Pribumisasi Islam

Gus Dur dan Pribumisasi Islam

03/08/2017 249 0 0

gusdur-dan-pribumisasi-islam

Gusdur
modified by: esensiana digi studios

Semenjak Gus Dur berpulang pada 30 Desember 2009 silam, kita kehilangan sosok ulama, cendekia sekaligus politikus yang cerdik nan jenaka. Beliau memberi teladan bagaimana menjadi seorang muslim yang ramah, lembut dan cinta damai. Sumbangsih pemikiran dalam bentuk tulisan atau celoteh jenaka telah mewarnai kehidupan beragama dan bernegara di nusantara. Gus Dur serupa Semar dalam kisah pewayangan, humoris, kritis, sekaligus jenaka.

Gus Dur adalah sosok unik sekaligus kontroversial. Salah satu gagasan yang pernah memicu perdebatan adalah wacana pribumisasi Islam pada era 1980-an. Gagasan yang menjawab wacana purifikasi Islam, yang getol melakukan proyek arabisme dan formalisasi Islam diseluruh dunia, telah memancing polemik hebat dan perdebatan sengit dikalangan intelektual. Bahkan, pada tahun 1989 sebanyak 200 kyai berkumpul untuk “memusuhi” Gus Dur.

Wacana pribumisasi Islam sebenarnya bukan wacana baru. Gus Dur hanya meneruskan tradisi dakwah yang digunakan walisongo tempo dulu. Keberhasilan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga menggunakan gamelan dan wayang kulit, yang kental dengan estetika Hindu, sebagai media dakwah adalah bukti ajaran agama bisa dikontekstualisakan dengan budaya tanpa mengurangi substansi dan esensi dari agama itu sendiri.

Karena bagi Gus dur, Islam adalah ajaran normatif dari Tuhan yang kompatibel untuk budaya apapun tanpa harus mencerabut identitas suatu budaya. Untuk menjadi seorang muslim yang taat,misalnya, Anda tidak perlu bergamis dan bersurban. Tidak perlu memaksakan diri pakai “akhi” atau “antum” serta terminologi berbau arab lainnya. Karena pakaian dan bahasa adalah tampak luar, tidak punya korelasi dengan kualitas iman seseorang.

Anda bisa bayangkan andai para wali tempo dulu melakukan purifikasi Islam. Misalnya, mengganti jangkep dengan gamis, blangkon dengan surban, atau mengganti ternak sapi dengan onta. Yang terjadi, bukan misi dakwah yang tersampaikan tapi justru keributan. Kemampuan walisongo dalam mengkontekstualisasikan Islam membuat Islam bisa diterima di Nusantara tanpa menimbulkan banyak ketegangan.

Sehingga dalam konteks kekinian, pribumisasi Islam adalah kritik langsung atas purifikasi Islam yang berupaya melakukan formalisasi agama serta proyek arabisme diseluruh komunitas Islam di dunia. Bagi Gus Dur, formalisme agama bisa bikin Islam kehilangan relevansi dan kering susbtansi. Proyek arabisme akan membuat muslim Indonesia tercerabut dari akar budayanya.

Namun pribumisasi Islam jangan dipahami sebagai upaya mengakomodir norma demi budaya, tapi sebagai proses dimana norma agama mampu menampung aspirasi budaya dengan tetap bersandar pada nass, usûl al-fiqh dan qawâ‘id al-fiqh. Sehingga wahyu dapat dipahami dan diaplikasikan secara kontekstual. Bahkan pembauran Islam dan budaya tidak boleh terjadi.

Artinya Al – Qur’an tetap berbahasa arab. Tidak perlu digubah kedalam bahasa Sunda, Jawa atau bugis, kecuali terjemahan untuk memudahkan. Bahasa sholat tetap harus bahasa arab karena itu adalah dogma, jangan diubah. Jadi pribumisasi Islam dilakukan hanya dalam manifestasi kehidupan belaka bukan pada inti keimanan dan peribadatan formal atau ibadah kanonik lainnya.

Wacana pribumisasi Islam adalah upaya melepaskan diri dari relasi kuasa budaya Arab yang sangat dominan melekat dalam Islam. Orang awam susah membedakan mana ajaran substansi Islam mana budaya Arab. Pendeknya relasi yang tidak setara membuat Arab itu identik dengan Islam. Mengkritik Arab sama dengan mengkritik Islam.

Kondisi semacam ini menunjukan adanya relasi kuasa yang tidak setara. Budaya Arab lebih mendominasi dalam ruang kehidupan beragama ketimbang budaya kita sendiri. Tujuan pribumisasi bukan karena anti budaya Arab, tapi seperti kata Gus Dur, kita saat ini belum butuhn budaya asal timur tengah, karena kita punya budaya sendiri yang mampu menampilan Islam yang lembut dan ramah. []

Comments

comments

Tags: GUSDUR, Islam Nusantara, Islam Toleran, Pemikiran gusdur, Pribumisasi Islam Categories: Swarasiana
share TWEET PIN IT SHARE share share
Aef Nandi Setiawan Aef Nandi Setiawan

Founder & GM Indonesian Creative Coop Researcher at Kopkun Institute Vice Secretary at Natural resources department HMI Badko Jateng - DIY

Related Posts
Leave a reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.