Panduan Agar Cepat Kaya dengan Jualan “Tuhan”

Menjual agama

boro-boro mabrur, mabur aja engga

Kamu punya bisnis, tapi tidak berkembang? Caranya gampang. Cukup jual Tuhan. Lho,  Tuhan ko di jual? Jangan sok polos begitu. Lihat saja sekarang. Kenyataannya bisnis agama sedang naik daun.  Sepasang suami istri bahkan membuka usaha jasa untuk mengibadahkan puluhan ribu orang ke Mekkah. Sebuah ritus ibadah yang digadang-gadang wajib bagi yang mampu.

Di saat orang kaya baru mulai tumbuh bak jamur di musim hujan, sementara hampir semua penganutnya berharap bisa menjalankan seluruh total kewajiban ibadah yang ada lima. Maka umroh menjadi ibadah tambahan horang kaya. Meskipun tetangga ada yang masih kelaparan ya peduli amat. Ya, mau bagaimana,  jaminannya katanya surge e. Ada 72 bidadari yang menanti di sana. Enak tho?

Apalah biaya yang cuma 14 jeti itu. Bahkan rakyat jelata sekalipun, pasti dibuat girang bukan kepalang. Mengingat biayanya lebih murah hampir 2x lipat dibandingkan biaya umroh kantor pemerintah yang membandrol harga Rp 25.000.000.  Sayangnya, bukannya untung malah bunting. Eh, buntung. Para Jemaah harus kembali menggantungkan harapan yang dulunya di depan mata sekarang sudah jauh ke langit ketujuh.

Yang lebih menggemaskan, setelah uang jamaah habis untuk hura-hura, mereka berpikir pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengembalikan uangnya. Jelas itu sesat. Pemerintah hanya bisa meregulasi agar sektor swasata yang membuat empunya seperti benar-benar di surga itu untuk berhenti beroperasi. Pihak kepolisian yang harus segera menyelesaikan masalah, melihat bukti sudah nyolok mata sekali.

Saya tidak bisa mengerti, bagaimana pasutri yang serasa dunia sudah digenggaman mereka ini tega menyakiti puluhan ribu orang yang berniat ibadah. Belum lagi ada saja orang-orang yang mendukung mereka seperti “sudah maafkan saja. Toh, mereka sudah bertobat. Semoga istiqomah ya pakai kerudungnya!” Hello, sampeyan-sampeyan ini lahir dari kendi?

Memangnya dengan dia pakai kerudung terus sekarang bercadar duit-duit korban bisa langsung ada di bawah bantal dan masalah selesai. Tidak! Semua harus diproses hukum sampai akarnya supaya kasus seperti ini tidak terulang lagi. Penipuan, dengan mengatasnamakan apapun, adalah tindak kejatahan.

Untuk kamu yang enggan menanggung resiko dengan menipu atas nama ibadah, bisa memanfaatkan agama untuk kepentingan lain, politik. Masih ingat pilkada kota nganu, siapa yang menang? Orang yang pengikutnya ngumpruk soal Tuhan. Siapapun yang terpilih sebenarnya tidak jadi soal karena setiap pemimpin pasti ada plus minusnya. Tapi, kadang saya suka gagal paham kenapa agama yang doktinnya tidak pernah boleh dikritik bisa diikutsertakan dalam politik. Boleh tidak kalau saya berpandangan, dari zaman baheula agama –bisa jadi- bisa ditunggangi dan menjadikannya senjata untuk memperluas kekuasaan.

Tapi jika kamu tidak suka dengan politik, kamu bisa mengajak agama berbisnis pakaian. Caranya gampang, cukup dilabeli halal pasti orang-orang berduyun-duyun datang. Atau bisa juga makanan. Jangan lupa, bilang juga kalau warung sebelah jualannya dicampur minyak babi atau menyembelih ayam tanpa mengucap bismillah. Dijamin makanan yang dijual bakal laris manis. Nggak bakal rugi.

Belum lagi kalau bisa menggabungkan bisnis makanan dan pakaian sekaligus. Itu akan lebih untung lagi. Dari zaman “wudel ketok” sampai “satria ninja hitam” hadir, model pakaian hanyalah akibat kerja pasar yang melihat trend terbaru. Nah karena sekarang bintangnya adalah agama, mau tidak mau pasar pun harus mengikuti. Sebenernya contohnya nggak perlu jauh-jauh, tulisan ini juga bawa-bawa agama. Bedanya yang akan saya dapatkan adalah ini:

Kafir lu! Agama itu sempurna, manusia itu tempatnya salah!”

 Lha, situ sadar. Kamu, Saya, adalah manusia. Tidak sempurna!

About The Author

Reply

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
Kebohongan-Kebohongan Orwell
Menilik Perjalanan Secangkir Kopi
Sekuler, Akar Istilah dan Perdebatan-perdebatan yang Menyertainya
Syarat Menikah itu Ada Pasangan, Mblo!
Cara Mudah Move On dari Mantan yang Sudah Kadung Dicintai ala Sigmund Freud
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
Memo untuk Washington
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif