Ngalap Rejeki dari Kematian Mirna

Sejak beberapa bulan lalu kita dihebohkan dengan opera kematian Mirna. Kasusnya sederhana, hanya tentang kematian seseorang yang diduga diracun oleh karibnya dengan kopi bersianida. Tentang seberapa pengaruh orang itu, apalagi signifikansi kematian orang itu pada stabilitas nasional tentu tidak ada. Tetapi mata media awas menangkap hal yang lain. Kasus Mirna ini kemudian disorot dengan begitu rupa sehingga membetot perhatian publik. Hasilnya, Mbok Tum yang saben paginya menjual nasi kuning saja menyelakan obrolan tentang sidang pembelaan Jesica ditengah kesibukannya melayani pelanggan.

Di kampusku, obrolan tentang siapa sebenarnya pembunuh Mirna juga sempat menggeser perbincangan tentang mega transfer Paul Pogba dipuncak tranding topik burjo. Hal ini istimewa, karena selama ini Burjo memang menjadi barometer isu hangat kampus hingga nasional. Sederhananya, belum bisa dikatakan sebagai kejadian yang besar jika belum dibahas di burjo-burjo area kampus.

Maklum, ditengah semakin represifnya kampus membatasi ruang diskusi mahasiswanya, praktis hanya di burjolah mahasiswa dapat bebas menyatakan pendapat. Dari dialog mengenai manifesto wacana kiri hingga gosip kedekatan Ahok dengan Maya Estianti bebas digelar. Bagi kami, burjo adalah mimbar akademik kontemporer.

Kembali pada kasus Mirna, sebagai pemuda kalem dengan kepekaan nurani memadai tentu saya bersimpati pada kematian siapapun anak manusia. Apalagi yang meninggal adalah sosok cantik seperti I Wayan Mirna Salihin. Untuk itu saya tegaskan, tulisan ini bukanlah untuk memperolok mendiang Mirna, yang semoga sudah tenang di alam sana. Justru ini adalah bentuk simpati saya. Untuk itu ijinkanlah saya bersimpati.

Mati barangkali adalah satu-satunya kepastian di antara berjuta harapan palsu yang bertebaran di bumi ini. Hanya saja, bagaimana dan kapan kita mati itu adalah rahasia Illahi. Termasuk Mirna, ia tak pernah menyangka bahwa ia akan menghadapNya dengan cara diracun orang dekatnya.

Meski tidak memiliki hubungan darah dengan Tan Malaka, tapi Mirna mewarisi betul apa yang pernah diwasiatkan tokoh pencetus Pan-Islamisme ini. Begini bunyi wasiat nan menggetarkan itu “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi”. Dan kenyataannya, justru setelah kematiannyalah Mirna dikenal oleh berjuta penduduk Indonesia bukan?

Tidak cukup di situ. Kematian Mirna ini kemudian menjadi peluang untuk menyambung hidup banyak orang. Sebutlah media, baik cetak, elektronik, maupun online mengolah kematian Mirna menjadi pundi-pundi rupiah. Sebagai buktinya, pada tanggal 14 hingga 15 September saja situs berita online metronewsdotcom sudah menuliskan 20 artikel tentang sidang kasus Jessica-Mirna. Atau situs detikdotcom yang sudah mempublish 101 artikel berkaitan dengan kematian mirna dihitung sejak tanggal 10 Agustus hingga hari ini.

Jadi Kamu bisa bayangkan to kira-kira sudah berapa artikel dimuat di media online sejak kematian Mirna tanggal 6 Januari lalu. Belum lagi tayangan live sidang Jessica yang juga dijadikan bahan berita infoteinment. Dan tentu saja jutaan eksemplar koran yang mencetak kasus Mirna dalam hedline beritanya menjadi penguat buktinya.

Maka kemudian tak berlebihan kalau kita sebut banyak orang yang ngalap rezeki dari kematian Mirna ini. Kondisi berbeda dialami oleh Munir, aktivis HAM yang tewas diracun. Atau Salim Kancil, aktivis agraria yang meski nasibnya tak kalah tragis namun tak banyak dilirik media. Setidaknya tak seramai Mirna.

Pada era dimana kapital telah mengkapling-kapling rasa keadilan ini tentu semua harus diukur dari segi komersil. Ukuran komersil itu mensyaratkan kondisi tertentu. Pada kasus Salim Kancil misalnya, meski ia dibunuh secara brutal karena memperjuangkan kelestarian alam, sidangnya tak pernah ditayangkan live membajak frekuensi publik. Pasalnya walau bagaimanapun, reka ulang pembunuhan berlatar belakang caffe mewah tetap saja lebih nyeni ketimbang tambang pasir.

Karena itu, saran saya kita tak perlu kecewa kasus munir tidak diperlakukan sama oleh media. Hawong sudah ada yang pura-pura ditangkap lalu dilepaskan kembali aja syukur kok. Mau gimana lagi, memang dalam ukuran komersil dibunuhnya orang yang memegang data penting pembantaian di Talang Sari, Lampung pada 1989, penculikan aktivis 1998, referendum Timor Timur, hingga kampanye hitam pemilihan presiden 2004 itu tidak lebih penting ketimbang kabar Mba Asyanti babaran.

Fungsi media sebagai alat pengawas penguasa dan edukasi masyarakat kini sudah dibajak oleh fungsi media sebagai wadah konglomerasi. Saya pikir ini sesuatu yang sulit dihindari. Kita memang harus oportunis dan pandai melihat ceruk pasar. Termasuk jika harus menyesatkan umat.

Meski demikian, ada saja kawan saya yang meyakini bahwa ditayangkannya sidang Jessica secara live dan diliput jor-joran adalah untuk pengalihan isu. Kasus tersebut diangkat untuk mengalihkan perhatian publik pada kasus reklamasi, BLBI, tax amnesty, dan yang lainnya.

 Jika benar begitu maka pasti ini adalah operasi kontra intelejennya BIN. Jendral Budi yang baru saja dilantik beberapa hari lalu menjadi kepala BIN berarti adalah dalangnya. Pada titik ini saya memilih untuk tidak percaya dengan apa yang diyakini kawan saya itu.

Masa sih, BIN juga ikutan ngalap rejeki dari kematian Mirna?

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Dongeng “Anak Setan” dari Gunung
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga