Menikah Dini Berbeda dengan Menikah Muda

 

nikah muda

Menikah muda juga ada kriterianya

Saat ini, posisi saya lagi nggantung. Bukan sedang digantungin pacar, bukan. Lha wong saya juga ndak punya pacar. Posisi saya lagi di tahap sudah dinyatakan lulus dari universitas tapi belum mendapatkan ijazah. Tapi diantara penantian menunggu ijazah, banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengiringi. Dan yang paling sering ya ihwal perjodohan. Habis ini mau langsung nikah ya?, setelah ini mau langsung dihalalin ya?, atau sudah siap dimantu nih. Pertanyaan dan penyetaraan itu cuma saya jawab dengan mesem. Dalam hati, uasem yah, memang ketika kita memilih untuk langsung menikah tanpa persiapan apa-apa dijamin bahagia? Saya sih, ndak sepakat.

Akhir-akhir ini, wacana tentang pernikahan merebak kencang di kalangan masyarakat, terutama remaja perempuan. Pernikahan selalu digambarkan dengan iming-iming yang indah-indah. Apalagi didukung dengan adanya gerakan nikah muda yang terinspirasi dari anak seorang ustadz terkemuka yang memutuskan menikah diusia 17 tahun. Kampanye yang selalu disampaikan adalah menikah untuk menghindari zina. Menurut saya, zina tidak akan terjadi ketika pola pikirnya tidak hanya dipenuhi dengan selangkangan. Kalau tidak boleh berzina ya puasa. Bukankah agama juga mengajarkan demikian?

Menikah bukanlah sesuatu yang sederhana, ia sakral dan tinggi. Memutuskan untuk menikah berarti sudah mempersiapkan segalanya termasuk hal-hal apa saja yang akan terjadi setelah prosesi pernikahan. Menikah tidak lantas seperti film Pretty Woman, atau Cinderella yang ceritanya berakhir ketika perempuan mendapatkan pangeran. Sebuah pernikahan lebih dari itu.

Keputusan riskan adalah ketika menikah di usia muda. Eh, tunggu dulu. Kira-kira yang termasuk usia muda, usia berapa ya? Jangan-jangan malah masih dini. Itulah yang menjadi soal di Indonesia. Parameter seseorang dikatakan anak masih kabur. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979
tentang Kesejahteraan Anak, bab I ketentuan umum pasal 1 poin 2,
mengatakan bahwa yang dimaksud anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum kawin sedangkan, dalam Undang-undang Perkawinan No 1 tahun 1974  Bab 2 pasal 7 ayat 1 dinyatakan bahwa perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur  16 tahun.

Disisi lain menurut Ketua BKKBN (Badan Koordinasi Keluaga Berencana Nasional) yang dilansir tempo.co (2015) menyatakan secara kesehatan, reproduksi perempuan baru berkembang secara matang minimal usia 21 tahun. Ia juga mengajukan gugatan ke MK untuk merevisi UU Perkawinan yang dianggap sudah usang. Pernikahan di usia yang belum menginjak usia 21 tahun menyebabkan angka kematian ibu tinggi. Selain itu faktor kesehatan, faktor ekonomi dan psikologis juga harus dipenuhi sebelum memutuskan untuk menikah.

Sesungguhnya apa yang dicari ketika seseorang memutuskan menikah? Mendapatkan keluarga baru yang baik dan generasi yang cemerlang, bukan? Keluarga ideal akan didapatkan ketika segalanya sudah siap dan kedua individu yang akan menjalankan pernikahan sudah tahu betul resiko yang akan dihadapi. Pernikahan bukan hanya seorang saja yang berusaha memenuhi kebutuhan pasangan, melainkan adanya kesepakatan untuk menjalani kehidupan dengan cara partnership.

Sekali lagi, pernikahan bukan perkara main-main. Jika sudah memutuskan menikah diharapkan tidak ada kata cerai. Jika memutuskan untuk memiliki anak tidak akan bisa kembali menjadi buraian sperma dan sel telur. Keputusan-keputusan tersebut hendaknya dilakukan secara sadar dan tidak main-main.

Gerakan menikah muda seringkali menunjuk sasaran utamanya adalah perempuan, meskipun laki-laki juga tidak luput. Tetapi janji-janji nikah muda yang selalu didengungkan membuat perempuan terlihat lemah karena perempuan selama ini dikonstruk untuk bergantung kepada laki-laki. Menikahlah supaya ada yang menanggung beban hidup, menikahlah supaya ada yang mengantar kemana-mana, menikahlah supaya ada tempat bergantung. Tegakah kepada pasangan yang akan menjadi pendamping sisa hidup kita hanya dianggap sebagai seseorang penanggung beban?

Padahal jika perempuan memiliki kemandirian yang tinggi, ia bisa menghidupi dirinya sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk saling menghidupi bersama pasangan dan buah hatinya kelak.

Saya tidak sinis sama sekali kepada orang yang menikah. Bahkan saya sendiri menganggap pernikahan sesuatu yang agung. Kalau ada yang bertanya: Penulis artikel ini mau nikah gak sih? Jawabannya mau, tapi tidak untuk sekarang. Masih banyak mimpi yang saya ingin gapai. Sebagai perempuan, saya seringkali miris melihat angka kematian yang tinggi akibat perempuan mengandung di usia yang belum saatnya. Menurut penuturan Direktur Jenderal Kesehatan Keluarga Kemenkes Eni Gustina melalui mediaindonesia.com (2016), penyumbang angka kematian sebesar 46,7% adalah perempuan yang hamil di usia 10-19 tahun karena rahim yang belum siap.

Well, masih banyak hal yang bisa dilakukan perempuan untuk berdikari. Perempuan bisa menjadi apapun yang menjadi passionnya tanpa harus diikat oleh pikiran-pikiran tentang desakan pernikahan. Menikah muda boleh, yang terpenting adalah tidak menikah dini. Jelas terlebih dahulu usia yang dikatakan muda, alih-alih menikah dini.

Pertanyaan sekarang: Berapa banyak perempuan yang berani bersuara untuk menyatakan dan memutuskan menikah tanpa iming-iming janji manis ala manusia? Utamanya terkait kapan perempuan memutuskan untuk menikah.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah