Nggoogling Korea Utara: Enaknya Jadi Negeri Komunis

ddfffff

Di dunia ini kita mengenal dua ideologi besar yang kerap dibentur-benturkan, ditanding-tandingkan, diunggul-unggulkan. Iya Sosialisme dan Liberalisme. Umumnya negara-negara barat “bermazhab” Liberal sementara yang agak timur memilih Sosial sebagai lawan tanding sepadan. Pengecualian untuk Indonesia yang memilih jalan tawassuht-tawazun lewat

Pancasilanya sehingga persis di tengah-tengah antara Liberalisme-Sosialisme. Soal ideologi islam yang dikampanyekan partai dakwah dan kalangan aktivis sorgawi? ah sejauh ini saya tidak berani menempatkan Islam sebagai sebuah Ideologi. Bagi saya, memasukkan Islam dalam jajaran Ideologi adalah tindakan brutal yang mereduksi keagungan Islam itu sendiri. Islam itu beyond gagasan manusia. Jauh melampaui sekedar ide, cita-cita, pandangan, kerangka pikir dan segala tetek bengek ideologi. Singkatnya Islam adalah kebutuhan yang seyogyanya dipenuhi oleh penganut ideologi manapun.

Kembali ke bahasan sosialis-leberalis. Peletak ideologi liberal telah mampu mengatur pola-pola dunia. Lewat karya-karya dan pemikiranya tokoh seperti John Locke, Hobbes, dan Adam Smith berhasil membuat pattern yang turun temurun diikuti oleh bangsa-bangsa penganut liberisme. Dalam perkembanganya liberalisme ditentang. Konsep state of nature ala liberalisme dilabrak lantaran cenderung menimbulkan konflik sosial dan ketimpangan ekonomi. Sebagai alternatifnya, muncul paham lain, Sosialisme. Paham inilah yang kemudian menjadi begitu trendy dan hits di kalangan para aktivis prohresif. Tokoh sosialis macam Robert Owen, Karl Heinrich Marx, Lenin, dan kawan-kawan seideologisnya menelurkan pemikiran lain dan begitu banyak buku yang menghegemoni ubun-ubun beberapa kawan saya. Finally revolusi di mulai. Ganjang kaoem liberal!

Terilhami dengan karya-karya hebat para tokoh revolusioner membuat pemikiran beberapa kawan seumuran saya begitu kritis. Sosialisme—dalam konteks negara termanifestasi menjadi komunis—menjadi paham anti arus utama yang sepertinya, setidaknya bagi mereka, adalah jalan ideal bagi establish dan langgengnya suatu negara. Tampak di mata mereka ketidakadilan ada di mana-mana sebagai akibat ketidakbecusan pemerintah ngurusi negara. Biang keroknya jelas, adalah tunduknya pemerintah pada sistem liberal nan kapitilistik. Selama ini Pancasila hanya jadi adagium, tema pidato politik dan bahan seminar belaka. Tampaknya memang pemerintah perlu meluangkan sedikit waktu menyelami ide-ide segar paham sosialis yang tentu jelas jluntrungnya, Keadilan sosial-ekonomi bagi seluruh rakyat. Nalar kritis kawan saya itulah kemudian mendorong saya untuk mencari tahu praksis negara sosialis itu seperti apa? Adakah negara seperti itu? Lalu isenglah saya nggogling negara sosialis dan menemukan Korea Utara yang konon komunis tulen.

Setelah lama buka-tutup artikel, nyecrol atas-bawah layar monitor laptop pinjaman, saya jadi mbatin “Hidup dan tinggal di negara komunis itu tampaknya enak”. Serba adil dan sudah dilayani negara. Kita tak perlu repot-repot demo minta diangkat jadi PNS, nda perlu pusing mikir daya saing bangsa, bahkan kalau tega, nda usah belajar saat sekolah. Bodoh nda papa wong semua sudah disediakan sama pihak yang berwenang kok. Lagian pinter itu bahaya, nanti bisa mikir yang aneh-aneh dan mengancam stabilitas nasional. Membahayakan keamanan negara. Setidaknya gambaran itu yang saya dapatkan setelah manthengi berita tentang negara kecil tapi kewanen, Korea Utara. Secara de facto dan de jure jelas Korut adalah bangsa yang mangaku dan diakui komunis oleh bangsa-bangsa lain. Jadi kalau kita mendambakan paham sosialis, Korea Utara sebagai negara komunis adalah wujud nyatanya. Ia bak suri teladan. Manifestasi dari cita-cita besar paham sosialis yag utopis.

Oh ya kabarnya di sana wartawan juga nda perlu repot-repot ke sana ke mari mencari berita. Sumber-sumber naskah berita sudah diatur dan disediakan protokoler pimpinan tertinggi negara. Apalagi soal bingung mengarahkan politik redaksi, redaktur media masa sana sudah ditatar mana yang boleh diberitakan mana yang tidak. Jadi ndak akan ditemui fenomena media bersebrangan memberitakan pemerintah macam Tv satu dan Meteor Tv itu. Kan rakyat bingung sumber berita mana yang valid, yang diberitakan itu fakta apa opini penuh anasir politik. Mulianya lagi, berita kemiskinan, terpuruknya ekonomi, atau anjloknya nilai mata uang di sana tidak ada, wal hasil jadi masyarakat tidak merasa nelangsa dan tetap optimis negaranya baik-baik saja. Weslah pokoknya enak kalau jadi negeri komunis. Adem ayem tentrem.

Riuh-rendah kegaduhan politik seperti yang sering kita jumpai di negara demokratis-liberal seperti Indonesia juga tidak ada di sana. Partai, parlemen, pengamat politik, profesional, akademisi, sampai kaum proletar guyub rukun mendukung pemerintah berkuasa, Kim Jong Un. tidak pernah dijumpai demo TARIK MANDAT PRESIDEN. Apalagi sampai punya ide makar mendirikan negara tandingan yang lebih syar’i. Hus.. jangan ngawur. La wong tertidur saat pemimpinya lagi pidato saja bisa dirudal. Bisa berkeping-keping awakmu. Di sana semua tertib, berkat keadilan dan kesetaraan. Ideologi sama, cita-cita bernegara sama, pandangan hidupnya sama, kalau perlu bahkan potongan rambut, gaya pakaian, merek hijab, shampo rambut, sampai prosedur pipis dibuat sama. Nda ada kecemburuan sosial. Enak tho?

Kalau dianalogikan negara adalah permainan sepak bola, maka rakyat adalah pemainya, sementara pemerintah adalah wasitnya. Pemerintah melalui peluit bernama kekuasaan mengatur jalanya pertandingan. Ya begitulah aturan mainnya. Jadi bisa dibayangkan kalau main bola tidak ada wasitnya kan? Semua ingin menang, nda mau ngaku kalo hand ball, main sak kerepe, sliding tackle halal. Wuih amburadul. Itu gambaran negara penganut liberal-kapitalis, dimana negara tidak banyak mengintervensi permainan rakyatnya, ngejorke. Sementara pada paham sosialis peran wasit begitu kentara. Bahkan wasit berwenang mengatur kepada siapa bola harus diumpan, pada lawan atau kawan. Menit berapa bola harus ditendang ke arah gawang dan keeper tidak boleh menangkapnya, dan sebagainya. Titik tekannya pemain harus tunduk. Ini demi stabilitas stadion. Nah kalau begini kan enak, permainan jadi teratur, tidak banyak protes dan gejolak. Skor bisa diatur agar selalu merata dan berkeadilan misal 2-2, 10-10 atau kalau mau skornya bisa diatur 1000-1000. Weslah adil dan merata sejahtera selamanya.

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah