Membaca Ulang Konflik Suriah

Suriah kini sedang jadi buah bibir dunia. Terutama di kalangan pengguna internet. Gambar anak kecil berlumur darah atau orang tua yang meratap kematian anaknya seketika menyebar membanjiri aneka media sosial. Kerusuhan di Allepo, sebagai salah satu kota penting di Suriah dinyana adalah biangnya. Sontak tagar save-savean, semisal #SaveAllepo, sebagai prosedur tetap ungkapan simpati dunia maya menjadi tranding topic. Tak terkecuali di negara dengan penduduk Islam paling besar, Indonesia.

Tidak ada yang salah dengan ungkapan kedukaan ala dunia maya tersebut. Jauh-jauh hari bahkan Mbah Pram telah menegaskan Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana..”

Yang salah adalah jika rasa simpati sekaligus duka digital itu kemudian mengaburkan akal sehat. Kita menggunakan derita orang lain sebagai pembenaran melampiaskan kekesalan, bahkan pada orang yang kita saja belum pernah bertemu.

Hujan roket di Allepo akhir-akhir ini telah menewaskan banyak masyarakat sipil tak berdosa. Terutama prempuan dan anak-anak. Anehnya, roket yang meledak di Suriah sana bahkan juga menghancurkan isi kepala sebagian orang Indonesia. Mereka yang isi kepalanya terburai ini lantas membabi buta menyebarkan propaganda dan berita palsu yang entah telah mereka baca atau belum.

Sekali lagi, ini bukan berarti saya tidak bersimpati dengan para korban keganasan perang saudara tersebut. Tapi saya pikir, simpati tak musti berwujud emosi, yang seringkali malah merugikan.

Dari sumir kasus Suriah kita dapat dengan mudah menemukan artikel yang mengatakan bahwa rezim Bashar Al Assad sebagai rezim tiran yang keji, tega membunuh jutaan rakyatnya. Kisah menjadi lebih dramatis ketika dibubuhi dengan titel rezim syiah sesat Al Assad membantai muslim sunni di Suriah. Lengkap dengan gema takbir sebagai penanda bahwa ini soal Islam.

Sekilas seolah kisah itu benar. Terutama jika kita rajin membaca media anti arus utama yang banal dan provokatif itu. Dan sialnya hal itu mereka lakukan dengan menunggangi Jubah Mewah agama Islam. Seolah yang mereka sampaikan adalah kebenaran Islam yang harus dibela dan diperjuangkan, bahkan jika harus meledakkan panci.

Bahwa Al Assad berlaku represif pada para penentangnya itu iya. Misalnya saja pada saat pembubaran paksa peserta demo yang menentang dirinya. Miriplah dengan Erdogan, Soeharto atau bahkan Jokowi. Tapi menuduh bahwa rezim Al Assad membantai muslim sunni kok rasanya berlebihan. Sudah 16 tahun Al Assad berkuasa, dan baru sejak kemunculan ISISlah Suriah dilanda konflik hebat. Jika benar Al Assad rezim syiah sesat yang haus darah tentu Islam sunni di Suriah sudah habis. Lah militer punya senjata lengkap plus dukungan alutsista dari Iran dan Rusia.

Bahwa Al Assad belum mampu membawa Suriah menjadi negara digdaya itu benar. Tetapi jika menuding Al Assad dan syiah yang melakukan genosida pada sunni kok ya kurang pas. Al Assad terpilih secara demokratis oleh rakyat Suriah dengan mendulang 88,7 persen suara pada pemilu 2014 lalu. Setelah sejak tahun 2000 berkuasa berkat mekanisme referendum menggantikan ayahnya .

Yang perlu dicatat, mayoritas penduduk Suriah adalah Sunni dengan prosentase mencapai 74 persen. Sekarang bisakah dijelaskan bagaimana dia bisa meraup 88,7 suara jika tanpa dukungan rakyat sunni?

Tetapi yang terjadi berikutnya adalah penguasaan ISIS atau Islamic State in Iraq and syam yang kini telah berubah menjadi IS di beberapa wilayah Suriah. Sejak kemunculannya, ISIS telah menebar teror untuk dunia. Tetapi yang paling besar menanggung masalahnya tentu Suriah sebagai salah satu negara basisnya.

Permasalah kemudian menjadi semakin semrawut ketika kepentingan negara lain turut campur di dalamnya. Sudah bukan rahasia lagi, jika Amerika selama ini paling getol untuk merecoki urusan negara lain. Konflik Irak dan Libya–yang polanya mirip dengan Suriah–masih begitu kuat di ingatan kita. sekarang mari gunakan akal waras dan data. Apakah Libya dan Irak menjadi lebih baik sepeninggal Khadafi dan Sadam Hussein?

Hingga hari ini Libya menjadi tak ubahnya kuburan massal akibat pertempuran saudara dan perebutan kekuasaan. Sementara lama setelah Sadam Hussein digantung, rakyat irak juga tak kunjung menemukan kedamaian sebagaimana diidamkan dulu. Bahkan penduduk syiah di Irak yang dulu menjadi salah satu kelompok penentang sadam Hussein yang notabene suni ini kini hidup dalam bayang-bayang kematian teror oleh ISIS. Mereka ketakutan.

Lalu kemanakah mereka yang dulu menggembor-gemborkan penggulingan Khadafi, juga penggantungan Hussein? Adakah mereka juga menginginkan kondisi serupa menimpa Suriah?

Suriah memang tengah bergejolak. Negeri Syam itu kini bau anyir darah. Tetapi itu bukan karena pembantaian dari rezim Al Assad dibantu dengan Iran dan Rusia. Yang terjadi jauh lebih kompleks dan mematikan.

Suriah adalah negara kaya minyak yang letaknya amat strategis. Posisinya yang strategis itu membuat Qatar pernah mengajukan permohonan untuk melegalkan jalur pipa gas alamnya melewati Suriah. Namun hal itu ditolak, dan Suriah justru lebih memilih membangun jalur pipa ke timur bersama Irak dan Iran. Kondisi ini yang turut menjawab kenapa hari ini negara seperti Qatar, Turki, dan Saudi aktif mengkampanyekan penggulingan Al Assad dengan menyomponsori pemberontak semisal ISIS.

Di belakang mereka ada Amerika yang turut mendukung. Sudah bukan rahasia bahwa Saudi adalah sekutu utama Amerika di Timur Tengah. Dan kehadiran Amerika memiliki misi ganda. Satu sisi membantu sekutunya, di sisi lain ingin mengeruk minyak dari Suriah sebagaimana mereka telah lakukan pada Tunisia, Libya, dan Irak dulu.

Pada kondisi seperti itu, Suriah tak sendirian. Bersama sekutu utamanya, yakni Iran dan Rusia, Suriah mulai mengimbangi permainan. Allepo yang sudah bertahun-tahun dikuasai ISIS kini direbut kembali.

ISIS bukan tanpa alasan menduduki Irak dan Suriah. Minyak dan letak geografis menjadikan kedua negara itu begitu penting. Suriah berada sangat dekat dengan selat Hormuz yang melayani pengiriman 17 juta barel minyak setiap harinya. Sementara Terusan Suez dan jalur pipa Sumed yang berada di bagian selatan Suriah adalah tempat bagi lalu lalangnya sekitar 3,8 juta barel minyak per hari.

Sehingga bisa kita katakan, nuansa ekonomi-politiklah justru lebih kental melatarbelakangi perang di Suriah. Agama dan sektarian hanya dijadikan topeng. Karena saya yakin, sebagaimana saya meyakini Thailand yang menjuarai piala AFF 2016, agama tidak mengajarkan kerusuhan.

Lantas bagaimana dengan foto korban bom di Suriah? banyak di antara foto yang bereda adalah palsu, sebab kejadiannya bukan di Suriah melainkan misalnya korban Israel di Gaza yang diklaim sebagai korban Allepo. Atau viral anak prempuan yang duduk bersimbah luka di kursi oranye yang ternyata palsu. Tetapi juga tak sedikit foto yang sungguhan korban di Allepo, dan kepada merekalah dukungan dan bantuan patut diberikan. Tentu tanpa harus banyak mengkafirkan yang lain.

Maka begitulah negara kaya dan strategis menerima takdirnya. Kekayaan dan letaknya yang strategis justru menjadi sumber malapetaka. Serbuan negara lain menjadi beban pembangunan baik manusia maupun infrastrkur. Mereka mengobarkan kebencian untuk menyulut konflik SARA. Padalah perang bermotif ekonomi dan kekuasaan dengan mengatasnamakan Tuhan adalah dosa terbesar umat beragama.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Saya pikir tugas kita tak kalah berat. Selain memiliki syiah, kita juga memiliki China yang suatu waktu bisa jadi bahan propaganda.

Comments(3)

  1. 19/12/2016
    • 19/12/2016
      • 20/12/2016

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga