Norma Sosial, Biaya Tak Ternilai

Sebelum saya meneruskan ke perguran tinggi saya pernah bekerja untuk sebuah perusahaan spare part otomotif di daerah Tangerang. Saya termasuk golongan karyawan (outsourcing) yang cukup rajin dan jarang bolos ketika hari kerja. Pun jam lembur yang biasanya memakan 2 – 4 jam senantiasa saya jalani dengan senang hati. Ya barangkali itu karena

bayaranya cukup menggiurkan untuk ukuran anak muda yang belum memikirkan laju kenaikan beras dan susu bayi seperti saya dulu. Perusahaan tempat saya bekerja dulu bukanlah perusahaan besar untuk ukuran industri otomotif sehingga mengharuskanya tunduk-patuh pada permintaan perusahaan pemesan seperti Astra, Yamaha Manufacture, dan beberapa perusahaan lain yang menjadi rekanannya.

Hal itu yang membuat deadline kerja begitu tinggi, 24 jam mesin-mesin pabrik menderu. Nyaris tanpa istirahat dan hanya mati ketika ada pergantian shift, bahkan tidak mati sama sekali ketika long shif. Dalam kondisi semacam itu jelas saya dituntut untuk banyak menghasilkan barang siap kirim agar pabrik tak tutup ditinggal pasarnya. Hari-hari saya kala itu saya habiskan di pabrik, untuk mengejar target produksi, merepair barang yang dikembalikan dari pemesan, dan tentu mengejar gaji tinggi. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk keluar dan sekolah lagi. Sebelum saya keluar, saya sering sekali bolos kerja, bahkan pernah seminggu tidak masuk kerja padahal saya tahu pabrik sedang dikejar target dengan tenggat waktu yang tak lama. Tapi saya tak peduli, pikir saya, ah kalaupun saya kena sanksi, gaji dikurangi atau bahkan sampai dikeluarkan juga nda papa. toh memang saya ingin keluar. Nda masalah dan nda perlu merasa bersalah.

Dua minggu ini, organisasi saya mengadakan kegiatan pengabdian di sebuah desa terpencil di Kabupaten Cilacap. Saya adalah orang yang juga ditunjuk menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Dan sialnya karena suatu sebab saya tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut barang seharipun. Anehnya entah kenapa saya merasakan hal yang berbeda dengan kasus saya bolos kerja dulu meskipun saya tau tim kerja membutuhkan saya untuk mengejar target. Saya merasa menyesal, padahal di pabrik saya dibayar sedang di organisasi tidak. Harusnya saya tidak perlu merasa semenyesal ini ketika tidak bisa ikut program pengabdian. Lagipula tidak ada perjanjian di atas materai untuk mengikuti kegiatan tersebut yang bisa menyeret saya ke meja hijau jika mengingkarinya, sebagaimana saya tanda tangani di perjanjian kontrak kerja dulu. Ini cukup aneh. Mengapa dengan uang tak lebih membuat menyesal daripada yang tanpa uang?

Biaya Norma Sosial

Sebagai manusia—yang kita tahu selain homo economicus kita juga homo social—ternyata kita hidup di dua dunia yang secara simultan terus berganti menyusun pola-pola hidup kita. Satu dunia kita adalah dunia yang tunduk-patuh terhadap norma-norma ekonomi sedang dunia lainnya adalah dunia yang mengikuti norma-norma sosial. Jika kita tidak bisa membaca dan memperlakukan dunia tersebut secara tepat maka pola-pola yang tersusun akan menjadi berantakan dan membahayakan kehidupan anda. Serius.

Sekarang coba anda bayangkan. Anda baru saja mengenal seseorang dan kemudian berlanjut pada pertemuan-pertemuan kecil dengan modus operandi makan malam bersama di cafe-cafe atau sekedar jalan-jalan ke alun-alun kota. Merasa cocok dan nyaman bersama Anda, seseorang tersebut kemudian mengajak Anda untuk makan malam di rumahnya bersama keluarga. Ini tentu akan menjadi malam yang menegangkan untuk Anda. Anda berada di rumahnya sekarang dan melihat ada begitu banyak makanan tersaji di meja makan. Anehnya di meja itu bahkan tersaji menu kesukaan Anda yang waktu itu sempat Anda ceritakan sebagai pemecah keheningan saat jalan bersamanya. Hah, semua tampak indah dan sempurna.

Makan malam dimulai, Anda mengambil beberapa sendok nasi, kenalan Anda, yang mengajak Anda kerumahnya, dengan sigap mendekatkan menu kesukaan Anda tepat beberapa centi dari tangan Anda. Sendok demi sendok begitu Anda nikmati sambil bercengkrama tentang latar belakang Anda dan keluarganya. Setelah menghabiskan hidangan–tentu agak lama karena mengunyah saja malu-malu–hidangan penutup pun disajikan. Semangkuk es buah yang yang aroma duriannya begitu kuat. Setelah semua makanan telah dihabiskan, cerita tentang keluarga juga sudah menunjukkan gejala usia. Kemudian dengan tatapan penuh kasih sayang pada, sebut saja calon mertua Anda, Anda berdiri dan mengeluarkan dompet sambil berkata “Bu, untuk semua kasih sayang yang telah engkau curahkan malam ini, berapa banyak saya harus membayarnya?” ya itu kata-kata tertulus dan dengan nada paling baik dari Anda. Tapi sejurus kemudian semua orang kemudian terdiam, Anda mengeluarkan beberapa lembar uang kertas “hei, apa 800 ribu cukup? Emm sebentar saya akan memberimu 1 juta!”

Ini tentu bukan akhir makan malam seperti yang Anda harapkan, kedua calon mertua Anda berdiri dengan muka merah padam, calon adik ipar Anda berlari ke kamar dan tangis meledak dari kenalan baru Anda. Dan sepertinya ini adalah makan malam, sekaligus pertemuan terakhir dengan kanalan Anda. Beberapa jam lagi semua kontaknya akan hilang dari layar smartphone Anda. Apa yang terjadi di sini? Kenapa membayar, bahkan dengan jumlah berlebih, begitu merusak suasana makan malam Anda?

Itu adalah gambaran ketika seseorang tidak bisa memperlakukan kedua norma di atas dengan tepat. Pada kejadian makan malam tersebut, Anda berada pada dunia yang mengikuti aturan main norma sosial. Sehingga uang sebagai wujud dari norma ekonomi adalah sesuatu yang merusak. Norma ekonomi memiliki ukuran-ukuran, batasan-batasan sedang norma sosial tidak. Sehingga berapapun nilai uang yang Anda keluarkan tidak akan bisa membayar biaya makan malam dirumah keluarga kenalan Anda. Itu kondisi yang sama sekali berbeda dengan saat Anda mentraktirnya di sebuah cafe samping alun-alun kota beberapa waktu lalu.

Norma sosialah yang juga bekerja pada kasus gagalnya saya mengikuti kegiatan pengabdianya organisasi saya. Sehingga ada begitu banyak penyesalan dan rasa bersalah ketika saya tidak mengikutinya. Tentu saya tidak akan mencoba menebus dengan bertanya “berapa biaya yang dihabiskan untuk kegiatan tersebut? Saya akan menggantinya!” karena selain saya tak memiliki cukup uang juga uang—sebagai bagian dari norma ekonomi—tak akan mampu membayar biaya norma sosial. Kasusnya berbeda dengan ketika saya bolos kerja di pabrik dulu, saya tidak merasa bersalah karena saya di bayar untuk kerja saya. Jadi saya hanya akan kehilangan uang (gaji) ketika tidak masuk kerja bukan beban sosial sebagaimana yang harus saya tanggung pada kasus pengabdian masyarakat.

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa sebalikknya, norma sosial dapat diperlakukan pada dunia ekonomi kita. Pekerja yang dipelakukan humanis misalnya, ia akan lebih setia dan produktif dalam usaha Anda. Jadi Anda mau mencobanya?

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah