Pasal Santet: Jalan Panjang Indonesia Memenjarakan Jin

Pasal Santet – Membicarakan orang Indonesia rasanya kurang lengkap jika tak menyinggung  dunia mistisnya. Khasanah perhantuan tanah air adalah yang paling lengkap. Diperkirakan 6 dari 10 spesies hantu dunia ada di Indonesia. Jika Amerika hanya berhasil mengidentifikasi Zombie, Annabel, dan Valak, China malah hanya punya Vampir. Tapi Indonesia punya begitu ragam variasi hantu.

Di jajaran hantu kelas atas ada nama-nama seperti Pocong, Kuntilanak, Suster Ngesot hingga Wewe Gombel. Untuk jajaran setan kelas menengah kita memiliki stok yang lebih banyak lagi. Dari yang kanak-kanak seperti Tuyul dan mba Yul hingga yang sudah renta seperti nenek gayung dan kakek cangkul mengisi level ini. Sementara di kelas low entry ada nama Genderwo, banaspati, dan masih banyak lagi.

Sudah sejak dulu memang masyarakat Indonesia dikenal dengan dunia kleniknya. Praktek perdukunan di berbagai wilayah dengan beragam variasinya telah mendapat tempat tersendiri bagi sebagian kalangan masyarakat. Ditengah berbagai ketidakpastian dan kondisi ekonomi yang serba sulit, praktek perdukunan seolah memberikan jalan lain yang murah dan guaranted.

Berbagai permasalah seperti ekonomi, kesehatan, hingga asmara bisa ditempuh dengan laku mistik ini. Bagi sebagian masyarakat, ini tidak logis. Karena memang tidak masuk akal, umpamanya, membuat gadis yang kita sukai bertekuk lutut hanya dengan satu rapalan mantra. Tapi pelet selalu punya caranya untuk membantah logika.

Dan dari semua cabang perklenikan, yang paling fenomenal tentu santet. Mendengar namanya saja mungkin kita sudah ngeper. Santet menjadi praksis perdukunan yang eksis dari masa ke masa. Ia berhasil servive sejak jaman kerajaan hindu hingga jaman mars Perindo. Kehadirannya di tengah masyarakat sukses menghadirkan teror tersendiri.

Bagaimana tidak, dengan santet, tubuh yang segar bugar bisa mendadak sakit dengan jubalan paku, silet, atau semacamnya di dalam tubuh. Akal rasional tidak dapat menjangkau itu. Bagaimana mungkin benda-benda tajam bisa masuk ke tubuh tanpa melukai kulit luar, mengingat membayangkan korban menelannya sendiri itu terlalu bodoh. Tapi santet mampu mengerjakannya dengan rapi. Dan tentu saja; tetap misterius.

Sebagai bangsa yang oleh Tan Malaka disebut memiliki logika mistika, orang Indonesia sudah lama bisa berdampingan dengan hal-hal mistis. Sejak jaman dulu, santet misalnya, kerap digunakan untuk menyelesaikan sengketa antar penduduk. Lebih cepat dan taktis. Mereka bak memiliki satuan Kopassus masing-masing; cepat, senyap, dan tanpa jejak.

Tetapi harus mengakui bahwa segala rupa tentang mistika tidak selalu negatif. Jika digunakan secara arif, kemampuan supranatural ini juga bisa bermanfaat. Paling tidak madhorotnya kecil. Kisah-kisah perlawanan rakyat melawan penjajah misalnya, ia takkan lekang dari kisah mistis dibelakangnya. Ilmu kebal peluru, bisa hidup kembali, hingga membunuh penjajah dengan sekali sapuan tangan adalah hal yang sering kita dengar dilakukan pejuang rakyat.

Atau misalnya pengobatan alternatif. Ditengah ketidakjelasan program BPJS, KIS, dan semrawutnya tata kelola dunia kesehatan tanah air, perdukunan memberikan jawabnya. Masih ingat dukun cilik Ponari? Atau sebutlah dukun setengah artis macam Ki Joko Bodo, mereka adalah contoh kecil dari hingar-bingar dunia perdukunan nusantara. Terlepas dari pro-kontra dan ampuh tidaknya, pengobatan ala dukun masih diminati sebagian masyarakat.

Hal seperti diuraikan di ataslah yang membuat DPR kita ketar-ketir. Meski sempat menuai berbagai protes dan interupsi, nyatanya DPR bersama pemerintah sepakat memasukkan pasal santet ke dalam draft RUU KUHP. Ini merupakan terobosan hukum di Indonesia yang bukan hanya lintas zaman, tetapi juga lintas dimensi.

Pada RUU itu disebutkan bahwa sesiapa yang menyatakan punya kemampuan santet dapat dipenjara selama maksimal lima tahun. Dan jika menjadikan tukang santet sebagai profesi maka bisa ditambah sepertiganya. Begini bunyinya:

“Setiap orang yang menyatakan dirinya mempunyai kekuatan gaib, memberitahukan harapan, menawarkan, atau memberikan bantuan jasa kepada orang lain bahwa karena perbuatannya dapat menimbulkan penyakit, kematian, penderitaan mental atau fisik seseorang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV”

Sekilas pasal tersebut biasa-biasa saja, tapi jika dicermati lebih lanjut, implikasinya sangat luas dan ruwet. Begini, pada banyak kasus di banyak tempat, tidak dijumpai satu orangpun yang woro-woro menyatakan dirinya bisa nyantet. Paling-paling diketahui dari desas-desus yang berkembang liar di masyarakat sekitarnya. Itupun akan sangat sulit dibuktikan, mengingat santet melibatkan hal-hal yang tak kasat mata.

Lagi pula, kita bisa memprediksi, akan sangat sedikit orang yang punya nyali untuk menjadi saksi bahwa si anu adalah tukang santet. Selain nyari penyakit, menjadi saksi yang berpotensi memberatkan si tukang santet bisa berbalik pidana atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik. Sekali lagi, itu karena kemampuan menyantet cukup sulit untuk dibuktikan, dan sang dukun bisa menuntut balik.

Belum lagi, hakim yang juga akan mengalami nasib serupa. Hakim tentu tak bisa mengandalkan intuisi terus menerus dalam memutuskan setiap perkara menyoal pasal santet ini. Salah-salah perut sang hakim bisa penuh paku, palu, arit, atau bahkan meja sidang!

Selain itu, hampir bisa dipastikan setiap persidangan kasus santet akan melibatkan saksi ahli. Ini justru kontraporduktif dengan semangat DPR mengikis praktek klenik. Karena munculnya saksi ahli dalam perkara santet, seolah-olah mengesankan bahwa majelis tunduk pada hal-hal klenik.

Akan tetapi bukan berarti penambahan pasal santet dalam draft KUHP ini mutlak keliru. Secara pribadi justru saya berharap agar pasal ini dikembangkan lebih luas guna menekan tindak kejahatan lintas dimensi ini. Bahkan ke depan saya berharap, Jin dan makhluk astral lain bisa dipenjara!

Hal tersebut amat wajar. Mengingat dalam UU no 35 tahun 2009 tentang narkoba misalnya, orang yang berperan sebagai kurir juga bisa dipidana sampai maksimal 20 tahun. Dalam konteks santet, jinlah yang berperan sebagai “kurir”, sehingga sangat adil jika dijerat dengan pasal serupa.

Caranya gimana? Ya tanya DPR to!

Leave a Comment

Datasiana Reportasiana Swarasiana Translasiana
kulon progo
Pembangunisme dan Mereka yang Terusir dari Tanahnya Sendiri
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
karangan bunga fadli zon
Meniru Hidup Hemat dan Sederhana dari Fadli Zon
Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Yang Menyebalkan di Usia 24 Bagi Seorang Perempuan
Larangan Bersedih Bagi Jomblo di Republik Ngapak
Doa Pilihan untuk Jomblo
Lima Do’a Pilihan untuk Jomblo di Malam Takbiran
4 Gaya dalam Mencintai
4 gaya dalam mencintai yang Dilakukan Orang Modern ini
Lambang_PKI
Kebangkitan PKI, Diskusi, dan Musuh-musuh Imajiner Kita
Kesadaran magis
Dari Paradigma Reformasi ke Transformasi: Peta Kesadaran Freire
Renungan Calon Sarjana
Dari Bung Kris, untuk Calon Sarjana
sufi dan surga
Pesan dari Para Sufi tentang Amal Ibadah dan Surga
Malam Jum'at Sunnah Rasul
Malam Jum’at dan Sunnah Rasul bagi Jomblo
hijrah
Spirit Hijrah yang (bisa) Salah Arah
wanita zaman jahiliyah
Fakta Lain Seputar Derajat Wanita pada Zaman Jahiliyah dan Adab pada Keluarga Rasulallah
para pemain dan kru film mata jiwa
Melihat Lebih Jernih Kehidupan Kelas Dua Kota Jakarta dengan Mata Jiwa
kegiatan temu pendidik
Inspirasi itu Mengalir dari Wadas Kelir
guru merdeka belajar
“ Mudik”, Merangkai Niat Baik dengan Semangat Kolaboratif
Pustaka Warga
Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga