Pabrik Pencipta Buruh Terdidik

15/02/2018 147 0 0

Ketimbang mendatangkan pekerja asli Belanda yang mahal, pemerintah kolonial memilih mendidik pribumi untuk jadi pekerja. Mereka, pribumi terdidik ini, umumnya mau bekerja dengan upah murah. Ini yang mendorong Belanda membangun sistem pendidikan di tanah-tanah jajahannya. Setidaknya begitu yang saya baca dari buku sejarah.

Bagi rezim kolonial fungsi pendidikan bukan untuk bikin pribumi pintar, tapi sekadar untuk penyuplai tenaga kerja terampil yang murah. Mereka nanti bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau di perusahaan milik orang kolonial. Posisinya bisa sebagai tenaga administratur atau menjadi centeng di perkebunan. Posisi penting dipegang oleh orang kulit putih.

Belanda sekarang sudah pergi, kolonialisme sudah berakhir. Tapi Belanda itu bukan semacam mantan yang kalau pegatan hanya meninggalkan kenangan. Sebagai penjajah yang sudah malang melintang,  Belanda meninggalkan sistem yang mapan. Jadi, Belanda-nya minggat sistem kolonialnya tetap. Lalu sistem tersebut merasuki banyak sektor, termasuk pada sektor pendidikan.

Tradisi mencetak buruh murah melalui sekolah terus dilakukan. Setiap jenjang pendidikan menggambarkan posisinya sendiri di tempat kerja baik itu pemerintahan atau perusahaan.  Jika hanya lulusan sekolah menengah, di pabrik ia hanya menjadi buruh kasar. Jika sarjana minimal jadi supervisor. Jadi pekerjaan seseorang, secara teoritik, bisa ditebak dari jenjang sekolah formalnya.

Lebih lanjut, posisi di tempat kerja akan berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan. Upah buruh kasar lebih kecil ketimbang upah suvervisor. Sementara mandor penghasilannya lebih rendah dari seorang manajer produksi. Untuk menjadi manajer seorang mandor tidak hanya cukup dengan bekerja sebaik mungkin, tapi juga harus sekolah formal lagi. Minimal sampai sarjana.

Jadi hari ini sebagian besar orang meraih gelar sarjana agar mendapat posisi pekerjaan yang lebih baik. Biar nanti kalau sudah lulus bisa kerja jadi Direktur di PT. Mencari Cinta Sejati atau PT. Manchester United misalnya. Atau bisa juga melamar  jadi manajer, misal manajer sosial media.

Maka dalam sistem pendidikan warisan kolonial, hidup seseorang itu seperti menapaki anak tangga. SD, SMP, SMA, S1 dan seterusnya. Semakin tinggi tangga pendidikan yang ditapaki, semakin besar harapan untuk hidup yang lebih baik. Tapi jika hanya mampu menapaki sampai tangga pertama saja, masa depannya … asudahlah.

Inilah latar belakang dari jargon “pendidikan adalah jalan terbaik keluar dari kemiskinan”. Asumsinya orang yang tidak berpendidikan, dalam hal ini pendidikan formal, sudah tentu tidak akan mendapat pekerjaan. Tak punya pekerjaan berarti tak punya penghasilan. Maka untuk bisa punya pekerjaan seseorang harus sekolah sampai jenjang setinggi mungkin agar mendapat pekerjaan dengan posisi tinggi pula.

Tapi masalahnya biaya untuk sampai perguruan tinggi tidak murah. Jangankan yang swasta, perguruan tinggi negeri saja mahal. Mereka yang ekonominya lemah, tentu tidak mampu membayar yang artinya harus siap sedia hidup tanpa pekerjaan yang layak. Sehingga pendidikan kita itu persis seperti anak tangga, SD, SMP, SMA, S1, S2, dan S3.

Mereka yang hanya mampu sekolah sampai jenjang SMP saja misalnya, maka hanya menjadi buruh kasar dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan. Ia akan kesulitan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Kemudian anaknya akan mengulangi sejarah ayahnya dahulu. Jika cucunya lahir, kemungkinan besar akan menjalani hal yang sama seperti kakeknya. Begitu seterusnya, sehingga melahirkan apa yang disebut dengan lingkaran kemiskinan.

Lingkaran kemiskinan ini banyak di desa atau pinggiran kota. Salah satu cara untuk mengakhiri lingkaran kemiskinan itu adalah dengan menyekolahkan generasi muda mereka setinggi mungkin. Tapi tentu saja nanti, setelah ongkos pendidikan murah meriah.

Comments

comments

Tags: Buruh, Mutu Pendidikan, pendidikan Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aef Nandi Setiawan Aef Nandi Setiawan

Founder & GM Indonesian Creative Coop Researcher at Kopkun Institute Vice Secretary at Natural resources department HMI Badko Jateng - DIY

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.