Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan

 

jalan dan pahlawan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang jalannya pakai nama pahlawan

Soekarno dan Hatta sedikit beruntung, keduanya tidak hanya dijadikan nama jalan, mereka dibuatkan monumen, menjadi nama bandar udara, dan menjadi nama stadion terbesar. Meski sejak 1952 Hatta secara pemikiran sudah tidak sejalan dengan pasangan dwi tunggalnya itu. Adakah cara lain yang lebih keren untuk mengenang seseorang, khususnya mereka yang dianggap pahlawan selain di dalam poster di sudut sekolah, di dalam buku UUD, buku bazaar, buku pelajaran, hafalan dan nama jalan?

Dalam program Bab yang Hilang episode “Soekarno vs Hatta” (lihat: https://www.youtube.com/watch?v=TJy65RZJgLQ) Halida Hatta, Putri bungsu proklamator menyampaikan bahwa buku milik ayahnya yang berjumlah 10K membutuhkan daya dan pagu ekstra untuk tetap terjaga. Ia bahkan mematikan pendingin ruangan saking terbatasnya daya uang dan daya listrik. PDS milik Paus Sastra Indonesia pernah terselamatkan dengan koin. Mengapa tidak menghormati Hatta sebagai pahlawan dengan menyelamatkan selera bacanya lewat medium buku –bukunya?

Dalam cerpen Agus Noor Matinya Seorang Demonstran, sang penulis naskah membuka cerpen dengan sebuah kalimat yang tertulis: Pahlawan hanyalah pecundang yang beruntung. Tentu kalimat tersebut tidak berlaku seutuhnya dan selamanya. Menegasikan kalimat tadi, pahlawan sessungguhnya dekat dengan kesialan. Sila susur hari-hari menjelang ajal milik Pak Karno, Pak Hatta, dan Pak Syahri, bukankah mengenaskan.

Beberapa belas tahun terakhir terjadi periode baru, munculnya fiksi-fiksi sejarah dan biografi bermunculan untuk mengenang pahlawan, tentu selain film-film biopic yang mulai banjir di layar perak. Film menyajikan gambaran dan interpretasi yang berlainan kepada pirsawannya. Tulisan dan sastra adalah sesuatu yang lain. Pram mengenang Tirto Adhi Suryo di dalam Tetralogi Burunya, Romo Mangun menuliskan Burung-Burung Manyar untuk mengenang keberanian, ketenangan, dan kecerdasan idolanya Bung-Sutan Syahrir-Kecil. Si Binatang Jalang dikenang lewat Hasan Aspahani menuliskan Chairil sementara Sjumandjaya membuat skrip Aku yang tak selesai lalu laris setelah AADC menjadi Box Office. Dan itu bukan lagi hal yang baru, Hemingway menulis A Moveable Feast salah satunya ditujukan untuk sahabatnya Fitzgerald. Fitzgerald adalah salah satu penulis terbesar Amerika pada pertengahan abad 20 lewat karyanya The Great Gatsby. Yang terakhir diadaptasi menjadi sebuah film yang diaktori oleh Leo Di Caprio. Hemingway sedih, lantaran Fitzgerald kehabisan daya kreatifnya yang luntur akibat kobam dan sibuk akan urusan perempuan. Fitzgerald terkubur oleh apa yang ia tuliskan sendiri, ia pelaku nyata American Dreams.

Kembali ke pahlawan nasional, definisi sastra tidak hanya berlaku untuk fiksi dan narasi. Jika ia diartikan sebagai tulisan yang indah, asalkan tulisan itu indah ia bisa disebut sastra. Ini dibuktikan dengan penulisan yang indah oleh penulis lagu dan penulis laporan jurnalistik yang menggenggam medali emas dan mendapat satu juta dollar dari Akademi Swedia.

Hindia-Olanda terkenal musabab menjadi pusat rempah dan lahan gulanya. Semakin terkenal di mata dunia setelah tulisan Multatuli Max Havelaar yang mengisahkan betapa bopengnya yang disebut kolonialisme diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dan dibubuhi pengantar oleh DH Lawrence, salah satu raksaa sastra yang lain.

Virginia Woolf menolak disebut Feminis, ia lebih suka disebut seorang humanis. Tulisan Woolf menghantam zamannya, ia mulai Berjaya sebagai penulis perempuan saat di sejumlah negara perempuan bahkan dilucuti dengan niradanya hak pilih. Surat-surat Kartini tentu monumental dengan konteks zamannya. Tulisannya merunut publikasi tidak terpaut jauh masanya dengan karya tangan Kate Chopin dan Charlotte Perkins Gilmans dalam mengangkat isu-isu soal perempuan. Mereka mendahului Woolf yang dikenal sebagai salah satu penulis terbesar pada abad dua puluh, jua Susan Glaspell yang menampar dunia lewat drama satu babaknya.

Menyusuri Jalan Kartini dan politik busana

Tercata nama Raden Ajeng diabadikan di empat kota berbeda di Belanda, yakin Utrecht, Venlo, Haarlem dan Amsterdam. Mengapa bisa begini ? Pemerintah kota tersebut berlaku jujur, mereka berhutang banyak terhadap pemikiran Kartini. Apresiasi menjadi semacam balas budi.

Kartini dan mevrouw-mevrouw (baca; nyonya) di Belanda memiliki kesamaan takdir. Mereka dibelenggu dan dipenjara lewat busana yang mereka kenakan, kebaya, korset terusan dan gaun. Kebaya putih memiliki berbagai macam implikasi berbeda, misal untuk perempuan Jawa ningrat, itu menandakan ia adalah bangsawan dan istri pembesar, lainnya menandakan bahwa kebaya putih adalah atribut sosial yang hina lagi dina. Para nyai memakai kebaya warna putih untuk menjadi istri pria kulit putih tanpa adanya ikatan perkawinan. Pada waktu itu belum ada ide untuk membuat regulasi perkawinan, Gadis Pantai dan Kartini menjadi korban brengseknua zaman. Korset terusan adalah daleman berikut kutang sampai rok, yang digunakan sebelum dilapisi gaun.

Dengan menulis surat pada kawan penanya di Belanda, Kartini sedang menampar banyak muka sekaligus. Ia tengah menampah adat Jawa, hukum kolonial dan para pembesar keduanya berbarengan. Betapa cacat dan busiknya cara berpikir hukum yang diperuntukkan kejayaan Hindia Olanda.

Hukum di Belanda memperbolehkan perkawinan tanpa dihadiri mempelai laki dan pernikahan akan tetap sah. Pemberkatan di altar gereja cukup diwakili oleh benda yang dianggap istimewa. Jika malam pertama adalah pengalaman indah dalam hidup, pengalaman macam tadi adalah mimpi buruk.

Dan itu belum seberapa menyiksa, siksaan yang terdalam dan paling mengerikan adalah kesepian. Istri meneer (baca: tuan) ditinggal dirumah, lain dengan suami sedang mencari roti di belaham bumi lain. Salah satu hak utama dan pertama istri dikeloni harus ditabung dan ditimbun di angan-angan. Menunggu suami pulang laiknya meminang harapan. Bayangkan sampean punya suami tapi tidak pernah tidur seranjang hingga menahun. Pabila musim dingin datang hanya mikol yang setia menyapu tubuh. Di belahan bumi katulistiwa suami mereka sibuk bersetubuh dan beranak pinak dengan nyai. Mau berselingkuh? Hukum waktu itu menjamin pelaku seleweng dan pelakor bakal diseret ke meja pengadilan, boro-boro mintai cerai.

Jalan Soekarno, Jalan Syahrir dan Jalan Hatta di Belanda

Ia tinggal di Amsterdam bagian selatan, yang kemudian menjadi lingkungan kelas menengah yang sejartera. Syahrir tiba di Amsterdam pada 1929, pertama kali ia kuliah di Universitas Amsterdam. Ia kemudian menjadi mahasiswa hukum di Leiden. Ia pria muda, kecil, ramping, dan bertubuh proporsional untuk ukurannya. Syahrir orangnya terbuka, nyambung, idelaismenya jujur dan sangat antusias, tidak mungkin tidak menyukainya ketika pertama bertemu. Mengesankan ia turut serta dalam kegiatan aktivis himpunan mahasiswa.

Hatta tiba di Belanda pada 1922. Ia pernah mengambil studi di Leiden, tapi ia pindah di perguruan tinggi swasta di Rotterdam. Pada tahun 1925 ia menjadi bendahara Perhimpuan Indonesia. Ia menjadi ketuanya setahun kemudian. Ia ditangkap pada tahun berikutnya atas tuduhan gerakan kiri.

Syahrir kembali ke Indonesia pada Februari 1932 dan diduga menjadi pimpinan PNI baru. Hatta tiba pada Agustus 1932 dan dengan segera ia mengumumkan keputusannya bergabung dengan partai dan menggantikan Syahrir.

Sukarno memimpin PNI pada 1927. Pada 1929 ia ditahan atas tuduhan subversive. Pledoinya yang terkenal “Indonesia Menggugat”. Perhimpunan Indonesia pada 1925-1926 menjalin hubungangan dengan orang-orang kiri Indonesia dan Belanda dan Komintern, meski merek lebih memilih sebagai radikal nasionalis dari pada komunis itu sendiri. Ketika Syahrir pulang ia membawa pulang pula buku perpustakaan milik kampus yang ditulis oleh Rosa L Accumulation Das Capitals melalui Sol Tas. Berawal dari itu Syahrir masuk dalam catatan sejarah penting abad dua puluh.

Aktivisme Syahrir sejak di kampus serta keberpihakkannya terhadap tanah air membuatnya istimewa terlebih lagi perannya dalam mempertahankan. Sebuah penghormatan Leiden turut berkontribusi kepada Syahrir. Tak mengherankan Leiden menghadiahi Syahrir nama sebuah Jalan. Hatta dianugerahi nama jalan di Harleem bukan di Amsterdam atau Rotterdam ini yang mengherankan.

Soekarno tidak pernah bersekolah di luar negeri lantas buat apa ia dipatri di Maroko dan Belanda? Ia merupakan harimau. Ia salah satu orang paling berbahaya, ia berperan aktif dalam KTT Asia-Afrika dan GNB, ia jelas menentang dua blok yang sedang berkontestasi dan unjuk kekuatan. Ia menghimpun kekuatan bangsa-bangsa tertindas. Ia juga membangun gedung kura-kura untuk menandingi gedung PBB.

Soedirman dan Gatot Nurmantyo, eh Gatot Soebroto laris dan kondang jadi nama jalan protokol di banyak daerah. Jika pada kenyataannya negara tidak pernah dijajah negara lain (kecuali Jepang) melainkan perusahaan-perusahaan asing. Dikedua jalan ini keduanya kekal disandingkan dengan apa yang mereka lawan pada zamannya.

Catatan:
Pada sub Syahrir dan Hatta sejumlah paragraph diterjemahkan dari Obituari Sol Tas atau Salomon Tas untuk Syahrir yang berjudul Souvenirs of Sjahrir.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga