Pancasila yang Kian Tersisih

Setiap kali pembahasan mengenai Pancasila digulirkan, otak kita selalu merespon dengan menghubungkannya pada persatuan. Tentang kebhinekaan. Seolah pancasila hanya memiliki makna tunggal: pemersatu. Padahal sebagai landasan negara, Pancasila semestinya menjiwai banyak hal.

Keberagaman kita sebagai sebuah bangsa adalah keniscayaan. Sudah itu final. Tentang beda suku, agama, ras adalah hal yang diluar kuasa manusia. Adalah kekonyolan kalau kita mempertentangkannya. Seandainya nalar kita waras, kita bahkan tak perlu Pancasila untuk menghormati perbedaan SARA. Pancasila mestinya kita ajak untuk mengurus hal-hal yang masih menjadi ranahnya manusia, seperti ekonomi, pendidikan, politik, dan sebagainya.

Pancasila adalah dasar berpijak ekonomi kita. Menjadi landasan berpikir bagaimana jaminan perut kenyang dapat dimiliki oleh semua penduduk. Menjadi pemberi rasa aman, bahwa mereka yang miskin akan diberdayakan bukan digusur. Namun nyatanya, ekonomi kita sama sekali tersisih dari diskurus mengenai Pancasila. Dengan mudah bisa seksama kita saksikan, pengusaha menyuap aparatus negara untuk memuluskan proyeknya, distribusi ekonomi nasional hanya berkutat pada penguasa dan kroni-kroninya.

Maka tak heran ketimpangan ekonomi Indonesia termasuk yang paling buruk di dunia. Berdasarkan survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, 49,3 persen kekayaan nasional hanya dikuasai oleh 1 persen penduduk saja. Atas “prestasi” itu kita berada di peringkat keempat sebagai negara paling timpang di dunia. Ketimpangan ekonomi ini juga diperumit dengan ketimpangan sosial, kelas, dan akses yang pada akhirnya membuat sebagian penduduknya menjadi apa yang dinamai: ekses dari pembangunan.

Dengan Pancasila sebagai pedoman, fakta itu kelewat menyakitkan. Cita-cita adiluhung keadilan sosial bagi seluruh rakyat justru dijalankan dengan ketamakan dan kerakusan segelintir orang yang berada di lingkaran kekuasaan.

Hal senada (melenceng dari Pancasila) juga terjadi dalam pendidikan. Pendidikan kita hari amat kapitalistik, jauh dari nilai-nilai Pancasila. Pendidikan lari jauh dari esensinya: memartabatkan manusia. Pendidikan, yang mestinya menjadi upaya meningkatkan taraf hidup, justru abai pada  yang miskin dan bodoh. Tak ada akses bagi mereka, sebab jalur mandiri butuh biaya, sementara beasiswa hanya untuk orang pintar. Padahal merekalah yang mustinya paling butuh pendidikan tinggi.

Politik kita apalagi. Pancasila hanya dijadikan mantra peraup suara saat kampanye. Atau senjata untuk menyerang lawan politiknya. Sementara nilai-nilai Pancasila terserak begitu saja. Politik kita hari ini adalah politik oligarki untuk kepentingan golongan semata. Adapun pembangunan dan manfaat lain yang dirasakan masyarakat, hanyalah efek sampingnya. Dan sungguhpun ada perpecahan di akar rumput demi meraih kursi kekuasaan, para politikus kita akan biasa-biasa saja. Bahkan tega menungganinya. Sebab tujuan utamanya adalah kekuasaan.

Oleh karenanya jika kita harus menuntut ditegakkannya Pancasila, itu bukan hanya demi kesatuan atas kebhinekaan. Melainkan juga demi ditegakkannya ekonomi berimbang, pendidikan berkeadilan, politik berkeadaban, dan sebagainya. Dengan begitu, Pancasila menjadi operatif sebagai dasar negara yang semakmur-makmurnya, seadil-adilnya.

 

 

 

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
jalan dan pahlawan
Mengenang Pahlawan dengan Nama Jalan
Jangan Bersedih
Jangan Bersedih, Ketawain Aja Keleus !
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga