Berikan Aku Telolet dan Akan Ku Guncang Dunia

02/01/2017 48 0 0

OM TELOLET OM! Adalah senjata baru Indonesia. Ia juga tanda bahwa Indonesia masih baik-baik saja!

Gerakan massa serentak ini muncul setelah buah peradaban yahudi, yang berupa terompet, sejak 6 tahun lalu telah menjadi semacam “Juru bicara” bis lintas kota. Awalnya, sebelum sekelompok bocah di Jepara memburui, terompet ini menyatu dengan kearifan lokal tanpa huru-hara.

Hingga kemudian gemanya kembali mencuat di tengah ramai simpang siur pemberitaan media tentang pilkada yang membuat resah itu.

Para pemburu telolet ini begitu bangga, show off force, dengan berteriak lantang meniru bunyi klakson sembari dadah-dadah. Tak lupa spanduk berisi tulisan genit menjadi atribut pelengkapnya.  Layaknya The Law of attraction, bahwa kreatifitas akan menimbulkan gelombang dahsyat. Dan telolet adalah kreatifitas yang jadi penetralisir maraknya SARA pada broadcast grup WA, BBM, atau sejenisnya.

Telolet sebenarnya bisa menjadi perekat antara pemikiran moderat dan radikal. Hanya saja dalam kacamata kita, seringkali perbedaan lebih menarik dipermasalahkan ketimbang mensyukuri persamaannya. Sehingga kita lebih suka mencipta konten untuk perang pemikiran yang ujungnya pemutusan pertemanan ketimbang menertawai bersama polah masyarakat yang kegirangan diteloletin om om itu.

Munculnya sebuah fenomena baru, menurut cara pandang bangsa yang kagetan ini, berarti muncul pula sebuah bahan perdebatan baru. Padahal seringkali perdebatan tak mampu mewakili eksistensi manusia sebagai makhluk sosial. Kata-kata, seringkali ditanggapi berbeda oleh si penerima sehingga justru memicu permusuhan.

Embah Chaplin, sudah sedari dulu mengajarkan bahwa menjadi entertainer itu tak bersuara tak apa. Justru bahasa tubuh yang senyap itu adalah alat komunikasi paling universal. Aksen, gesture, dan spontanitas adalah koentji nyata!

Saya Percaya Kekuatan Tertawa Dan Air mata sebagai penangkal Kebencian Dan Terror –  Charlie Chaplin

Sebagai kaum yang mau belajar sikap tabbayun, marilah kita hendaknya jangan membiasakan memasak lele yang sudah matang, atau memakan lele yang belum matang. Keduanya bisa jadi pembeda selera atau pertanda mana predator mana manusia. Halah sok moralis!

Nyatanya kita jadi lebih banyak mengomentari kebahagiaan, lalu kalap menyinyiri apa saja yang dikerjakan pihak yang tak seide dengan kita. Barangkali betul marah membakar kalori tanpa harus berlari-lari. Tapi apakah itu jenis olahraga? Tentu tidak.

Jadi cobalah untuk tidak marah dengan apa saja yang tak sejalan dengan pikiranmu, sebab ilmu Allah tak secupet apa yang ada di kepalamu.

Sadar tidak sadar, telolet telah menjadi semacam oase ditengah ganasnya moda transportasi Indonesia. Faktanya, menurut data dari Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, korban meninggal akibat kecelakaan lalulintas mencapai 26.623 jiwa pada 2014 saja.

Maka ketimbang menceramahi telolet itu budaya Yahudi mending kita turut menikmati. Atau jika tidak, bagaimana kalo kita mbahas sesuatu yang lebih punya masa depan? ngelamar pekerjaan atau malah ngelamar kamu misalnya? Biar urusan telolet menjadi jatah kanak-kanak baik yang masih balita hingga yang sudah sarjana itu.

Yakan apa salahnya seandainya pun serjana turut berburu telolet. Kan tau sendiri berburu kerja di Indonesia kian susah. Jadi daripada pusing kan mending cari telolet, rekam lalu upload, and than like and share. Maka terguncanglah seluruh isi dunia.

Eh tapi apa hubungannya antara telolet dan Indonesia yang masih baik-baik saja?

Halah urusanmu ndes, nggolet kerja siki angel-angel gampang. Malah sok idealis mbahasi negara. Cita citamu PNS? – Sudjiwo Tedjo

DYAR!

Comments

comments

Tags: esensiana, idealis, jancukers, kekinian, pengangguran, sujiwotedjo, tabbayun, telolet, trend Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Kangtoer Kangtoer

a Talkative Socmed Enthusiast | #Kebumen

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.