Menda Karya: Memupuk Kesabaran, Domba-Domba Berdatangan

12/02/2018 247 0 0

Menjelang Sabtu siang, 13 Januari 2018, saya bergegas menuju Wlahar Wetan dari rumah Saniyem, nenek saya di Berta, Susukan. Di sana ada kabar, sekitar pukul 09.00 Menda Karya bakal membuat pakan silase.

Belasan menit lebih dari jadwal yang ditentukan, saya baru tiba di lokasi. Saya langsung menuju kandang, tak nampak hiruk pikuk, tak ada perkakas. Sepertinya pelatihan batal digelar, yang saya lihat hanya dangau besar nan panjang, tak jauh dari bukit.

Kandang ternak Menda Karya di Wlahar Wetan. – Foto: Supri

Saya tak ingin menyia-nyiakan waktu. Saya sempatkan melihat ke dalam kandang, suasananya terasa dingin, bambu rangka kandang mulai kehitaman, menunggu untuk diisi penghuninya.

Saya lalu melanjutkan perjalanan menuju Purwokerto. Nasib mujur menghinggapi, Dodiet Prasetyo, Kepala Desa Wlahar Wetan ada di tepi Jalan Kalibagor-Sokaraja. Saya melipir, terlibat percakapan singkat dengannya. Memastikan pelatihan pakan silase.

“Iya, hari ini tidak jadi (pelatihan), yang mendampingi berhalangan hadir,” terangnya. Saya pamit, langsung memutuskan melanjutkan perjalanan dan waktu menghabiskan dirinya sendiri.

Menjelang Dzuhur, Rabu, 7 Februari 2018, rombongan dari Pabuwaran dan Wlahar tiba di sebuah kandang ternak, Menda Ananda Putra. Lokasinya terletak di Menganti Kesugihan. Rombongan Pabuwaran terdiri dari saya, Kang Heri, Kang Ahmad, Pak Taufik, Gus Abror, dan Mas Arif sang penunjuk jalan. Sedangkan rombongan Menda Karya terdiri dari Pak RW II, Pak Musabiyanto (Sekertaris Desa Wlahar Wetan), Pak Wardi, Pak Sumarno, Pak Nardan, dan lainnya.

Peternakan Menda Ananda Putra. – Foto: Supri

Kedatangan rombongan langsung disambut hangat oleh Pak Agus, pemilik peternakan. Menda Karya pun langsung bergegas melihat beragam varietas kambing dan domba yang tersedia di kandang. Saya ikut pula memirsa berbagai domba ekor gemuk dan jenis kambing.

Ada berbagai macam orientasi bisnis di sana, mulai dari indukan jantan, indukan betina, indukan tengah isi, cempe penggemukan, sanen perah, peranakan etawa, kambing kontes, dan sebagainya. Ternyata tidak hanya membudidayakan berbagai jenis ternak ruminansia, ayam ras petelur pun turut dibudidayakan di Menda Ananda Putra.

Transaksi jual beli yang dilakukan Menda Karya di Menda Amanda Putra. – Foto: Supri

Rombongan Menda Karya setelah puas melihat dan memilih mana saja domba yang bakal mereka bawa pulang, akhirnya diselesaikan dengan obrolan transaksi berapa yang bakal dibawa (baca:beli) ke Wlahar Wetan. Obrolan dilakukan oleh Pak Musa dan Pak Marno, ditemani Kang Heri dan Mas Arief, Pak Nardan dan seorang anggota Menda Karya bersama Pak Agus, pemilik Menda Ananda Putra.

Domba dan Kambing yang dibeli oleh Menda Karya. – Foto: Supri

Beberapa tempo berselang setelah jabat tangan berlangsung, domba ekor gemuk dinaikkan ke atas kendaraan roda empat dan siap berpakansi menuju rumah baru di Wlahar Wetan. Menda Karya pun memborong lima pejantan dan 30 betina, baik yang sudah kawin, tengah hamil, atau yang masih ting-ting.

Pakan ternak disantap dengan lahap. – Foto: Supri

Sekira tujuh puluh lima menit, L 300 yang saya tumpangi sekaligus yang mengangkut domba dari Menganti sampai di lokasi tujuan. Setibanya dikandang, Menda Karya menghidangkan pakan silase yang sudah disiapkan, tak lupa bak minum untuk melepas jetlag. Meski pakan di Menda Ananda Putra sedikit berbeda dengan pakan milik Menda Karya, si ekor gemuk tetap lahap, seolah tahu mereka telah berganti tuan.

Kamis pagi, 08 February, malamnya saya mendapat pesanan transcript text di Klampok, gawai purna sehabis Asar, langit Purbalingga dan Purwokerto menghitam, saya memutuskan kembali ke Purwokerto melalui jalur selatan. Langit sedang tidak bersahabat, sebentar-bentar menangis, dan tiba-tiba tersenyum. Saya memutuskan mampir ke kandang, kebetulan saya tidak membawa mantel dan membutuhkan tempat berteduh.

Di waktu malam, kami kumpul semua, anggota yang biasanya tidak ikut rapat organisasi ikut datang. Dan domba yang dibeli kemarin, ada yang beranak. Anaknya dua dan jantan semua. “Ini kalau dijual keduanya Rp 200.000 pasti laku,” tutur Pak Nardan setengah bercanda.

Anak kambing menyusu induknya. – Foto: Supri

Keluarga Menda Karya resmi bertambah dua personel, saya merasa adanya energi lebih dari Menda Karya. Mereka so excited setelah dalam tempo semalam beternak domba langsung membuahkan hasil.

“Nanti kita fokuskan kandang bagian selatan untuk pembibitan, sementara bagian utara untuk penggemukan,” tambah Pak Wardi.

Menda Karya memelihara ternak. – Foto: Supri

Pepatah mengatakan “Pucuk dicinta, ulam pun tiba”, Menda Karya berorganisasi, bekerja keras, bermusyawarah sampai dini hari, meminang harap, memupuk kesabaran, dan domba mereka pun tiba. Dua anak domba yang baru saja lahir laiknya kemenangan kecil untuk Menda Karya. Pak Nardan dan Pak Wardi, terlihat sumringah.

Comments

comments

Tags: Menda Karya, Peternakan, purwokerto, Ternak Domba, wlahar wetan Categories: Pustaka Warga, Reportasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Supri Tok Supri Tok

Laki-laki medioker biasa, peminum kopi sachet dan membeli rokok eceran

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.