memihak kebenaran

Memihaklah dengan Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya

08/10/2017 65 0 0

memihak kebenaran

memihak kebenaran

Memihak yang benar-Di dunia yang makin rumit, kita semakin sulit untuk tidak memihak. Untuk bersikap netral. Bahkan, bagi saya, sikap netral itu sendiri adalah sebuah keberpihakan. Hal ini saya pikir wajar saja. Bisa dimaklumi. Karena manusia memang mempunyai subjektivitas yang tinggi.  Ketika berhadapan pada fenomena hidup, secara subjektif, manusia akan memberikan penilaian. Dan, baik secara sadar ataupun tidak, ia menyatakan keberpihakannya itu.

Itulah sebab kenapa selama ini, setiap kali ada isu nasional umpamanya, pasti muncul penyikapan yang berbeda satu sama lain. Karena memang dengan subjektifitas manusia sulit menemukan titik temu. Mulai dari pernikahan Raisa hingga Arifin Ilham, aksi 212 hingga aksi manuver politik panglima, masing-masing menimbulkan pro dan kontra. Soal berada di pihak mana, memihak atau menolak, itu setimbang dengan subjektivitas masing-masing.

Sementara medium keberpihakan bisa beragam. Ada yang ngeshare hoax di wasap, repost hate speech di fesbuk, nyinyir di warung kopi, bermunajat pada Tuhan, berdemontrasi,atau sekadar rasan-rasan dengan teman. Itu semua tetap saja namanya, menyatakan keberpihakan.

Dalam lanskap dan percaturan politik misalnya, kita bisa berpihak pada salah satu pasangan calon. Kita bisa mendukung pasangan anu, dan tidak pada pasangan lain. Bentuk dukungan ada yang biasa ada pula yang sangat loyal. Bahkan ada yang berani mati demi calon yang dibelanya. Yang seperti itu, memang gampang sekali kehilangan akal sehat. Dia akan ikut melakukan apa saja, meski sebenernya itu keliru.

Dalam keberpihakan di lingkup sosial ekonomi, ada orang yang berpihak pada pemodal ada juga pada masyarakat kecil. Keberpihakan mereka didasari oleh pengalaman, ideologi dan hal-hal yang bersifat subjetif lain. Mereka akan membela sepenuh hati sampai tetes keringat terakhir. Sampai ada yang berani mati, jadi martir untuk pihak yang dibelanya. Tapi sikap yang seperti ini, juga bisa bikin orang kehilangan nalar sehat. Bisa jadi fundamentalis.

Keberpihakan yang benar, menurut saya, bukan pada orangnya. Bukan pada salah satu pasangan calon, bukan juga pada pemodal atau masyarakat kecil. Kita harus berpihak pada nilai, bukan pada sosok. Saat pasangan calon, mengusung nilai yang kita yakini sebagai suatu yang benar, maka disitulah dukungan diberikan. Andai, suatu saat dia menghianati nilai, maka kita bebas ganti keberpihakan. Memberikan dukungan pada pasangan lain yang mengusung nilai yang diyakini sebagai kebenaran.

Saat menentukan keberpihakan, poinnya bukan pada wong cilik atau pemodal. Tapi pada nilai-nilai keadilan yang kita yakini sebagai kebenaran. Andai ada hak-hak wong cilik yang dirampas dan diinjak-injak oleh pemodal maka disitulah kita menentukan sikap keberpihakan. Kepada wong cilik tentu saja. Jadi kita tidak sedang melawan pemodal dalam artian fisik, tapi melawan ketamakan, keserakahan dan penindasan yang dilakukan mereka. Kita melawan nilai-nilai kerakusan yang mereka anut dan amalkan.

Lalu kenapa berpihak pada nilai? karena kita butuh memelihara akal sehat. Selain itu, agar perjuangan lebih berenergi dan panjang umur. Tentu kita tidak mau, perjuangan yang kita lakukan tersandera oleh manuver seseorang.

Jangan malu mengakui bahwa, misalnya, tokoh yang dulu diyakini mampu menjaga aspirasi kini sudah tak sejalan. Dan karenanya kita mesti lekas-lekas menarik dukungan. Atau paling tidak memberikan sikap kritis yang presisi. Itu semua demi martabat kita sebagai manusia waras.

Keberpihakan, apalagi dalam posisi kita yang manusia merdeka, adalah barang mahal. Oleh karenanya jangan sekali-kali dipercayakan pada mereka yang tak mengerti nilai.

Comments

comments

Tags: cara membuat pilihan politik, cara memilih, memihak kebenaran, memihak nilai Categories: Edusiana, Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.