Pager mangkok

Pagar Mangkok Lebih Kuat Daripada Pagar Tembok: Sebuah Oleh-oleh Piknik dari Desa

16/08/2017 207 0 0

Pager mangkok

Kepala jago dalam mangkok jago emang jago bikin aman jago

Terus terang saja, saya adalah orang yang percaya bahwa pikinik bukanlah persoalan mengunjungi suatu tempat-tempat indah. Saya lebih mengimani piknik sebagai sebuah perjalanan pikiran dalam meninjau ulang makna kebahagiaan. Soal hidup dan kehidupan serta segala tetek mbengeknya.

Sungguhpun kita perlu mengunjungi tempat-tempat baru yang indah-indah, itu hanyalah perantara agar pikiran kita dapat menemukan cara menulusuri perjalanan spiritual sebagaiamana disinggung di atas. Tanpa hal tersebut, perjuanganmu naik gunung, berpanas-panasan dengan terik pantai, menulusuri rimba curug, atau teriakanmu saat meluncur dengan roller coaster hanyalah semu belaka. Sesaat setelah komentar instagram susut misalanya, akan stress lagi. Pengen piknik lagi. Tul?

Tentu keyakinan saya soal piknik yang lebih menitikberatkan pada kita mikir hal baru (atau mendapat hal baru) ketimbang mengunjungi tempat baru semakin diperkuat dengan minimnya kepemilikan sangu.

***

Bebarapa waktu lalu saya dan Arigus diajak piknik oleh partner in crimeteman galau, Aef Nandi, mengunjungi tempat senior. Rumahnya ada di pinggiran jalan menuju Baturaden, di pemukiman yang sebenarnya tidak ndesa-ndesa amat. Mulanya kami hanya berniat untuk numpang ngopi gratis sambil nyari-nyari referensi buku pinjaman. Namun sesampainya di sana, setelah beberapa sloki kopi diteguk, obrolan kian lama kian dalam. Meski sebenarnya apa yang kami obrolankan hal-hal sepele saja. Perkara remeh temeh.

Tapi tepat pada pertemuan itu, keyakinan saya mengenai konsep piknik di atas kian dalam. Saya mendapat semacam pencerahan dari salah seorang mentor saya (paling tidak saya yang menganggapnya demikian), Heri Kristanto. Om Heri, begitu saya memanggilnya, berbicara panjang lebar dengan pokok-pokok pikirannya yang menohok, yang membuat kami tidak bereaksi apa-apa kecuali mengangguk seraya mbatin: oh iya ya.

Malam itu, kami memilih tidak menjadikan isu politik sebagai obrolan utama, meski persoalan garam saat itu sedang anget-angetnya. Menjadi penghangat lantai debat nasional, yang medan keributannya memanjang dari twitter hingga instagram. Atau soal kasus e-KTP yang sudah mulai menapaki babak baru: mulai terungkapnya penyiram air keras ke wajah penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Kami justru larut dalam topik yang sebenarnya amat sederhana: berbicara tentang laku masyarakat desa. Orang desa, kata Om Heri, memiliki banyak filosofi yang jika digali bisa dijadikan penjaga bagi kehidupan ala kota yang makin ke sini makin bar-bar saja. Kehidupan yang ancaman kejahatannya sudah tidak mempan diatasi menggunakan hukum. Bahkan beda antara orang jahat dan korban kejahatannya sudah makin kabur saja. Kalau tidak percaya, sekarang coba jawab: siapa yang jahat, maling ayam atau si korban yang kemudian membakar malingnya?

Sikap bar-bar itu jarang kita temui di desa-desa yang situsinya relatif lebih tenang. Satu hal yang kemudian membekas di pikiran saya adalah sebuah pitutur (petuah) dari desa—yang mana oleh orang kota seringkali diabaikan begitu saja.

Orang desa meskipun mendapat stigma kurang pengalaman dan gob[SENSOR]lok, (ah saya tidak tega ngomongnya). Seringkali lebih visioner dan elegan dalam menyikapi realitas kehidupan. Salah satunya yang tertuang pada filosofi//prinsip//ushul//kaidah//diktum: pager mangkok lewih kokoh tinimbang pager tembok. Bahwa memberi (disimbolkan dengan mangkok) lebih aman ketimbang memagari (tembok).

Filosofi ini tergambar jelas pada konsep perumahan ala kampung yang sangat jarang kita temui tembok-tembok tinggi membatasi rumah-rumah warga. Bahkan seringkali kita dapati, ternak seperti ayam, kambing, bahkan sapi, dibiarkan terbuka di luar kandang. Hanya diikat saja. Mereka pula menanam sayur-mayur di sekitar pekarangan rumah yang setiap orang lewat bisa saja menjangkaunya.

Meskipun demikian, amat jarang terjadi kasus kejahatan, seperti misalnya, pencurian. Sebabnya, mereka para penduduk desa, saling menjaga satu sama lain. Orang yang memiliki ayam umpamanya, tidak perlu khawatir ayamnya akan hilang berpindah wajan, meskipun tak dikandang. Rahasianya ada pada pager mangkok tadi.

Ketika satu rumah menyembelih ayam peliharaan, rumah-rumah terdekat akan ikut kecipratan beberapa potong daging sebagai tanda kerukunan. Paling tidak kuahnya dapet lah.

Cara seperti itu ternyata lebih efektif mencegah tindak pencurian. Paling tidak jika dibanding orang kota yang cenderung menembok pekarangannya tinggi-tinggi guna mencegah kejahatan. Tidak cukup sampai disitu, masih di tambah cctv dan satpam malah. Toh nyatanya angka kejahatannya masih tinggi kan.

Kejahatan boleh jadi muncul karena adanya kecumburuan. Tentu sebab adanya ketimpangan ekonomi yang kelewat menganga. Maka tidak ada cara paling ampuh dari menekan kecemburuan selain mengikis kesenjangan tadi. Dengan mendekat dan memberi, meski cuma semangkuk kuah ayam ditambah satu potong kepala berjengger misalnya.

Comments

comments

Tags: filosofi desa, mangkok jago, Pager mangkok, pager tembok Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
fajar

semacam pemuda, suka kopi, berafiliasi dengan PMII

Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.