Menengahi Perseteruan Kakak Beradik, Fajar dan Heru, yang Rebutan Beer

Melihat rame–rame di esensiana.com  soal adu argumen tentang halal haramnya beer yang terpampang di kampus UMP, saya merasa harus turun gelanggang. Sebagai juru damai, apa yang diperdebatkan oleh Fajar dan Sugeng Heru P. memaksa saya untuk turut campur. Keduanya sebenernya adalah kakak beradik yang wolak-walik. Begini penjelasannya. Secara ideologis dan organisasi Heru, begitu mantan ketua KOPMA ini kerap dipanggil, adalah senior dari Fajar. Sehingga sah, Sahabat Heru dipanggil Mas oleh Fajar. Tapi kondisi lantas berubah 180 derajat jika kita menggunakan ukuran umur. Fajar yang lahir tahun 93 harus dipanggil Mas oleh sahabat Heru yang baru lahir setaun kemudian. Piye jal?

Kondisi yang demikianlah yang membuat sejarah panjang ajang perebutan status Mas dari mereka tak kunjung purna. Adu argumen dan pengaruh adalah suatu yang biasa bagi dua manusia pilih tanding asal Wonosobo ini. Di kampus, keduanya sama-sama pernah menjadi ketua KOPMA, Ketua 1 PMII, BP KOSMA, dan masih banyak kesamaan lain.

Saya merasa Mas Heru dan Mas Fajar ini–sengaja semua saya panggil mas supaya tidak rebutan–sedang mencoba alih profesi dari penjaga toko buku di KOPMA menjadi kepala bidang syari’ah sub bidang halal haram MUI wonosobo. Karena begitu seriusnya mereka membahas masalah halal haramnya banner greensands yang ada di kampus. Bahkan sampe pake teori ekonomi dan teori sosial segala.

Memang menjadi begitu kontroversi ketika di dalam kampus yang visinya saja Unggul, Modern, dan Islami ini berkibar sebuah brand produk minuman yang “dulunya” merupakan minuman beralkohol. Mungkin inilah yang menjadi keresahan Fajar. Apa lagi konon Fajar ini digadang-gadang menjadi mufti wonosobo. Namun ada satu hal yang dilupakan oleh beliau bahwa greendsands yang dijual bebas di toko swalayan hari ini merupakan produk yang sudah nol alkohol, maka dalam hal ini pendapat Mas Heru dalam tulisannya “beer sebagai media mencintai bangsa” cukup bisa dibenarkan. Namum sebagai muslim yang ingin menjadi baik, saya juga tidak sepakat denga pendapat Mas Heru yang menempatkan halal-haram pada sifat relatif. Tentu sebagai pengikut  Ustadz Flix siau dan Khalid Basalamah saya memandang pendapat ini terlalu liberal.

Sebagai penikmat minuman tersebut dan juga bagian dari UMP tentu saya menilai perlu adanya klarifikasi dari Fajar. Bolehlah kalau mau dikonsep semacam konvrensi pers gitu. Kan malah bisa menambah kegiatan LPM Bhaskara kita, atau memfungsingkan UKM penyiaran macam Gradiosta. Terkait dengan isu yang coba di lontarkan oleh bliau—mbok siapa tau jadi viral, lumayan buat eksis—saya sarankan untuk mulai getol menyebarkan bahaya beer. Atau coba deh membeli minuman tersebut di swalayan samping kampus, dijamin enaknya sama dosanya beda.

Namun demikian ada hal positif dari keresahan Fajar tentang hal tersebut, karena bliau seorang ahli branding, tentu menurut bliau kampus islam tidaklah patut menjadikan dirinya di labeli sebagai pendukung produk kapital yang sempat di cap produk ber alkohol. Karena jelas Brand kampus islami bisa rontok.

Kemudian tentang mahalnya kantin, ini memang menjadi keresahan bersama, apalagi untuk mahasiswa dari kalangan proletar. Kantin tidak lagi menjadi tempat yang nyaman buat makan. Bisa di bayangkan masuk kantin pesen makan eh pas liat harga bukanya laper malah baper. Belum lagi kantin yang beralih fungsi dari tempat ngumpul sama diskusi mahasiswa menjadi semacam Cafe Bonafit  tempat nongkrong kaum kelas menengah ngehek. Dalam hal ini saya kurang sepakat dengan pendapat Mas Heru, bahwa harga suatu produk di pengaruhi oleh penawaran dan permintaan, dan mahal murahnya di pengaruhi oleh kuantitas permintaan, fakta di lapangan bahwa konsumen kantin jauh sangat menurun setelah berubahnya sistem kantin dan naiknya harga. Indikatornya sederhana, Fajar seorang penghuni kampus saja enggan ke kantin.

Namun ada hal positif dari naiknya harga – harga di kantin, karna ini cukup menguntungkan untuk penjual makanan yang ada di luar gerbang kampus, penjual jajan seperti cilok bakar, leker, mi lidi, cimol, kemudian warung makan seperti warung bu eni, bi tum, bu nunung, bu widem menjadi sangat di buru oleh mahasiswa karna harga yang jauh lebih murah dan terjangkau oleh Mahasiswa. Atau ini memang strategi sedekah kampus untuk pedagang asongan sekitar kampus yak?

Jadi diakhir tulisan ini saya malah bingung saya ini mbelani siapa sih sebenarnya? Atau gini aja deh, saya sarankan kalian berdua untuk beradu minum beer. Siapa yang habis paling banyak, berarti dia yang benar. %^#@#%%^!^#

One Response

  1. 22/09/2016

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Albert Camus
Pidato Kebudayaan Nobel Sastra Albert Camus
CPNS
Yang Tidak Bisa Diremehkan dari CPNS
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Terkuaknya Saracen
Terkuaknya Saracen dan Perintah Islam dalam Berhati-hati Menyikapi Berita