut panjang lebar. Soal membaca buku filsafat ada yang jadi murtad itu barangkali iya, tapi itu kasuistik. Tidak bisa digeneralisir untuk bilang; jangan belajar filsafat bikin sesat. Sama halnya dengan kecelakaan mobil yang menewaskan satu dua orang tidak bisa digeneralisir bahwa mobil membuat orang meninggal kemudian dilarang peredarannya.

Soal membaca rawan ditunggangi prasangka setan itu tidak bisa disimpulkan semena-mena. Jika kita terus membaca, maka niscaya setan manapun dari varian apapun takkan sanggup menyesatkan kita. Ingat, al ilmu nurun. Ilmu itu sejatinya cahaya petunjuk.

Jadi kalo kita goblok cara menghilangkannya adalah dengan membaca, bukan dengan mencari dalil supaya tidak membaca terkesan Islami.

Comments

comments

Tags: Featured, Membaca, Membaca Kegoblokkan Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.