Mencegah Orang Mesum dengan Perbuatan Mesum

tertuduh mesum

Jikalau diri belum maksum usahlah menghakimi orang lain sekalipun mesum.

Hendarto adalah seorang pria gagah, kaya, dan besar hatinya karena bersedia mengangkat derajat Alisa yang merupakan bekas pekerja seks komersial dengan menikahinya. Tak heran, Alisa amat mencintai Hendarto hingga menyebutnya sebagai dewa penolong. Namun demikian, profesi Hendarto yang sebagai nahkoda kapal membuatnya harus meninggalkan Alisa, istri barunya, yang memiliki paras jelita itu.

Tentu saja, selayaknya pengantin baru, mereka enggan meninggalkan satu sama lain mengingat cinta sedang mekar-mekarnya. Tapi penggilan tugas terlampau sulit dielakkan, Hendarto pergi berlayar meninggalkan Alisa sendirian. Alisa bersumpah pun untuk menjaga diri dan harta yang ditinggal Hendarto sebagai sebuah bentuk kesetiaan.

Namun untung tak diraih, malang tak dapat ditolak. Usai Alisa bertemu dengan preman kampung dan memperkosanya ramai-ramai hingga  hamil ia mencoba aborsi. Lantaran terus dicibir oleh masyrakat dan merasa gagal menjaga sumpah setia pada suaminya, ia pun memilih mati bunuh diri. Kemudian arwahnya menjadi hantu yang menuntut balas kepada para pemerkosanya.

Peristiwa di atas adalah rentetan adegan pada film Sundel Bolong (1981) yang dibintangi oleh Suzzanna dan Barry Prima. Film itu menggambarkan situasi psikologis masyarakat Indonesia, terutama Jawa, dalam memandang kejadian pemerkosaan, atau mesum pada umumnya. Ia dianggap begitu kotor dan bisa menjadi sumber petaka bagi masyarakat sehingga harus dikucilkan bahkan kalau perlu dibunuh. Tekanan seperti itu (dicibir dan dikucilkan) yang membuat Alisa bunuh diri.

Kasus senada tentulah sering terjadi dalam dunia nyata. Terakhir menimpa dua sejoli yang sedang dimabuk asmara di daerah Tangerang sana. Keduanya dituduh telah berbuat mesum, hingga kemudian diarak ratusan meter setelah ditempeleng dan ditelanjangi. Tak berhenti disitu, penghakiman semacam itu juga diabadikan oleh para pelaku dengan membuat video dan menyebarkannya pada media sosial. Terlihat dalam video yang viral, mereka juga merayakan tindakan main hukum sendiri dengan menyeru berfoto selfie berlatar belakang pasangan yang ramai-ramai mereka telanjangi.

Celakanya, usai diselidiki, tuduhan mesum yang dialamatkan pada pasangan itu tak terbukti. Mereka hanya kedapatan sedang berdua dalam kos-kosan lantaran si pria mengantar makanan untuk kekasihnya. Tapi apa lacur, warga yang sudah kadung memasang sakwasangka tak mau menerima penjelasan mereka. “Hukum adat” pun diterapkan.

Sebagai bangsa yang memiliki standar moral tinggi, Indonesia memang kerap betul mempertontonkan aksi brutalisme tegas dalam menindak orang yang didakwa berbuat amoral. Terutama mesum. Kalau sudah menyinggung soal berbuat mesum, atau paling tidak dituduh mesum, semua orang akan bertindak sebagai “polisi syariat” yang siap sedia menegakkan hukuman yang dianggap pantas diberikan untuk pelaku mesum. Gunduli, pukuli, telanjangi, arak keliling kampung. Itu adalah prosedur tetap bagi pelaku mesum.

Alasan yang kerap dipakai, mayoritas masyarakat percaya bahwa orang yang berbuat mesum di suatu tempat akan membawa sial bagi tempat berikut orang yang tinggal di tempat tersebut. Oleh karenanya, agar nasib sial batal menimpa tempat itu, mestilah “hukum adat” ditegakkan. Telanjangi dan arak kampung!

Ironisnya, cara pandang demikian kerapkali diilhami dengan sentimen agama. Untuk menegakkan syariat agama katanya. Agar kejadian di kota Sodom yang dilaknat Tuhan karena perbuatan masyarakatnya tak berulang. Seakan Tuhan tidak lagi bernama al-Ghafur atau seakan manusia akan dituntut atas dosa orang lain atau seakan orang lain bisa mesum sementara dirinya maksum, terjaga dari dosa.

Padahal kalau fungsi otak agak naik sedikit, syariat agama mana yang ditegakkan dengan mengajak orang sekampung bahkan senegara melakukan maksiat? Laitu pelaku maksiatnya ditelanjangi dan diarak je. Bukankah itu sama artinya mempersilahkan seluruh masyarakat bermaksiat juga dengan memplototi terduga kasus mesum.

Kalau caranya begitu sih sama mesumnya. Atau apakah mereka berpikir, sepertihalnya mengobati gatal dengan mengoles tanaman yang menimbulkan rasa gatal, perbuatan mesum juga bisa disembuhkan dengan perilaku mesum lain? Kamfreet!

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga