OSPEK dan Hubungannya dalam Pembentukan Tipe Baru Mahasiswa

Ospek, sebagaimana jodoh, adalah sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Mulai dari kampus paling ternama sampai kampus yang belum punya nama, akan mengospek mahasiswa barunya. Orientasi studi dan pengenalan kampus atau sering disebut OSPEK mestinya adalah ajang membentuk watak ideal seorang mahasiswa. Sebab konon baik tidaknya jati diri seorang mahasiswa ditentukan oleh baik tidaknya pelaksanaan OSPEK. Itu sih pengertian OSPEK konvensional menurut Wikipedia; mungkin akan berbeda dengan pengertian OSPEK Syariah.

OSPEK sejatinya harus membuka pintu pemikiran mahasiswa secara utuh, sebagaimana tercantum dalam beberapa poin penting kemahasiswaan diantaranya:

1. Fungsi orientasi, sebagai orientasi mahasiswa baru untuk memasuki perguruan tinggi, ya supaya pemikiranya tidak melulu seperti siswa SMA yang Cuma gemar tawuran dan pacaran saja.

2. Fungsi komunikatif, yakni media komunikasi mahasiswa dengan civitas akademika kampus.

3. Fungsi normatif,  melalui ospek diharapkan mahasiswa mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan  segala aturan yang ada di kampus.

4. Fungsi akademis, yakni sebagai wujud pengembangan intelektual, bakat, minat dan kepemimpinan mahasiswa.

Dari keempat fungsi orientasi tersebut sungguhlah masih bersifat relatif dan sangat dimungkinkan siapapun dapat mengurangi atau menambahinya. Toh ospek bukanlah ibadah maghdoh yang akan membuat pelakunya berlabel bid’ah apabila mengurangi atau nambahi. Sedang untuk masalah halal tidaknya atau kesesuaian tata cara ospek dengan syariat islam, sahabat-sahabat bisa menanyakan ulama besar setamsil Felix Siaw atau sastrawan religius macam Tere Liye.

Persoalan OSPEK ini bukanlah perkara remeh-temeh. Pasalnya OSPEK adalah ajang membuka nalar mahasiswa pada permasalahan bangsa, sebelum nalarnya dikerdilkan dengan laporan praktikum dan copasan makalah. Jika menillik tragedi tahun 98, kita akan dipertontonkan keganasan gerakan reformasi yang dipanitiai langsung oleh mahasiswa. Atau berbagai isu lain seperti malari, penuntutan atas tidak pidana korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia, pencabutan dwi-fungsi TNI/POLRI, pemberantasan KKN, pemberian kebebasan otonomi daerah, penegakan hukum, dan lain-lain itu semua tak lepas dari peran sentral mahasiswa.

Tapi kekinian, pada beberapa kasus praktis mahasiswa hanya memiliki peran sebagai lumbung dana bagi Universitasnya. Tentu peran ini bukan peran mahasiswa dikampus saya dan sahabat-sahabat tercinta. Amin eh aamiin.

Setelah melihat pengertian mahasiswa, karakter, berikut dengan fungsinya, maka sejatinya hal-hal yang harus dicapai dalam OSPEK harus bernilai dan mengakar. Sehingga calon mahasiswa benar-benar menjadi mahasiswa sebagaimana mestinya. Jangan sampai menghasilkan mahasiswa tipe baru yang bukanya menjadi intelektual organik tapi justru sampah organik. Tipe baru itu antara lain adalah sebagai berikut:

1, Chili Stock

Mahasiswa ini didominasi oleh mahasiswi, dimana fungsinya adalah sebagai dedek-dedek imut dengan akses yang cukup mudah dan murah serta cita rasa pedas yang menggoda dan cenderung membuat ketagihan bagi para penikmatnya. Lah ini, yang kita kenal sebagai “cabe-cabean”.

2. Mahasiswa Sebagai Agen Of Sosial Media

Yang ini agak lumayan, kehidupanya didominasi oleh dunia maya mempesona dengan begitu banyak jenis dan fiturnya. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa ini cukup simpel, cukup update status, ganti DP cetar membahana, tentu mereka juga adalah penyumbang membengkaknya biaya hotspot kampus.

3. Mahasiswa “Paling Benar”

Benar disini lepas dari definisi benar pada umumnya. Benar disini adalah benar menurut dirinya sendiri, sehingga menomerduakan logika keilmiahan maupun logika-logika yang lain. Mahasiswa ini memiliki kelebihan dalam nalar kritisnya, banyak banyak bertanya, banyak berdebat. Mahasiswa ini juga memiliki jurus kesaktian yang digunakan dalam kondisi terdesak. Kalo kalah berdebat ya pakainya jurus “seribu kaki”. Belum mau kalah, karena kegigihanya mahasiswa tipikal ini akan terus memperjuangkan pendapatnya, kalo sudah kalah telak melaui logika ya propaganda mengumpulkan masa untuk menjatuhkan lawan bersama-sama.hehe

4. Mahasiswa Bencana

Mahasiswa bencana atau mahasiswa yang sukanya hanya “berakhir pada wacana”. Mahasiswa ini semacam manusia ideal yang kritis, banyak buku terbaca, diskusi disini sana, demo dengan segera, serta sederet keunggulan-keunggulan lainya. Sayang hanya terbatas pada sebuah wacana yang seharusnya mahasiswa sebagai pemuda mampu melakukan banyak hal nyata demi terwujudnya tri dharma perguruan tinggi.

Nah, keempat model mahasiwa ini dapat  dijadikan dasar pertimbangan kurikulum orientasi mahasiswa baru demi terciptanya mahasiswa berkacamata yang matanya benar-benar melihat suatu kebenaran yang nyata, berdasarkan fakta dan data serta berjiwa ksatria.

Salam

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Choirul Huda
Mati Bahagia a la Choirul Huda
Pribumi Indonesia
Kenapa Kanda Anies Dilarang Menggunakan Kata Pribumi?
Permasalahan Pangan Indonesia
Yang Perlu Dicatat Setelah Hari Pangan Berlalu dengan Kesunyian
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah