Menebak Arah Pendidikan Kita

Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sering terdengar melalui siaran berita di berbagai lini masa. Kerap kali, di banyak media, salah satu alasannya adalah tayangan televisi atau tontonan video yang menyebabkan tindakan kekerasan tersebut. Atau dalam tindak kekerasan asusila, alasan yang juga sering disebutkan sebagai pemicu adalah tayangan televisi yang fulgar sehingga sensor televisi bahkan sudah merambah pada film kartun, memegang pisau, hingga merokok.

Beberapa waktu lalu muncul berita seorang siswa berusia belasan tahun membunuh temen sepermainannya. Pihak sekolah memberikan informasi bahwa pelaku menyukai film-film yang berbau kekerasan—mengingat kronologi tindak pembunuhan sesuai dengan adegan pada film yang disukai pelaku.

Sekolahan umumnya menyatakan sudah cukup ketat dan disiplin dalam banyak hal untuk mengatur siswanya. Namun, sudah berapa kali kasus serupa terjadi di berbagai lembaga pendidikan? Sesuai data tahun 2015 dari ICRW (International Center for Research on Women), sebanyak 84% siswa di Indonesia pernah mengalami kekerasan. Adakah yang salah dengan pendidikan kita?

Sebagai lembaga berorientasi pasar, institusi pendidikan kerap menggunakan alasan-alasan tertentu, meskipun bukan itu, untuk menjaga nama baik. Sebab tidak akan ada satu pun lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal, yang ingin menyebarluaskan masalah internal. Bisa kukut gasik. Kecuali lembaga tersebut sudah siap untuk mendapat citra buruk.

Hasilnya, mereka lebih memilih diam, mengunci masalah, ataupun mengeluarkan pelaku untuk menghilangkan jejak negatif. Selanjutnya, kejadian tersebut bisa saja kembali terulang.

Tak hanya kekerasan, lihat saja di sekiling mengenai hal-hal yang kadang terlewat oleh media massa. Seorang siswa yang diketahui hamil di luar nikah dengan alasan apapun akan dikeluarkan dari sekolah secara sepihak. Dianggap mencemarkan nama baik. Tidak bermoral. Berdosa.

Padahal, negara sudah menjamin melalui undang-undang bahwa setiap orang berhak mendapat pendidikan. Moral yang selalu dielu-elukan sebagian besar masyarakat ini, kemudian merampas hak seseorang untuk mendapatkan perlakuan yang sama. Apakah ada aturan bahwa perempuan hamil tidak diizinkan untuk sekolah ataupun melanjutkan sekolah? Adakah kesempatan bagi mereka yang sudah “terlanjur” untuk mendapatkan pendidikan, tidak menikah atau mengugurkan kandungan jika belum mampu dan siap untuk melanjutkan cita-cita?

Permasalahan moral yang dipandang kaku begitu memang tidak akan ada habisnya, dan selalu saja menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Mengutip dari percakapan bersama Fx.Widyatmoko, seorang dosen ISI Yogyakarta bahwa apabila tidak ada aturan tertulis mengenai suatu hal di ranah pendidikan, lembaga tersebut harus mengambil tindakan atau tafsir tersendiri dan tetap menguntungkan pihak pelajar.

Indonesia melalui lembaga pendidikannya mestinya harus terus menciptakan masyarakat terdidik untuk meningkatkan daya saing agar setidaknya tingkat perekonomian rakyat semakin meningkat. Bukan hanya mengeluarkan seorang siswa hamil, menyuruhnya menikah, berumah tangga dan menumbuhkan keluarga miskin yang bisa saja berkelanjutan sebab tingkat kematangan berpikir masih belum sempurna.

Tak terkecuali pada orang-orang yang sudah “terlanjur” dalam hal apapun harus tetap menjalani hidup sesuai dengan hak dasarnya sebagai manusia untuk memperoleh pendidikan. Bukankah mestinya lembaga seperti sekolah ini mendidik orang “tidak bener” jadi bener? Bukan malah, atas nama ego instansi, sekolah menelantarkan mereka yang paling butuh pendidikan.

Mereka inilah yang seharusnya diberi kesempatan untuk mengambil keputusan dengan saran yang tepat dari orang dewasa serta mendapat dukungan tanpa perlakuan diskriminasi atau menyalahkan begitu saja. Semua punya kait kelindan. Orang-orang di sekitar juga setidaknya tidak mengunjinginya. Sebaik-baik ucapan adalah yang tidak menyakiti orang lain bukan?

Sebenarnya memang tidak ada pilihan yang tidak memiliki resiko. Setiap hal memiliki sisi baik dan sisi buruk. Ada pepatah yang mengatakan bahwa lebih baik mencegah dari pada mengobati, namun setiap permasalahan yang sudah terjadi harus diselesaikan dari akarnya. Tidak sebatas mematahkan ranting yang terlanjur patah, mengeluarkan siswa yang hamil misalnya.

Kehamilan tidak diinginkan setidaknya dapat dihindari dengan adanya pendidikan seks di ranah sekolah dan tidak sebatas pelajaran biologi semata. Membangun saling percaya serta pengawasan yang cukup dengan tetap menjaga kenyamanan setidaknya dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Pandangan orang tua maupun guru yang masih tabu untuk membicarakan hal-hal terkait reproduksi perlu dihilangkan. Sebab hal tersebut sangat perlu diketahui oleh para remaja sebelum mereka benar-benar mampu mengambil keputusan dengan layak.

Pendidikan seharusnya tidak hanya memberikan pelajaran terkait ilmu pengetahuan alam maupun sosial saja. Sebab pendidikan mestinya adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Singkatnya, pendidikan tidak hanya sebatas ujian dan mendapat nilai bagus.

Nilai bagus, yang kita elu-elukan itu, seringkali didapat dari hasil yang tidak lebih baik dari tindakan semisal menipu. Ya mencontek secara kasar bisa kita sebut menipu. Ironinya ini sudah menjadi semacam budaya menipu yang penuh pemakluman. Bahkan kini penipuan itu disejajarkan dengan moral Pancasila. Bahwa mereka yang menolak diconteki akan dianggap “tidak setia kawan”, “pelit”, anti gotong royong dan sebaginya. Ironi, ya ironi.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga