Perempuan baik

Menjadi Perempuan yang (Tak) Baik

19/08/2017 100 0 0

Perempuan baik

Soal baik dan tidak pakaian susah jadi ukuran

“Maybe your culture needs to grow. Maybe there are other ways to look at life.”

-5 to 7 movie’s

Berselancar di dunia maya bagi saya menjadi salah satu hiburan untuk sekadar menghilangkan lelah barang sejenak. Sayangnya hati saya terkadang mesti ancur-ancuran karenanya. Bukan karena mantan yang memasang status jadian ataupun gebetan yang mengganti foto profil dengan pasangan. Melainkan karena status official account remaja yang menjadikan perempuan sebagai objek kehidupan semata. Dan itu membuat saya terpelatuque.

Di dalam status itu menyatakan bahwa untuk mengetahui keikhlasan seorang perempuan caranya adalah dengan menuntun dia, mengarahkannya. Apabila perempuan tersebut patuh, maka jangan lepaskan! Sebaliknya, jika tidak, mempertahankan perempuan tersebut seolah sedang memelihara pembangkang yang punya spirit makar dalam rumah tangga. Embel-embelnya ustad yang bilang demikian. Entah benar atau tidak, yang jelas langsung makjleb di hati saya.

Suatu ketika pada hari, tanggal, dan jam entah kapan, saya pernah di ajak seorang lelaki, sebut saja si A. Dia meminta saya untuk menemaninya ke sebuah toko di Purwokerto. Tidak ada yang aneh karena kami hanya berteman. Sayangnya, ada syarat yang dinyatakan kepada saya untuk mengenakan pakaian sesuai dengan keinginannya.

Semacam pakaian khas yang bisa menunjukan bahwa saya seorang muslim. Berkerudung atau berjilbab. Pasalnya, saya sekarang memang sedang tidak berkerudung. Tidak menutupi kepala dan rambut saya dengan kain. Lalu saya menolak. Hingga akhirnya kami sama-sama sepakat untuk tidak jadi pergi bersama. Kami keukeh dengan egopendapat masing-masing. Memang tidak ada paksaan, hanya saja ada satu ucapan yang membuat saya teringat sampai sekarang.

Sekali-kali nurut kenapa si sama laki-laki, ucapnya kala itu.

Apakah ada yang salah dengan kalimat itu? Jika si A adalah suami saya barangkali bisa benar. Sebab, jika dalam islam, bagi seorang istri haram hukumnya jika tidak menuruti suami. Meninggalkan kewajiban, katanya. Maka suami bisa bebas menghukumi sang istri. Termasuk dalam selera memilih gaya berpakaian. Tapi kami ini kan bukan. Sehingga saya heran dengan sikap ngatur pilihan orang (yang bukan siapa-siapa).

Belum lagi orang-orang di sekitar saya yang entah kenapa menjadi nyinyir melihat saya memutuskan tidak memakai kerudung. Jujur saya risih ketika ada beberapa orang yang bertanya kenapa, mengingat saya bukan siapa-siapa mereka –dan sebaliknya. Hebatnya “kamu cantik lho kalau pakai kerudung lagi”, menjadi salah satu alasan kecil yang menjadi mantra jahat bagi saya. Tentu dengan alasan lain yang lebih besar dari itu.

Meminjam istilah social learning, memang orang akan mengikuti apa yang dilakukan oleh banyak orang meskipun terkadang tidak tahu dasar atau alasan melakukan sesuatu. Perihal ini kemudian akan berlanjut sampai akhirnya menjadi budaya. Sedang jika ada orang yang berbeda sedikit saja maka secara psikis akan memicu tekanan pribadi.

Alih-alih tidak bertanya malah melakukan hal serupa. Pun apabila bertanya belum tentu mendapatkan jawaban yang tepat. Mungkin memang sedikit berbeda jika sudah menyangkut agama sebab sudah ada ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan dan sangat dipercaya. Tapi apalah dayaku yang memang penuh dosa dan bukan perempuan baik yang penurut.

Bagi saya, tidak salah jika ada perempuan yang memilih untuk menurut. Pun dengan perempuan yang memutuskan memilih cara hidupnya sendiri. Saya menjadi mengerti, terkadang empati tidak bisa muncul begitu saja sebelum saya benar-benar mengalami.

Comments

comments

Tags: #PerempuanPejuang, jilbab, kerudung, menjadi perempuan baik, perempuan Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aifiatu Azaza Rahmah

Bersenang-senang di sekolah. Main dengan tulisan.

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.