Memilih Idola yang Tepat , Menjadi Jalan Pintas untuk Menemukan Identitas Diri

meniru Idola

Di depan Tuhan saja, sosok idola tidak sama dengan kita. Apalagi di depan netizen.

Guru ngaji pernah meminta saya mengidolakan kanjeng Nabi Muhammad. Biar jadi anak muslim yang baik katanya. Saya mengiyakan meski tidak mengerti harus bagaimana mengidolakan nabi dengan baik dan benar itu. Saat dewasa saya sadar, mengidolakan nabi bukanlah perkara gampang. Saya bahkan belum bisa mengikuti dalam urusan sederhana semisal, makan.

Nabi hanya makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Sementara saya selalu lapar saban melihat makanan, dan susah berhenti sebelum kenyang. Duh, muslim macam apa saya ini, urusan makan saja tidak mampu mengikuti Nabi.

Lalu seorang teman yang ahli motivasi diri menyarankan saya agar punya idola lain. “Jika kanjeng nabi terlalu berat, pilih orang di sekitar saja yang menurutmu baik” katanya memberi saran. Dia bilang punya idola itu penting, apalagi ditengah krisis identitas seperti saya ini. Maka, kata dia, carilah idola sesuai cita-cita.

Nasihat teman saya bisa jadi ada benarnya. Setahun lalu saat pulang kampung, saya mendapati ponakan yang masih duduk di Sekolah Dasar sudah pandai menggeram dan mengaum. Persis seperti macan. Kata ibunya akibat sering nonton sinetron “ganteng-ganteng serigala”. Ponakan saya barangkali sedang mencoba membuktikan bahwa semua anak bisa jadi macan, atau paling tidak yang sama buasnya dengan macan.

Ponakan saya tidak salah, dia hanya mengulangi kelakuan pamannya 10 tahun lalu. Dulu, saat masih sering menonton serial Angling Darma, saya bercita-cita ingin menjadi Sudawirat dan menguasai Ajian Rengkah Gunung. Pada saat itu, saya gemar menjajal peruntungan jadi pendekar, meski gagal.

Idola memang bisa menjadi jalan pintas untuk menemukan identitas. Alasan seseorang memilih idola adalah karena kesesuaian prefensi politik, profesi dan kesamaan cita-cita. Bila ingin jadi penulis, maka carilah idola dari kalangan penulis. Dee lestari, Seno Gumira atau siapa saja. Bila ingin jadi politisi, carilah politisi idola, Jokowi atau SBY misalnya. Bila ingin orang religius, maka carilah idola dari kalangan ulama yang kamu suka.

Berteman dengan penulis, adalah salah satu cara untuk bisa menulis. Tidak perlu dengan yang sudah tenar, yang baru meniti karier seperti Fajar juga bisa. Penulis muda sekaligus redaktur esensiana.com. Kan lumayan, selain dapat tips menulis kamu bisa maksa tulisanmu dimuat di situsnya.

Untuk menjadi politikus kamu tidak perlu berteman dengan politisi. Lagipula politisi belum tentu mau jadi temanmu. Kecuali kamu punya massa. Yang mungkin kamu lakukan adalah mengidolakan mereka. Itupun harus memilih dengan tepat. Soal ini saya pernah curhat senior saya di HMI. “Mengidolakan politisi itu seperti milih ikan. Maka pilihlah ikan yang sedikit durinya” kata kakanda saya memberi nasihat pada adindanya.

Saya buka katalog politisi, disana ada nama Prabowo tapi saya memilih Jokowi. Saya ngefans berat, pada mulanya. Karena selain rajin bagi-bagi sepeda dan memelihara katak, gaya hidup beliau cukup asketis. Mengingatkan saya pada presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad yang syingah itu.

Tapi akhir-akhir saya mulai tidak suka pada kebijakan Jokowi yang pro oligarki. Blio juga mengubah kiblat ekonomi Indonesia ke Cina yang kuminis, plus hutang negara yang kian menumpuk. Juga daya beli masyarakat menurun, diganti daya beli kapitalis yang merudal. Salah satu akibat yang terjadi hanya di zaman Jokowi adalah Paris Saint Germain yang secara gila mendatangkan Neymar seharga 3,5 T.

Kembali pada urusan ulama, sekarang banyak sekali, baik ulama beneran atau ulama kapiran. Kamu bisa buka katalognya dan bisa pilihlah idola sesuai karakter. Kalau kamu ngamukan dan gampang naik pitamvokal dan apa-apa mau direvolusi, Habib Riziq bisa menjadi pilihan. Andai kamu kalem dan suka mikir dalam, Gus Mus dan Cak Nun bisa menjadi panutan.

Tapi punya idola bukan berarti hidup tanpa resiko. Salah satu resiko terbesarnya adalah kehilangan nalar. Karena sebagian besar orang cenderung menganggap apapun yang dikatakan idolanya adalah sebuah kebenaran. Sehingga membela idola sama dengan membela kebenaran. Pengikut tipe ini bisa disebut sebagai pentol korek, kegesrek dikit langsung nyala.

Jika idolanya figur berilmu dan berintegritas semisal Gus Mus mungkin tidak masalah, tapi andai yang dikuti sekelas abangnda Jonru atau baginda Deni Siregar, tentu punya potensi gaduh besar. Karena dua tokoh umat beda kutub ini terlampau sering nyinyir dan fans beratnya langsung ngesyer status mereka tanpa mikir.

Sialnya mereka berdua beda frefensi politik, sehingga di lini maya para pengikutnya kerap baku–komen (sebuah istilah alih konteks dari baku-hantam). Kalau kamu pernah lihat bagaimana pengikut Deni Siregar dan Jonru berantem, serunya ngalah-ngalahin  Liverpool Vs Watford semalam. Saat Jonru dkk melakukan counter-attack, Deny Siregar dengan sigap melakukan gegenpressing di sepertiga lapangan.

Jangankan followers dua tokoh itu, para jama’ah Maiyah juga bisa berubah menjadi galak jika Cak Nun diserang orang kok. Tentu kamu masih ingat soal polemik uang pemberdayaan ekonomi umat dengan PBNU yang jumlahnya tak sampai separuh dari transfer Neymar ke PSG itu kan?

Idola pada titik tertentu bisa menjadi candu, dan beresiko kehilangan akal sehat. Saya juga punya idola yang mempengaruhi tingkah laku secara sadar maupun tidak. Tapi sebisa mungkin saya hanya mengidolakan mereka yang teruji secara integritas dan akal sehat. Tujuannya apalagi untuk cari aman, biar tidak asal counter-attack serampangan, lalu jebol di sana sini. []

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah