Menjadi Rendah Hati adalah Kunci

Cara menjadi pribadi rendah hati

“Kosongkan gelasmu ketika bertemu orang lain” Ungkapan bijak tersebut nampak sederhana namun padat makna. Salah satunya ini bisa dipahami agar kita jangan sok pintar dan sok tahu bila bertemu orang lain. Lebih dalam dari itu, kita juga mestinya mendengar dan menampung ilmunya. Sepertihalnya gelas kosong. Sebab sikap sok tahu justru hanya akan merugikan diri sendiri.

Tapi pada prakteknya, mengosongkan gelas, tidak semudah menumpahkan air. Mengosongkan gelas dimaknai sebagai sikap rendah hati, bersedia mendengar dan menampung ilmu sebanyak–banyaknya. Dan itu sulit.

Kita selalu merasa gelas kita sudah penuh, ngapain nampung ‘air’ orang lain toh itu akan sia-sia. Malah yang ada justru kitalah yang melihat gelas orang lain kosong, sehingga berasa punya kewajiban moral untuk mengisinya. Dengan banyak omong dan asumsi pasti. Sikap ini yang bikin pertemuan dengan orang hebat sekalipun tidak menghasilkan apa-apa. Tidak membawa hikmah dan inspirasi sama sekali. Hal ini karena kuatnya prasangka yang bukan-bukan. In Simply I wanna say, hati dan pikiran kita kotor.

Dalam beberapa tahun belakangan, saya kerap bertemu dengan orang hebat dari beragam bidang. Mulai dari aktivis sosial, agamawan, hingga politikus. Dari perjumpaan itu ada yang dapat tambahan pengetahuan baru dan inspirasi atau ada juga yang tidak dapat sama sekali. Itu semua tergantung dari posisi hati.

Saya lebih terinspirasi dan senang bila berjumpa dengan aktivis sosial. Ini bisa jadi karena kesamaan background. Uhuk. Saya mendapat hal baru karena secara sadar bersedia ‘mengosongkan gelas’. Saya selalu berpikir positif tentang mereka, meski pada kenyataanya tidak sedikit aktivis yang brengsek juga.

Lain pasal bila bertemu politikus? Nahini, masih menjadi kesulitan bagi saya untuk “mengosongkan gelas”. Belum apa-apa, hati sudah berprasangka yang bukan-bukan.

Bagi saya politikus itu bajingan. Titik. Aktivis yang bercita-cita jadi politisi adalah calon bajingan selanjutnya. Implikasinya, partai politik, juga segala atribusinya adalah bajingan-bajingan dalam bentuk yang lain. Ah, sampai segitunya. Pelabelan bajingan pada politikus sudah sama mapannya dengan kapitalisme atas negeri ini.

Pikiran semacam itu, sebenarnya, sama saja menutup bibir gelas dengan telapak tangan. Maka tak ada setetes airpun yang bisa masuk gelas. Padahal bila dipikir-pikir, apa iya semua politikus itu brengsek? Toh, sebajingan-bajingannya seseorang, apalagi dia adalah pejabat negara dengan fortofolio career yang panjang, masak tak punya sisi positif yang bisa diambil?

Bandingkan dengan saya yang hingga kini belum apa-apa. Jangankan jadi orang baik, jadi orang yang bisa melihat kebaikan aja belum kok kemaki banget. Maka betul, terkadang bukan karena orang lain diri ini menjadi kerdil, tapi oleh sebab pikiran sendiri.

Bahkan, dari para ustadz atau ulama juga susah nyerap hikmah. Penyebabnya apalagi kalau bukan hati dan pikiran itu sama kotornya. Sungguhpun saya bersedia mendengarkan ceramah ustadz itu juga milih-milih yang sesuai selera. Macam memilih indomie saja.

Bahkan seringkali, saya merasa sah untuk tidak suka pada seorang ustadz bukan karena pandangan agamanya, tapi karena pandangan politiknya yang berbeda. Selain itu seringkali mulut kita jauh melampaui akal pikiran kita sehingga gampang banget memberi stempel. Ini wahabi tuh lihat jenggotnya. Ah inimah liberal, coba lihat omongannya bebas banget. Jangan didengerin itu dedengkot syiah, ntar bisa sesat. Dan sebagainya.

Coba kalau hati ini bersih, setiap ketemu pemuka agama, dengerin aja ceramahnya. Dengerin pandangan agamanya. Serap yang kita setuju, buang yang enggak. Mungkin sekarang sudah banyak dapat ilmu, dapat hikmah. Itu kalau gelasnya udah dikosongin, simpel ya? Iya simpel nulisnya, prakteknya mana tau.

Inimah enggak, setiap ketemu orang yang muncul pertama adalah prasangka. Iyasih di dengerin tapi cuma untuk ditertawain dan dijadiin bahan ejekan. Padahal sebajingan- bajinganya politikus, sebusuk–busuknya ulama dan sebejad–bejadnya aktivis, pasti punya sisi positif yang bisa kita ambil. Tabik.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga