Masa Depan Nama-nama Anak Indonesia

Masa Depan Nama-nama Anak Indonesia-Nama-nama, sepertihalnya bahasa, adalah identitas sebuah bangsa. Sehingga kita bisa menemukan kekhasan nama-nama orang dan bisa memilah-milahnya. Kita juga bisa dengan tegas mengidentifikasi ini “Ini nama Barat, ini nama Arab, ini nama Tiongkok, nama Jawa” dan seterusnya.

Maka kemudian, dalam rangka mempertahankan identitas itu, sebagian suku maupun bangsa, memiliki mekanisme penamaan tersendiri. Kita mengenal marga-marga yang disandang di belakang nama asli misalnya. Hal demikian adalah untuk mengenali dari klan mana orang itu berasal. Soal identitas tadi.

Di Islandia sana misalnya, memberi nama bukanlah sekedar urusan selera. Bagian dari bangsa Nordik tersebut “mewajibkan” nama penduduknya berimbuhan -Son. Misal Painahson menikah dengan Tukiminson dan memiliki anak laki-laki yang hendak dinamai Ĵon Einnar maka harus ditambah menjadi Ĵon Einnarson.

Untuk memastikan nama-nama tersebut mengikuti “kaidah” Islandia, negara tersebut bahkan membentuk Mannanafnanefnd. Yakni lembaga yang bertugas mengurus dan memverifikasi nama-nama anak di sana.

Apa tujuan Islandia melakukan hal yang “tidak penting” tersebut? Tujuannya adalah agar budaya lokal Islandia—dalam hal bahasa—tetap lestari.

Luar biasa penting bukan alasannya?

***Setelah mendapat informasi tersebut, Di Islandia, sebaiknya kamu tidak usah mencoba untuk memanggil temen, yang misal bernama Gudjanson, hanya dengan panggilan Son. Sebab resikonya, orang senegara bisa nengok semua***

Lain Islandia lain pula Indonesia. Bagi orang Indonesia, nama adalah dogma eh doa. Dan sebaik-baik doa disampaikan dengan Bahasa Arab. Sebab kalau bahasa pake bahasa Indonesia, lebih lebih yang alay version, akan menjadi berkurang drastis nilai sakralnya.

Maka kemudian tenggelamlah nama-nama pribumi, maaf maksud saya lokal, seperti Ponirah, Wagiman, Slamet, Halomoan, Hasurungan, dan nama nama lain yang hanya punya satu suku kata. Berganti dengan nama-nama yang Insyallah lebih barokah seperti, Wafiq Nurul Qalbu, Dzikro Nur Alamin, Aida Rahsetia Islam, Afif Nahda Rafanda, Siti Khoiruroh, Ahmad Mussadeq, dan lain sebagainya.

Adapun bagi pasangan muda yang agak liberal—sekuler akan lebih suka menggunakan nama yang lebih hollywoodsy semacam Aldebaran Nabhan Pradipta, Bastiaan Geovanni Schiaparelli,  Barnes Gaozan Edward Jenner, Gracia Sabrina Vanessa,  Victoria Rachela Eva atau yang lebih nginggrisi lainnya.

Dominasi kedua genre penamaan tersebut jelas mengancam eksistensi nama-nama lokal sebagaimana telah kita singgung di atas. Untuk itu kiranya perlu sebuah formulasi dan langkah-langkah strategis guna menjaga kelestarian nama lokal.

Kesadaran tersebut menjadi penting guna kepercayaan diri kita sebagai sebauh bangsa. Terutama ya bagi saya. Orang yang hanya memiliki nama Fajar. Sudah tidak lokal, tidak pula mengikuti kaidah penamaan media sosial yang mengharuskan ada nama depan dan nama belakang pula. Hiks.

Maka meskipun harus mengikuti perkembangan nama kekinian, yang tiga kata itu, kita tetap harus memperhatikan konten lokal. Supaya identitas kita sebagai sebuah bangsa tidak tergerus dengan kekaguman orang tua atas bangsa asing.

Misal dengan meremix nama-nama lokal dengan nama global. Ini akan memunculkan yang masyaallah. Sehingga nanti muncul nama yang tetap bermuatan lokal, tetapi juga trandy nan berkah. Misal Nicholas Slamet Fuadi, Ahmad Wage Antony, Titania Aurilly Sipon, ataupun nama-nama Hybrid lainnya.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga