Merdekalah Wahai Kepala

merdeka pikiran

Merdeka sejak dari kepala

Tiap kali Agustus datang, kita kerap memaknai hari kemerdekaan dengan begitu ekspresif. Iring-iringan pawai kemerdekaan dengan berbagai atribut identitasnya, acara-acara hiburan dan even bernuansa kemerdekaan memenuhi agenda Agustusan. Juga slogan-slogan dan jargon kemerdekaan terpampang di berbagai medsos dan khalayak ramai. Sementara bendera kebangsaaan dikibarkan di berbagai tempat sebagai cara mengkampanyekan hari kemerdekaan. Hari kebebasan.

Padahal kita tahu kemerdekaan tak cukup diperingati sekedar ucapan, simbolis, atau retorika semata. Apalagi yang beroterika soal merdeka dan nasionalisme adalah para pejabat korup atau mafia harga.  Rasanya merdeka itu cuma main-main saja, kalau pikiran dan dirinya saja belum merdeka. Sebab itu di hari kemerdekaan ini alangkah baik jika pekikan merdeka kita dimaknai dan dijalankan secara total. Khaffah.

Kalau membaca definisi “kemerdekaan” dalam wikipedia bahwa kemerdekaan itu merujuk pada hak untuk mengendalikan suatu pribadi tanpa campur tangan orang lain dan tidak tergantung orang, dalam di kontek tersebut . Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah kondisi tersebut sesuai dan terjadi pada bangsa ini?

Dalam memaknai hari kemerdekaan sebenarnya kita diajak untuk merefleksikan tentang kemerdekaan berpikir. Karena sampai hari ini pun kita masih menjumpai permasalahan bangsa ini, yang sebenarnya itu adalah kesalahan pola pikir. kemerdekaan yang diteriakkan saat ini tidak seperti ketika bangsa indonesia melawan imperialisme belanda, yakni untuk seluruh rakyat Indonesia. Karena merdeka, rupanya, hanya jadi milik mereka yang berkuasa saja. Atau paling tidak yang banyak (yang dengan jumlahnya bisa menekan penguasa).

Hemat saya kemerdekaan berpikir berarti mampu mencoba untuk berpikir untuk keluar keterikatan dan bayang-bayang masa lalu, agar lebih baik. Namun sudah 72 tahun bangsa ini dinyatakan merdeka,  kecenderungan akan mental inlander masih membekas. Kita acapkali dibuat tak percaya kepada bangsa sendiri. Ketidakpercayaan itu juga ditambah dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan kekuasaan dan kedudukan yang dimilikinya.

Kalau sejatinya tindakan adalah manifestasi dari berpikir maka dengan berpikir lebih baik kita dapat bertindak lebih baik. Tapi kenyataanya masih ada orang dijajah dengan kepandiran dan ketamakan bangsanya sendiri. mulai korupsinya sendiri, keriminal, hingga ambisi kekuasaan dengan fanatisme buta.

 Hal semacam diatas adalah salah satu output dari logical fallacy (kesalahan berpikir) yang mengantarkan seseorang bertindak sesuai kerancuan berpikirnya. Mereka-mereka yang masih terjajah dengan sikap buruknya adalah mereka yang belum menemukan kemerdekaan berpikir. Kalau Mbah Discartes bilang “corgito ergo sum”. Aku berpikir maka aku ada. Keberadaan kita sebagai hewan berpikir adalah yang semestinya bisa diterima baik di manapun. Namun sebaliknya  hal tersebut menjadi terbantahkan ketika berpikir membuat dirinya semakin tak baik, berpikir yang kini mampu menuju pembebasan dan pencerahan  justru menjadi penjara baru kehidupan manusia

Kemerdekaan berpikir harus siap berpikir di luar identitasnya, kekuasaan, ataupun kedudukanya. Serta mau berpikir lebih  bijak tidak terikat dan tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Kemerdekaan berpikir bukan saja mereka yang pintar dengan keilmuan, tapi mereka yang mampu menempatkan hati dan tindakanya agar tetap selaras dan seimbang. Mbah Al-Ghazali yang juga menyampaikan betapa pentingnya keseimbangan berpikir dengan hati agar menempatkan manusia pada keteraturan khususnya bermasyrakat untuk mampu masuk kedalam kondisi kesadaran yang paling baling bermanfaat dan diinginkan kapan pun untuk situasi apapun. Kemudian mengerti bagaimana menggunakan kondisi tersebut.

Dengan begitu cita-cita besar menjadi bangsa berdaulat lagi bermartabat bisa diraih. Paling tidak pada skup kecil dulu. Diri sendiri. Ingat, kemerdekaan diperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan begitu rupa dari para pahlawan. Setelah diperoleh jangan disiakan dengan minder dan takut mikir.

About The Author

Reply