Memo untuk Washington

Wlahar wetan

Mereka yang bertemu malam itu

Pria bertubuh kecil, agak kurus, memakai celana bahan, berkemaja gelap, ia berusia lebih dari separuh abad, berjambul ala Freddy Mercury membawa talam, menurunkan gelas-gelas berisi penuh kopi, dan dua gelas yang lain berisikan teh tubruk dengan dan atau tanpa gula, nampak tersemat ponsel dual sim ber-mp3 di saku kemejanya. Pak Marno usai membagikan kopi, ia kembali ke tempat duduknya, menyedot batangan tembakau yang sempat ia tinggal, asap mengepul selepas tangannya ia turunkan. Pria memang punya selera. Ia tahu betul kapan harus membuat kopi saat mata sudah lamat-lamat. Ia tahu betul juga kapan kafein difungsikan untuk melarutkan nikotin dan menunjang kerja otak.

Pukul setengah sebelas lewat, obrolan diskusi semakin hangat, setiap peserta menyampaikan poin pendapatnya bergantian, bahkan berdiri dan menuliskan bila perlu. Malam tadi berkisah soal “Sunnah Rasul”. Bagaimana supaya sunnah dapat dijalankan dengan baik, bagaimana teknik yang baik, bagaimana agar bisa menciptakan bibit unggul, agar anak turunan dapat berhasil.

Saya tengah duduk di belakang meja mendengar paparan guru, entah baris ke berapa saya tak begitu ingat, yang saya ingat pada waktu itu, itu pelajaran Quran Hadits, materi yang sedang di pelajari soal hadits, jenis-jenisnya, berikut sunnah juga macam-macamnya.

Seingat saya salah satu definisi sunnah adalah perilaku Nabi, yang dapat menjadikan dan berlaku hukum terhadap sesuatu perihal. Bisa jadi penangkapan saya salah.

Lelaki itu turun dari mobil bak terbuka, sedikit terburu-buru, maklum, sedari tadi ponselnya berdering, memintanya lekas datang, ia menuruni jalanan Purwokerto yang basa, sedikit berhati-hati, disana-sini ada genangan air, ia jengkel bermukim di kota, meski kecil, sedikit-sedikit berhenti dilarang melanjutkan perjalanan, sebuah kesabaran yang dibuat-buat, parade lampu merah usai, ia menuruni gunung sampah, di sisi kanan ada sepetak tanah kampus keguruan yang tak kunjung dibangun, tak seberapa lama ia melambatkan perjalanannya, mobil sipil bersenjata terparkir di sela orang yang berkerumun, diatasnya berbaring jasad, jasad yang ditutupi kain jarit, ia bergumam, “Setiap orang berpeluang.”

Ia menekan lantas pedal kopling, mengoper gigi dan melanjutkan perjalanan.

Lelaki itu turun dari mobil bak terbuka, mengenakan celana pasta, memakai kaos putih kecokleatan, sudah cokelat bahkan, di bahunya tergelantung kain sarung hitam, dibahu lain tersemat tas, tangannya memegang jaket, ia tahu malam mudah larut dengan beku, apapun acara pertemuan dan siapapun pemangku kepentingan dalam rapat, ia selalu hampir bercelana pendek dan bersandal gunung, gaya berpakainnya membuat ia mendapat nama imbuhan ”Gembel”. Ia memasuki sebuah ruang, hendak bertemu orang terkasih.

Serayu. Sungai besar yang teramat sabar, aliran air yang menjuntai sampai Laut Selatan. Tentu, ada banyak cerita yang berlatar rasa Serayu. Bukan hanya sepasang muda-mudi yang bertemu di Bukit Watu Meja, memandangi jembatan kereta yang dipeluk senja, tapi juga kisah-kisah manusia di sudut Serayu yang lain, ada banyak tubuh yang bermukim di sepanjangnya. Dan tentu ada pertemuan-pertemuan. Peradaban besar dalam sejarah pun bermula di pinggiran sungai.

Apapun dapat terjadi hanya dalam sekali pertemuan dan pertemuan-pertemuan selanjutnya akan membuat hal itu menjadi lebih rumit.

Laki-laki itu, Heri Kristanto, memasuki ruangan.

Lelaki berbaju merah, bercelana denim, berselop kulit tengah duduk di belakang meja cokelat, tangannya lentur memainkan touchpad MacBook, rambut keperakan mulai muncul di sela kening dan atas daun telinga. Di seberang meja berbaris beberapa orang diatas kursi putih kusam.

Ruangan terasa sejuk, tidak nampak rokok yang disulut, tiap orang habis kata.

Kang Heri memulai menyapa dan menyalami orang-orang, di sebelah meja cokelat, teronggok meja hijau, diatas keduanya proyektor mulai menyapu layar putih, ada minuman kemasan dalam gelas, meniran yang dibalut dedaunan tersusun rapi, lembaran mendoan, sejumput pisang goreng, carikkan kertas penuh tabel angka, buku catatan lengakpdengan pulpen hitamnya, asbak yang kosong, ponsel pintar yang terbaring, rokok-rokok yang menunggu disulut, segepok kertas tisu, menemani tatapan mata yang nanap, menunggu obrolan dibuka.

Ruangan itu diisi oleh mesin penggiling padi yang terburai disudut, rak jamur yang masih baru, lusinan kursi yang ditumpuk, berplafon ternit, ruangan aula desa laksana huma di kaki bukit, sederhana. Nampak, belum ada niatan untuk membuat gedung yang lebih, meski negara menjamin bahwa tiap desa mendapat anggaran miliaran kartal, di sebelah aula tergolek kantor pelayanan yang masih muda, untuk menerima tamu yang berkunjung. Sebuah pemandangan yang lain, desa lain sibuk bersolek infrastruktur.

Dodiet Prasetyo Adiyanto, seorang teknokrat, sarjana teknik sekaligus kepala desa Wlahar Wetan, ia tak berkata apa-apa, ia hanya menyulut rokok cap bersaudara lalu menyembulkan asap, mempelajari data di depan layar 14 inchi, sesekali membalas pesan. Ia sosok yang lain, boleh jadi orang lain sepantarannya tengah menjadi pegawai tajir di perusahaan multinasional, ia mempersembahkan hidupnya selama empat tahun terakhir dengan menetap di tepi Serayu, di seberang eks Karasedinan Banyumas, kota kolonial.

Malam itu, pukul delapan malam lewat, pertemuan dihadiri sekira sepuluh orang, Dodiet selalu awas memeriksa data yang menunjang diskusi, Musabiyanto selaku Sekdes siap dan tanggap menggamit pulpen dan buku catatan. Orang nomor satu dan orang nomor dua di Wlahar Wetan tengah mendampingi Kelompok Masyarakat Menda Karya.

Nabi juga dibesarkan dari keluarga penggembala dan saudagar, tapi itu semua tak membuatnya ingin menjadi belantik.

Konon, dengan menghabiskan waktu menjadi penggembala adalah salah satu jalan untuk memuliakan seseorang, manusia paling sempurna, Nabi Muhammad menghabiskan masa kecilnya dengan menjadi penggembala kambing, kambing Arab tentunya. Dalam ajaran-ajaran di madrasah, Nabi merawat dan menjaga kambing, supaya terlatih dan terbiasa untuk menjaga dan merawat umat.

Begitu pula ajaran di desa, anak-anak diajarkan untuk menjadi gembala tak lain dan tak bukan sebagai kurikulum di dalam kelas kehidupan yang sesungguhnya. Bagaimana sedari kecil ia dilatih untuk merawat dan menjaga sosok yang lain. Lantas jika si anak sudah besar ia telah terbiasa merawat yang hidup. Jika setiap orang adalah pemimpin, gembala sudah diajarkan menjadi pemimpin untuk makhluk lain sedari kecil.

Pokmas Menda Karya yang berada di bawah naungan Pemdes Walahar Wetan merupakan kelompok masyarakat yang bergerak dalam ternak ruminansia, tengah mempersiapkan segala ubo rampe menyambut program ZCD, Zakat Community Development, dari Baznas yang bertujuan memberdayakan kelompok liyan di desa.

Malam itu Menda Karya tengah membahas sarana, prasarana dan adminsistrasi yang harus dipersiapkan guna memelihara domba menjadi mimpi yang lekas tercapai sebagai implementasi ZCD. Mafhum, mengetuk pintu-pintu birokrasi lebih sulit dari pada mengetuk pintu kekasih, segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan matang.

Tidak ada sambutan dari kepala desa, sekretaris desa pun tidak mewakilinya, Agus Sulistiyono (Kasi Pemerintahan) malah datang belakangan.

Kang Heri memberondong pertanyaan terhadap Idris Sardi, Mas Sardi seorang kerani diskusi, sesekali nama Pak Marno dicatut, ia ketua dan yang dituakan dalam kelompok. Pak Musa menimpali obrolan terkait komunikasi dengan para pemangku kepentingan.

Memilih ternak laksana menikmati industri hiburan, memilih artis dengan alasan yang dapat diterima pasar, artis mana yang lebih seksi, apakah ia seksi lantaran keturunan kawin silang atau ia merupakan keturunan lokal yang efektif, mana yang lebih seksi di dalam pasar tak luput dari pembahasan.

Menyulut rokok, merangkai konsep, mendedar semangat. Sekumpulan aktivitas malam itu

Mas Dodiet berseluncur ria, menambah tab di pucuk layar, memperlihatkan rupa dan detail berbagai macam jenis kambing dan domba, ada yang lokal, ada yang semok, ada yang penuh karkas, ada yang kawin silang, ada yang bertanduk, ada yang berekor gimbal dan seterusnya. Mas Sardi dan Pak Marno memirsa dengan seksama, sesekali Mas Sardi mencatat, maklum ia sekretaris kelompok.

Seusai memirsa galeri di layar putih, muncul nama Merino, bukan Marino sang aktris pemenang Piala Citra 2017, atau Mourinho sang boss Manchester United. Saat ini Merino tercatat sebagai salah satu varietas yang menjadi primadona bagi para pternak. Merino tidak diharapakan berjalan lenggak-lenggok dan berdialog seperti Marino, pun dengan Mourinho, Merino diharap tidak banyak mengembik seperti Mourinho yang rutin berkelakar di depan layar gawai dan media.

Derak roda kendara memecah cembungan air terdengar dari luar, truk menerobos gerimis mejadi musik pengiring malam.

Yang diharap dari Merino sederhana saja, ia lekas beranak pinak, lekas berambut tebal, banyak memakan rumput, dan banyak mengeluarkan bribil dan lebusnya, tidak usah banyak mengembik seperti Mourinho.

Rambutnya dapat menjadi bahan tekstil, fesesnya dapat menjadi banyak kompos, hampir mustahil KKN Posdaya Unsoed yang selalu merapal mantra Azzola dapat tercapai tanpa adanya lebus lengkap dengan bribil ternak yang sudah terurai.

Lebih jauh, Menda Karya hendak didorong untuk mewujudkan kemandirian dan peningkatan  taraf hidup warga desa, memupuk partisipasi masyarakat, serta memahami bagaimana perangkat desa bekerja. Menda Karya diharap bisa bersinergi dengan alam sekitar, para peternak, sekitar baris perbukitan Kendalisada, pinggiran Serayu yang berpotensi menghasilkan banyak rumput dan dedaunan.

Lebih lanjut, Wlahar Wetan fokus dan beralih menjadi desa dengan pertanian organik dan mengurangi pupuk kimiawi, sebagai upaya pengurangan pemakaian pestisida dan pupuk an-organik. Pestisida sejatinya memberangus serangga tapi meracuni tanaman pangan, mencipta polusi terhadap lingkungan hidup, membunuh binatang, dan dapat membahayakan manusia.

“Saya ingin desa ini mandiri pangan organik. Selain ramah lingkungan, sehat dan warga bisa sejahtera,” kata Mas Dodiet.

Awalnya, air jadi satu-satunya kendala pertanian di desa karena produktivitas pertanian menurun drastis, saat ini Wlahar Wetan telah memiliki embung penampung air, salah satu rintangan berangkat dengan gerbong waktu. Kemudian, Mas Dodit menerapkan metode pertanian system of rice intensification (SRI).

“Metode SRI bisa untuk pertanian dengan pemanfaatan air terbatas, tak harus berlimpah,” jelas Mas Dodit.

“Ini tanah kami, jika tak dijaga, belum tentu pemerintah daerah dan pusat menyelesaikan masalah ini. Tak mungkin terwujud mandiri pangan jika sistem tanah rusak. Lebih baik kami selesaikan,” sambungnya.

Mulai tahun ini, Pemerintah mencanangkan program Kartu Tani yang berjabat tangan dengan Bank milih Pemerintah, bertujuan melakukan transaksi nontunai pupuk bersubsidi disertai penyesuaian dan pengawasan distribusi pupuk dengan luas lahan garapan. Pemerintah pusat dan daerah sibuk mengurusi kartu sakti yang dirapalkan mampu menjaga ketahanan pangan, dan swasembada beras, sementara Pemdes Walhar Wetan sibuk persuasi dan penerapan pentingnya pertanian berbasis organik, demi keberlangsungan hidup anak cucu, sanak saudara.

“Petani itu ahli seahlinya pertanian, mereka tahu kondisi lahan dan sudah lama bertani. Petani harus dibikin bangga secara profesi. Pemerintah desa pasang badan, kami perkuat lembaga kelompok tani dalam wadah musyawarah,” katanya.

Malam telah larut, beberapa orang peserta diskusi mulai bergerak tubuh, mereka kelimpungan, mereka kehabisan rokok, Mas Agus dan Pak Marno berdiri, pergi menerobos malam pekat.

Selain mendirikan sekolah tani di desa, merekrut pendamping pertanian organik, Mas Dodiet juga mendorong partisipasi warga dalam BKD (Bank Kredit Desa yang melayani simpanan, pinjaman, dan tabungan). Tujuannya bersahaja, memindahkan perputaran dan simpanan uang di desa dari bank konvensional, semacam upaya perlawanan terhadap kota yang penuh cukong dengan seenak udel memainkan inflasi, dan semacam memo untuk Washington yang menjadi markas IMF dan World Bank, yang memainkan kebijakan moneter di Indonesia selama puluhan tahun.

Sebelum azan subuh berkumandang tirai-tirai gerimis membasuh muka, saya tengah mengendarai motor hendak menarik uang, membeli sebungkus rokok. Di tengah perjalanan pulang ke pondokan. Saya teringat dengan cita-cita saya bekerja di media korporasi internasional. Menjadi penulis dengan genre esai-esai panjang dan menjadi jurnalis gaya sastrawi. Saya ingat betul, belum sekalipun membaca tulisan-tulisan Truman Capote, sebagai sosok penting dalam genre yang saya angankan. Ia besar bahkan sebelem jurnalis asal Belarusia itu menang Nobel, Ataupun Linda Christanty menjadi penulis laporan jurnalistik rasa prosa.

Mengingat Capote, membawa saya mengingat The New Yorker, lembaga pers bertajuk majalah asal New York yang memuat tulisan-tulisan Capote, sebagai salah saltu ikon Jurnalisme Sastrawi. Ia menulis di media yang dirintis oleh Harold W. Ross. Ross orang yang sekolahnya tidak jelas dan ia tidak menyandang gelar sarjana sama sekali. Ross berperan besar dalam membidani kesuksesan penulis-penulis besar dan menjadikan The New Yorker sebagai salah satu media terbesar sepanjang abad 20.

Sejatinya tidak ada kelompok orang yang belum beradab, tidak ada kelompok orang yang perlu dientaskan atau diberdayakan. Ini hanya soal lingkaran setan yang memonopoli ruang publik di dalam sirkuit kebudayaan sehari-hari.

Saya mengambil rokok yang merek dagangnya berasal dari wejangan Mbah Kholil, mengambil korek dan menyelusupkannya ke dalam bibir, lalu memantik api, Pak Marno masih sibuk berdiskusi dengan Mas Agus mencatat nama-nama, di penghujung sepertiga malam Pak Marno masih terjaga, gaya hidup yang sebegitu mudanya.

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Menilik Perjalanan Secangkir Kopi
Sekuler, Akar Istilah dan Perdebatan-perdebatan yang Menyertainya
Memo untuk Washington
Syarat Menikah itu Ada Pasangan, Mblo!
Cara Mudah Move On dari Mantan yang Sudah Kadung Dicintai ala Sigmund Freud
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Memo untuk Washington
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif