Paradoks di Hari Per-empu-an Internasional

08/03/2018 324 0 0

Banjarnegara- Namanya Misno, dia salah satu teman di waktu saya kecil, kami sepantaran, bahkan dilahirkan pada tahun yang sama, sampai sekarang, kami pun masih bersahabat. Ia anak kedua di keluarganya.

Misno kini sudah harus didewasakan dengan kehidupan yang banal dan binal. Saat saya balik ke rumah, kami terkadang bertemu, dan bermain futsal bersama saban Sabtu malam. Ia bekerja sehari-hari secara serabutan, terkadang ia membantu belanja emaknya ke pasar, ia mencari kayu bakar demi emaknya yang pedagang jajanan pasar, ia juga membantu memberi pakan dan menceboki sapi yang dipelihara bapaknya.

Pada 22 Januari 2005, sehari selepas Ied Adha, Misno terlihat bingung, ia sangat bingung bahkan. Ia gusar. Ia harusnya berbahagia, ada berbagai macam olahan kambing yang sering ia tunggu, apalagi bapaknya habis berkurban, seekor kambing Jawa Randu.

Emaknya tiba-tiba kelojotan, perut emak Misno bergoyang-goyang, bapaknya kalang kabut, kesana kemari. Bapaknya lantas mencari dukun beranak, tak lama pula Mbak Surtiyah datang, ia baru saja diangkat menjadi bidan desa, ia disebut mbak karena waktu itu masih single. Waktu itu praktik dukun beranak tidak seketat sekarang. Dan belum ada sanksi.

Dukun beranak dan bapaknya datang, ia melipir ke teras tetangganya, saya menemaninya waktu itu. Ia mengayun-ayunkan kakinya. Ia bingung.

Tak lama, terdengar suara tangis bayi, azan pun dikumandangkan.

“Saya memiliki adik dan saya sekarang menjadi kakak,” katanya pada saya.

Ia bergegas masuk ke rumahnya, ia lalu keluar, ia kemudian duduk lagi di sebelah saya.

“Adik saya perempuan,” katanya.

Beberapa tahun sebelumnya, Misno dan teman-teman perempuan sebayanya suka mandi di sungai, Kali Sapi namanya. Ia sebuah sungai kecil yang mengalir di sekitar perbatasan kecamatan Sempor (Kebumen) dan Purwanegara (Banjarnegara), alirannya terhenti di Klampok, melebur bersama Serayu.

Ia memiliki pertanyaan yang tak bisa ia jawab sendiri dan tak mungkin untuk ditanyakan, pertanyaannya seperti ini, “Mengapa perempuan tidak boleh kencing sembari berdiri?”

Suatu sore, sekira setahun yang lalu, Misno menemukan sebuah artikel di internet, ia cukup melek teknologi untuk ukuran pemuda kampung, ia menyorongkannya kepada saya, ia bilang bahwa ia tidak bisa berbahasa Inggris, jadilah saya penerjemah partikelir untuknya.

Saya kaget setelah menerima ponselnya, tulisan itu berjudul Indonesia, Mastercard in Washingtons Hand, dan ditulis oleh Noam Chomsky. Saya ingat dengan Chomsky saat saya mendapat materi Pengantar Linguistik, saya terheran dan bertanya sendiri, “Bagaimana mungkin bocah macam Misno menemukan tulisan beginian?” pikir saya.

Berikut saya tulis potongan paragraf yang saya ingat, saat menjadi interpreter untuk Misno,

Pada 20 Mei 1998, Sesneg USA, Madeleine Albright, memanggil Presiden Indonesia, Suharto untuk mengundurkan diri dan menyediakan ‘sebuah transisi demokrasi’. Beberapa jam sesudahnya, Suharto menyerahkan otoritas formal kepada wakilnya, BJ Habibie. Kedua peristiwa itu bukan sebab akibat yang sepele. Bagaimanapun, mereka memberikan anasir, hubungan yang sudah dibangun lebih dari setengah abad.

Empat bulan sebelumnya, sebuah publikasi Australia mewartakan bahwa sembari Direktur IMF, Michel Camdessus berdiri di depan Suharto dengan melipatsilangkan tangan dengan gaya kolonial sebenar-benarnya, Suharto menandatangani perjanjian baru dengan IMF.

Memasuki millenium baru, demokrasi yang dimaksud beroleh wajah, terselip diantaranya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Produk legislasi tersebut mengikuti petunjuk PBB/UN, soal kuota 30% perempuan di parlemen demi demokrasi ramah gender, dan berimbas luas atas kehidupan perempuan yang lebih baik. Faktanya tidak demikian, kuota tersebut tak pernah tercapai.

Pemilu 2014 memunculkan, 97 dari 463 kursi atau 20,95 %. Jokowi mencoba mengakomodasi itu, ia memiliki 7 menteri perempuan, dari 34 pos atau 20,5 % selepas Khofifah maju ke Pilkada Jatim, pun itu di luar pejabat setingkat menteri.

Saya tiba-tiba empati dengan Misno, mungkin ia merasa bahwa ia melihat ibunya sendiri terbelenggu dunia yang patriarkal dan feodal, di sisi lain ia takut adiknya terpasung dunia patriarkal dan industrial.

Saya secara tiba-tiba pula ingat ibu di rumah yang sedang membuat lontong dan bala-bala untuk pesanan arisan petang nanti, dan nenek yang sedang mengupas singkong untuk peyeum yang dijual lusa.

Saya ingin mengambil ponsel, menelpon dengan multi penerima, menelpon ibu dan nenek. Mengeja pelan dan berkata dengan singkat kepada mereka, “Selamat Hari Per-empu-an Internasional… Ibu dan nenek…”

Saya urungkan niat itu, bukan perihal ibu dan nenek saya tidak mengerti apa itu Hari Per-empu-an Internasional. Saya ingat ini Indonesia, bukan Internasional.

Comments

comments

Tags: Hari Perempuan Internasioal, Noam Chomsky, perempuan Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Related Posts